Semangat Otsus Untuk Membangun Pasar Mama Papua

Jayapura (30/4) — Pembangunan pasar mama-mama Papua yang direncanakan akan dibangun di lokasi Damri merupakan wujud dari semangat Otonomi Khusus bagi masyarakat asli Papua.

Kepala Bidang Cipta Karya dan Air Bersih Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Papua, Yan Ukago, di Jayapura, Senin (30/4), mengatakan, pembangunan pasar mama Papua, secara perencanaan permanen sudah selesai. Dimana desain dan miniaturnya sudah selesai yang rencananya akan dibangun di lokasi Perum Damri Jalan Percetakan.

“Desain gedung sudah ada, dimana gedung pasar mama-mama Papua ini akan dibangun sebanyak enam lantai. Hanya kendala adalah masalah lokasi. Dari segi teknis tidak ada alternative lain, artinya hanya dapat dibangun di Damri. Jika harus pindah lokasi desainnya harus dirubah lagi, dan harus dianggarkan dana lagi untuk didesain ulang,” katanya.

Mengenai lokasi, ujarnya, pihak Damri sebenarnya sudah menyetujui, namun ada wacana kalau bisa Pemerintah Provinsi Papua dapat menyediakan lokasi baru untuk Damri.

“Damri sifatnya pelayanan untuk mencari pendapatan. Jadi paling tidak Damri harus melihat lokasi mana yang paling cocok, misalnya lokasi pasar yang terbakar di Abepura Jalan Gerilyawan atau di tanah Pemda yang terletak di Kotaraja dalam dekat kolam renang yang sudah tidak digunakan,” tukasnya.

Menurut dia, jika melihat di wilayah Barat, memang Damri tidak pernah berada di tengah Kota, tetapi selalu di luar Kota. “Saya lihat Damri jasanya terhadap orang Papua sudah banyak, sebelum angkutan lain masuk Damri ini dapat sampai ke desa-desa. Jadi saya kira jika ada pemikiran untuk membangun Gedung Damri baru, itu hal yang sangat wajar,” tandasnya.

Dia menjelaskan, enam lantai pasar mama Papua ini, pertimbangannnya lantai pertama akan diarahkan untuk pendapatan (income) guna pemeliharaan gedung, misalnya dengan menempatkan supermarket seperti Galael dan lainnya. “Jadi jangan ada pemikiran jika mengunjungi pasar mama Papua hanya dapat belanja buah atau sayur tetapi masyarakat juga dapat belanja sembako. Semua itu bertujuan untuk menarik pengunjung,” tambahnya.

Selain itu, lanjutnya, desain pasar tidak sepenuhnya untuk pasar mama Papua, tetapi dapat juga digunakan atau dimanfaatkan sebagai gedung parkir.

Jadi gedung ini tersedia tempat untuk parkir sama pasar mama Papua. Selama ini kan identiknya hanya pasar mama Papua, namun selama ini kita melihat kemacetan di Kota Jayapura sudah sangat macet, sehingga kita bisa gunakan gedung ini sebagai lahan parkir, dimana secara optimal dapat menampung hingga 800 kendaraan. Jadi jika pasar ini sudah selesai, semua mama-mama Papua walaupun berada di lantai tiga atau empat merasa berada di lantai satu, karena kita padukan konsep desain antara pasar dengan parkiran. Sementara untuk lantai enam disediakan untuk para seniman atau bank.

“Pasar ini merupakan semangat dari otonomi khusus, jadi kita berharap apabila pembangunannya berjalan baik dapat menjadi percontohan untuk kawasan Asia Pasifik. Pasar ini jika dibangun secara terus menerus dapat selesai dalam waktu tiga setengah tahun jika tanpa hambatan seperti masalah dana,” katanya.

Menyinggung soal dana yang sudah disediakan Pemerintah Provinsi Papua, jelas Yan Ukago, dana sebesar Rp10 miliar akan digunakan untuk tahap awal, seperti pemindahan Damri dan sebagainya. Sebab pembangunan pasar mama Papua tidak dapat kita mulai apabila Damri belum pindah.

“Tergantung dari pemerintah nanti, apakah dana Rp10 miliar itu digunakan untuk membangun pasar atau Damri. Kita menunggu kebijakan dari atasan tapi intinya Rp10 miliar belum dapat bangun pasar,” katanya. (Jubi/Alex)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *