Kibaran Bintang Kejora Kembali Telan Korban Jiwa

Keerom, (1/7)—Seruan Pangglima OPM wilayah Keerom, Lambert Pekikir tentang pengibaran bendera Bintang Kejora pada HUT OPM melalui media beberapa waktu lalu ternyata diwujudkan. Sekitar lima Bendera Bintang Kejora (BK) berkibar di beberapa lokasi diantaranya, di Skamto dan Arso Kota pada Minggu (1/7) pagi. Selain pengibaran BK ini, Kepala kampung Sawiatami ditembak mati, sekitar pukul 09.30 di Sawiatami, Arso, Keerom Papua. 

 

Kepada tabloidjubi.com, beberapa sumber yang dihubungi di Keerom mengatakan bahwa setidaknya ada lima BK yang dikibarkan. “Di lokasi PIR III ada tiga bendera yang dipasang tetapi sudah dilepas oleh aparat,” kata seorang warga Keerom yang tidak bersedia disebutkan namanya. 

 

Lebih lanjut, warga Keerom ini mengatakan bahwa dia sendiri heran karena tiba-tiba ada satu BK yang dipasang di depan kiosnya.  “Saya heran satu di depan kios saya. Saya ini tidak tahu menahu tentang situasi itu. Saya dan masyarakat sekitar sini kaget melihat aparat datang lepas bendera itu,” katanya.

 

Di lokasi lain, yakni di Skamto dan Arso Kota BK juga dikibarkan oleh orang yang tidak jelas. “Satu dipasang di depan rumah mantan anggota dewan. Anggota dewan itu keluar tertawa heran karena barang itu bisa berkibar di depan rumahnya,” kata seorang warga Arso Kota bernama Watae kepada tabloidjubi.com ketika ditemui di Abepura, Minggu (1/7) sore. Menurut Watae, rumah mantan anggota Dewan itu di depan SMP negeri I Arso.

 

Watae menambahkan pengibaran BK di Arso itu terjadi sekitar subuh. “Masyarakat jaga sampai pagi. Sepajang malam itu aman. Tidak ada yang mengibarkan bendera. Subuh itu masyarakat mengantuk dan pulang tidur. Saat itu (mungkin) ada oknum-oknum tertentu yang datang mengibarkannya,” kata Watae.

 

Selain itu, Watae juga menceritakan kronologis penembakan kepala kampung Sawiatami, Johanes Yanafrom kepada tabloidjubi.com. Menurut Watae, pagi hari, kepala kampung dengan dua temannya hendak ke Wor. Dua temannya mendahului kepala kampung dan kepala kampung sendiri berdiri di jalan. Satu mobil datang menembak mati lalu lari. Dua temannya kembali lihat begini, kepala kampung tergeletak di jalan. Mereka hendak antar ke rumah sakit di Sswakarsa namun tidak tertolong. Jonny menghembuskan nafas di Jalan,” kata Watae.

 

Pastor John Djonga, dari Dekenat Keerom membenarkan informasi penembakan terhadap umatnya itu. “Saya telah cek namanya Jonny (Johanes) Nawafrom kepala kampung Swamiatami ditembak di kepala,” Kata John Djonga kepada tabloidjubi.com.  John Djonga juga mengatakan bahwa akibat insiden penembakan tersebut, jalan ke kampung Wembi untuk sementara ditutup. Menurut Pastor Katolik yang berdomisili di Kabupaten Keerom ini, Yohanes Yanofrom ditembak saat berada kurang lebih satu kilometer dari Kampung Sawiatami saat warga kampung akan berangkat ke gereja untuk beribadah.

Terkait insiden penembakan Kepala Kampung ini, Pangdam XVII Cenderawasih, Mayjen Erwin Syafitir kepada wartawan mengatakan bahwa pelaku penembakan adalah OPM yang menghadang mobil patroli aparat keamanan, yakni Danyonif 431. Menurut Pangdam, kelompok OPM sekitar 09.15 Wit melakukan penembakan, yang mana korbanya adalah seorang Kepala Kampung Sawiatami, Johanes Yanafrom (34). Korban meninggal ditempat karena terkena tembakan di bagian kepala dan perut.

 

Sementara itu, Sebby Sambon Aktivis HAM Independence mengatakan pengibaran bendera itu permainan orang-orang yang tidak menghargai bendera suci. “Bendera itu bukan barang mainan,” katanya.

 

Menurut Sebby, isu satu Juli hingga pengibaran bendera itu hanya strategi keamanan untuk melakukan sweeping , penangkapan dan penembakan para aktivis dan orang-orang Papua. ”Pengibaran Bendera itu hanya alasan untuk sweeping dan menangkap aktivis itu,” katanya. (Jubi/Mawel) 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *