Pembangunan Infrastruktur Di Lanny Jaya Temui Banyak Kendala

Jayapura, (30/5)—Pembangunan sarana infrastruktur khususnya jalan dan jembatan di Kabuparten Lanny Jaya, Papua, masih menemui banyak kendala. Hal itu dikarenakan minimnya dana.

Bupati Kabupaten Lanny Jaya, Befa Jigibalom, kepada wartawan, di Jayapura, Rabu (30/5), mengatakan, jika ingin membangun sebuah jalan dan harus menembus hutan dan berbatuan memerlukan dana sebesar Rp2.5 miliar per kilometer.

“Jadi bisa dibayangkan kalau dana yang ada hanya Rp10 milliar saja, itu baru bisa mencapai lima kilometer saja,” katanya.

Dia menjelaskan, saat ini Pemda Lanny Jaya untuk menembus keterisolasian antar distrik dan kampung ada 300 km dari arah utara, selatan, timur, barat dan menghubungkan antara distrik dan ibukota kabupaten.

“Jika melihat keadaan saat ini, dalam tempo lima tahun saja sangat tidak mungkin ruas jalan 300 km itu dapat terealisasi, karena tidak ada dana. Hal ini dikarenakan untuk tahun ini, dana infrastruktur dari pusat tidak ada untuk seluruh kabupaten di Indonesia. Akibat kasus di panitia anggaran Dana DPID DPR RI,” ujarnya.

Dengan kondisi sulit ini, ujarnya, selayaknya untuk membangun infrastruktur jalan setiap satu kilometer, membutuhkan dana tergantung pada tingkat kesulitannya.

Misalnya rimbanya banyak, bisa butuh dana Rp2 milliar hanya untuk satu kilometer saja. “Ini kan dihitung juga dari cost biaya, pergi untuk proses input misalnya minyak, bahan bakar, itu semua diperhitungkan, jadi cost nya seperti itu. Dibandingkan dengan wilayah pesisir, mungkin hanya membutuhkan dana infrastruktur pada kisaran Rp. 500 – 700 juta saja, sudah bisa dapat satu kilometer,” tambahnya.

Dikatakannya, untuk kebutuhan ini, pemda mengkalkulasikan dana yang dibutuhkan sepanjang 300 km yang harus dibangun selama puluhan tahun.

“Ini baru bicara jalan, belum bicara jembatan kecil dan besar, drainase serta pengaspalan. Ini baru bicara mau bongkar lahan baru untuk jalan saja kita harus sediakan dana milliaran rupiah. Itulah kondisi kami,” katanya.

Menurut dia, saat ini yang sudah terealisasi di Lani Jaya, adalah jalan dari ibukota sampai ke Wamena sudah ada dan dibangun lama. Saat ini, hanya tinggal dari ibukota dan distrik–distrik yang jauh.

“Kalau di kilokan dengan uang bisa mencapai Rp1.1 milliar. Namun itu tergantung struktur tanah dan hutan. Sebab makin banyak hutan dan bebatuan, maka biayanya juga besar,” tandasnya.

Befa mengatakan, saat ini ada tujuh distrik yang sudah bisa dilalui kendaraan dan tinggal tiga distrik yang belum ada akses jalan. Terutama di Distrik Balingga dan Kuyawage. Untuk Distrik Boga dan Dimba sudah ada ruas jalan, tetapi hanya di pinggir jalan saja dan belum masuk ke kampung– kampung.

Misalnya di Beoga itu bila masuk lagi ke tengah, ke daerah yang cukup terisolasi. Tahun ini kalau sudah mendekati titik ruas jalan sudah mencukupi.

Dikatakannya, untuk mencukupi anggaran infrastrukur, Pemda Lanny Jaya mensiasatinya dengan mensuite dana yang ada di kas APBD untuk bangun infrastruktur.

“Dana intrastruktur yang ada saat ini hampir Rp70 milliar dan yang hanya dipakai pada tingkat ibukota yang masih perlu banyak pembenahan. Itu bukan dana pusat. Tapi dari dana daerah yang kita pangkas dari sektor lain untuk itu,” katanya. (Jubi/Alex)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *