Sebby Sambom: “Kelompok Sipil di Papua Dipersenjatai”

Jayapura (1/6)—Aktivis HAM independen, Sebby Sambom menyatakan pemerintah mempersenjatai kelompok sipil di Papua. “Kelompok sipil dipersenjatai untuk melakukan penembakan terhadap warga negara asing dengan maksud menjatukan citra orang Papua di mata internasional,” katanya lewat pesan singkat di handphone-nya ke tabloidjubi.com, Jumat (1/6).

 

Menurut Sebby, penembakkan warga negara Jerman bernama Dietmar Pieper (55 tahun) di Pantai Base G, Kota Jayapura, Papua, Selasa (29/5) lalu itu, adalah skenario konspirasi politik Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) untuk menjelekan citra perjuangan bangsa Papua di mata nternasional, dengan dalil pelakunya orang Papua atau Tentara Pembebasan Nasional-Organisasi Papua Merdeka (TPN-OPM).

 

“Pemerintah Indonesia melakukan konpirasi itu mengingat masalah Papua mendapat perhatian dunia Internasional. Perjuangan bangsa Papua ada perhatian dalam sidang PBB pada tanggal 23 Mei 2012 lalu. Jadi pelaku penembakkan warga Jerman itu jelas pelakuknya pihak NKRI dengan memanfaatkan orang Papua,” kata Sebby yang juga mantan tahanan politik di Papua ini.

 

Menurut Sebby, konspirasi yang dimainkan pemerintah Indonesia itu bisa dibuktikan. “Buktinya Indonesia telah mempersenjatai orang Papua asli sebagai kelompok kaki tangan pro NKRI,” katanya. Selain itu, kata Sebby, bukti lainnya, yakni juga ada kelompok lainnya seperti, Barisan Merah Putih, pejabat Pro NKRI dan kelompok ketiga yang menciptakan konflik di Papua.

 

Bahkan, kata Sebby, pejabat Papua pro NKRI itu juga telah dipersenjatai pemerintah. “Saya mempunyai bukti surat-surat kepemilikan senjata api dari pejabat Papua. Dan saya bisa menyerahkan bukti itu kepada media atau kepada publik untuk diketahui,” katanya.

 

Sehingga, kata Sebby, semua konspirasi ini melecehkan perjuangan orang Papua di dunia Internasional. Untuk itu, pihaknya mendesak pemerintah Jerman mengambil sikap tegas terhadap pemerintah Indonesia terkait tertembaknya warga mereka di wilayah hukum Indonesia. “Jerman harus meminta tim Investigasi Internasional independen mengungkap pelakunya,”katanya. (Jubi/Mawel)   

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *