Sombuk: Penembakan Warga Jerman Terkait Permintaan Akses Masuk ke Papua

Jayapura (31/5)—Pasca penembakan warga asing di Pantai Base G Kelurahan Tanjung Ria, Kota Jayapura-Papua, Selasa, (29/5) yang menyebabkan Dietman Pieper (55 tahun), ditembak orang tak dikenal (OTK), menimbulkan banyak analisa pasca penembakan itu.

 

Direktur Kamasan Institut Papua, Ir. Musa Sombuk, Kamis, (30/5) dari Australia mengatakan, terkait penembakan itu, ada kaitan langsung dengan rekomendasi human raight yang meminta untuk membuka akses untuk pekerja HAM masuk ke Indonesia-Papua.

“Padahal selama ini Indonesia tutup pintu dengan alasan jaminan keamanan untuk mereka di Papua,” kata Musa Sombuk ketika menghubungi tabloidjubi.com langsung dari Australia. Menurut dia, alasan Indonesia menutup pintu bagi pekerja HAM Internasional ke Papua, sudah pernah disampaikan langsung Menteri  Luar Negeri Indonesia di Australia beberapa waktu lalu.

“itu sudah dikemukakan Menlu Indonesia di Canbera,”bilang Musa Sombuk. Dengan demikian, terkait penembakan itu, akibatnya pesan  yang keluar tentang kebijakan orang asing ke Papua, semakin kuat bahwa ada upaya dalam sebuah konspirasi pengkondisian bahwa keamanan di Papua tidak aman. Padahal secarai logis, kejadiannya  di dalam kota di pinggiran pantai dengan menstigmakan pelaku breokan dan keriting yang sudah pasti ada image hal itu dilakukan oleh orang Papua.

Analisa lain yang diungkapkan Musa Sombuk bahwa kasus penembakan warga Jerman disertai isterinya Eva Medina, bahwa ada elemen di Papua yang ingin menolak rencana kunjungan presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ke Papua.

“Ada elemen yang tolak kehadiran SBY ke Papua dan meminta referendum,”bilang dosen Unipa itu. Dengan demikian kata Musa Sombuk, ada beberapa analisa baru, bahwa Papua tidak aman dari kasus penembakan itu yang akirnya akan mengurungkan Presiden datang ke Papua. 

Musa Sombuk berharap pengungkapkan kasus ini harus secara tuntas. Dia menegaskan bahwa pasca penembakan itu, membuat kesempatan ekonomi dari pariwisata akan anjlok di Kota Jayapura dan Papua pada umumnya. (Jubi/Roberth Wanggai)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *