Rencana OPM Turun Ke Jayapura Sudah Di Antisipasi

Jayapura (1/7) — Rencana kelompok TPN/OPM untuk turun ke beberapa daerah di Jayapura, Papua, guna merayakan hari kemerdekaan mereka yang di klaim jatuh pada 1 Juli 2012 sudah diantisipasi oleh aparat gabungan TNI/Polri dengan menjaga beberapa tempat yang dinilai akan dilalui, sehingga kelompok tersebut memilih mundur.

Namun disayangkan ketika kelompok OPM tersebut mundur dan menempati suatu tempat ketinggian dekat Sawiyo Tami, kelompok OPM melakukan penembakan terhadap mobil Danyonif 431 yang pada saat itu sedang mengontrol anggotanya yang sedang melakukan kegiatan mengantisipasi situasi.

Pangdam XVII/Cenderawasih, Mayjen TNI Moh Erwin Syafitri kepada wartawan, di Jayapura, Minggu (1/7), menjelaskan, tembakan yang dilakukan kelompok OPM mengenai kaca samping, kap atas, dan kaca mobil Danyonif. Akibat pecahan kaca, sopir yang membawa mobil tersebut mengalami memar.

Namun yang paling disayangkan, lanjut Pangdam, kelompok OPM sekitar 09.15 Wit kembali melakukan penembakan, yang mana korbanya adalah seorang Kepala Kampung Sawiyo Tami, Johanes Yanafrom (34). Korban meninggal ditempat karena terkena tembakan di bagian kepala dan perut.

“Saat itu korban sedang berkendara di belakang mobil Danyonif berjarak sekitar 200-300 meter. Dimana pada saat itu korban akan melintas di jalan tanjakan. Menurut laporan di lapangan, setelah ditembak korban berserta motor diseret oleh kelompok OPM,” jelas Pangdam.

Menurut Pangdam, setelah mengetahui adanya penembakan, aparat keamanan langsung melakukan pengejaran dan dari hasil penjajakan di lapangan kelompok OPM tersebut lari menuju perbatasan PNG.

“Kita tidak mempunyai kewenangan untuk melintas batas, sehingga sampai sekarang pengejaran terhadap pelaku belum berhasil,” ujarnya.

Menyinggung soal kelompok siapa yang melakukan penembakan itu, kata Pangdam, dari hasil penjajakan di lapangan kelompok yang melakukan penembakan adalah kelompok TNP/OPM pimpinan Lambert Pekikir. Sementara Pelakunya diketahui bernama John.

“Dari pantauan kami, dia sudah kontak senjata kemudian menyampaikan kembali ke markas. Kita tahu markasnya sekitar Yeti ke arah PNG dan Bewani (distrik yang berada di sebelah). Perkiraaan kekuatan kelompok tersebut sekitar 20-30 orang. Sementara senjata yang mereka pakai campuran, yang pasti ada suara rentetan dan suara pistol,” katanya.

Saat ditanya selain penembakan apakah ada kejadian lain, ujar Pangdam, sebelumnya memang ada suara tembakan tepatnya Sabtu (20/6) malam di sekitar Abe Pantai. Dimana mereka menyiram oli di jalan tikungan dekat gereja. Sementara Minggu (1/7) pagi ada bendera Bintang Kejora yang berkibar di daerah Buper Waena, Dok 4 center Entrop, Kimbim Pegunungan Tengah, gunung susu Wamena.

“Namun benderanya tidak terpasang secara bagus karena ada yang di semak-semak dan pohon. Semua kejadian diperkirakan subuh. Sedangkan di daerah penembakan tidak ditemuai adanya bendera BK yang berkibar,” jelasnya.

Dikatakannya, pasca terjadinya penembakan situasi wilayah Keerom dan sekitarnya berjalan seperti biasa, hanya memang masyarakat setempat sangat berduka karena kepala desa mereka ditembak hingga meninggal. “

Sesuai dengan tugas TNI, kami tetap akan melakukan penjagaan di daerah perbatasan tersebut. Memang informasi awal mereka akan bergerak dari Keerom menuju Abe Pantai, Nafri, dan Tanah Hitam. Untuk itu kita antisipasi sesuai dengan hasil koordinasi dengan Kepolisian kita menempati dan mencoba menemukan tempat-tempat yang akan mereka lintasi,” katanya.

Pangdam menambahkan, secara umum pengibaran Bintang Kejora (BK) tidak terlalu signifikan. Untuk itu, dirinya menyampaikan terimakasih kepada tokoh masyarakat, agama dan daerah yang telah menyikapi secara positif sehingga tidak terprovokasi. (Jubi/Alex)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *