Jual Kaset Mambesak untuk Bayar Kuliah

Jayapura (31/7) — Antropolog Enos Rumansara, Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jurusan Antropologi Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura mengatakan, penjualan kaset Mambesak pada akhir 1970-an hingga awal 1980-an dipergunakan untuk membantu mahasiswa Papua yang kesulitan biaya perkuliahan, terutama mereka yang menjadi anggota Group Musik dan Tari Mambesak.

 

Menurut Rumansara, perbedaan antara Sam Kapisa dan tokoh budayawan Papua, Arnold Ap dalam memilih musik adalah Sam Kapisa dalam pengembangan musiknya lebih cenderung mengaransimen lagu daerah ke musik pop sedangkan Arnold Ap lebih memilih untuk memelihara keaslian lagu daerah tersebut dengan memelihara ciri yang menjadi bagian musik tersebut karena merupakan ciri dari suku tertentu.

 

“Pada awal kami berjalan dengan Mambesak itu, tidak ada uang untuk kami. Beliau sendiri tanggung misalnya makan, minum. Dia meminta Usi Corry (Istri mendiang Arnold Ap-red) untuk sediakan makanan,” demikian kata Rumansara kepada tabloidjubi.com, Selasa(31/7) di Kampus Uncen Lama, Abepura, Jayapura – Papua.

 

Menurutnya, setelah penjualan kaset-kaset Mambesak berjalan, bila ada mahasiswa yang terlambat dikirim uang oleh orang tua maka Arnold Ap, pimpinan Group Mambesak mengulurkan tangan membantu mahasiswa yang kesulitan tersebut.

 

“Anak-anak Anggota Mambesak yang kuliah, orang tua terlambat kirim uang kuliah, dia bantu. Uangnya dari hasil jual kaset Mambesak. Bagi yang kekurangan biaya kuliah, langsung dia bayar setelah ada hasil dari penjualan kaset Mambesak,” kata Rumansara yang pada saat masih bersama Mambesak memegang alat musik Tifa.

 

Rumansara berpendapat kalau kita besar dari bangsa yang berbudaya. Untuk itu, masyarakat diharapkan untuk menghargai apa yang ada, terutama budaya yang ada pada masyarakat kita karena kita semakin maju, informasi baru akan terus kita terima hingga kita tidak tahu kita ini berasal dari mana.

 

“Identitas kita ada pada budaya karena dalam budaya ini ada nilai-nilai yang mengatur tentang hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan sesame manusia termasuk juga hubungan manusia dengan lingkungan tempatnya hidup,” demikian kata Rumansara yang menyelesaikan program Doktor antropolog di FISIP- Univesitas Indonesia, Jakarta. (JUBI/Aprila Wayar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *