Alberth Runaweri Berkampanye HIV Lewat Lagu

Jayapura (29/6)—Pembawaannya sederhana,koperatif dan mudah bergaul, itulah dia Alberth Runaweri. Lelaki 53 tahun itu begitu terbuka, ketika diminta tabloidjubi.com untuk membagi waktu untuk diwawancarai, Jumat, (29/6) di Sasana Krida Kantor Gubernur Provinsi Papua, bertepatan dengan Lounching Kampanye HIV/AIDS tahun 2010.

 

Berlatar belakang seniman, dia ingin mendarmabaktikan hidupnya untuk orang Papua, termasuk tanggungjawabnya terhadap masalah HIV/AIDS yang cukup berkembang cepat di masyarakat. Alberth Runaweri, ayah lima orang anak itu, memanfistasikan sebuah lagu ciptaannya “Lebih Baik Mencegah Daripada Mengobati”. 

 

Motivasi saya menciptakan lagu itu berawal dari pemerintah gencar-gencar kampanyekan HIV dan AIDS, sehingga saya berpikir apa yang bisa saya buat untuk kampanye HIV. Lewat seni saya dapat  membantu saudara-saudara saya di Papua, bahwa HIV sangat berbahaya,” bilang Runaweri mengawali obroloannya.

 

Alberth Runaweri adalah salah satu dari seniman di Papua yang cukup terkenal, kurang lebih 50 lagu daerah sudah dia ciptakan. Bahkan grup band Rio Grime pernah memakai lagu-lagu karangannya semisal lagu Insose. Selain itu lagu-lagu yosim pancar yang kental di Papua semisal Suster Yolan, Rosita adalah buah karya dari lelaki beristeri Nela Fonataba itu.

 

Dengan itu, menurut Alberth Runaweri HIV dan AIDS di Papua sebenarnya bisa dikampanyekan lewat seni lagu. “Itu yang saya buat dan itu yang bisa saya lakukan dengan menulis lagu,”ungkap Runaweri yang juga menjabat sebagai Wakil Sekretaris Dewan Kesenian Tanah Papua (DKTP) Provinsi Papua.

 

Menurut pria yang hobi mengarang lagu, puisi dan sosio drama itu bahwa lagu ciptaannya bisa disesuaikan dengan penyanyi dengan nada apa saja. Kendati pengakuannya bahwa sampai saat ini belum ada penghargaan dari pihak terkait soal karyanya itu. Bahkan komentarnya kalau dirinya belum mendaftar karyanya ke Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) Departemen Kehakiman dan HAM Papua.

 

“Sampai saat ini belum ada penghargaan. Tidak ada, belum juga daftar ke HAKI,”ungkap Runaweri sambil menyatakan ‘welcome’ jika lagunya itu bisa dinyanyikan oleh siapa saja, yang penting dalam rangka membawa orang lain menyadari untuk tau bahaya tentang HIV/AIDS.

 

Pria kelahiran 13 April 1959 itu mengaku lagu ciptaannya itu pertama kali dinyanyikan saat pelaksanaan seminar kesehatan seksual yang diselenggarakan oleh DKTP tahun 2010 di Jayapura. 

 

“Saat itu dinyanyikan oleh (artis lokal) Ani Yawan,”ungkap Runaweri sambil berkata kalau karyanya itu pernah dilantunkan diluar Jayapura, baik di Serui, Biak dan Merauke. Selain lagu, Runaweri juga mencipta puisi tentang HIV dan juga Sosio Drama. Bahkan panjang lebar dia mengakui lagu berikutnya yang sedang digarap yakni tentang Miras dan Narkoba.

 

“Selain lagu, ada puisi dan sosio drama,”ungkap Ranaweri. Karya ciptaanya tentang Sosio drama yang berjudul ‘Menyibak Hari Esok’ pernah menjadi juara kedua saat festival dan seni kreasi Papua tahun 2004 di Kabupaten Merauke.

 

Sebagaimana iklan kampanye HIV 2012 di Tanah Papua, KPA dalam ilustrasi iklan kampanye mengajak semua orang yang ada di Tanah Papua baik di pesisir pantai, di gunung-gunung, di lembah dan dikota untuk bersatu, berkomitmen mengambil peran dan tanggungjawab dalam penanggulangan HIV dan AIDS sesuai dengan peran di masing-masing masyarakat.

 

“Saya sampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada bapak/ibu sekalian atas kepedulian dan pengabdian yang luar biasa kepada masyarakat Papua,” ungkap Pj Gubernur Papua yang diwakili Sekda, Drh. Constan Karma saat lounching kampanye HIV 2012 di Sasana Krida Kantor Gubernur Provinsi Papua, Jumat, (29/6). (Jubi/Roberth Wanggai)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *