Imparsial: “Banyak Pihak Bermain di Puncak Jaya”

Jayapura (7/8)—Serangkaian aksi kekerasan yang terjadi di Kabupaten Puncak Jaya, Papua selama ini, namun Polisi tidak kunjuung bisa mengungkap pelaku mengundang keprihatinan berbagai pihak. Setelah salah satu aktivis Hak Asasai Manusia (HAM) Papua, Matius Murib menduga jika kasus Puncak Jaya tidak bisa terungkap karena ada rekayasa, komentar nyaris senada dilontarkan Direktur Eksekutif Imparsial, Poengky Indarti.

 

Ia mengatakan, sejumlah kasus yang terjadi di Puncak Jaya selama ini, hingga sekarang masih belum bisa diungkap aparat Kepolisian karena ada banyak kepentingan di wilayah itu. “Kasus di Puncak Jaya hingga sekarang masih terlihat belum ada titik terang karena memang ada banyak pihak yang bermain di sana. Tentu saja hal ini menyulitkan aparat kepolisian untuk mengungkapnya,” kata Poengky Indarti lewat pesan singkatnya kepada tabloidjubi.com, Senin (7/8).

Menurutnya, jika aparat Kepolisian ingin serius dan menindak tegas para pelaku kekerasan di Puncak Jaya, maka korps berbaju coklat itu harus menghilangkan ganjalan psikologis. “Selain itu aparat Kepolisian harus tegas menerapkan penegakan hukum terhadap semua pelaku kekerasan,” tandas Pongky Indarti singkat.

Sebelumnya hal senada pernah dilontarkan mantan tokoh Organisasi Papua Merdeka (OPM), Nicolas Meset beberapa waktu lalu. Ia menilai serangkaian aksi kekerasan di Puncak Jaya yang kerap mengatasnamakan Orang Tak Dikenal (OTK) dan OPM adalah pembohongan kepada masyarakat karena ada pihak-pihak berkepentingan dibalik semua itu. “Sebagai mantan OPM saya mengharapkan agar jangan lagi ada pihak yang memakai nama OPM untuk kepentingan pribadi. Masyarakat yang ada di hutan sana tidak tahu pakai senjata, jangan tipu dan korbankan orang Papua. Di Puncak Jaya ada orang-orang yang punya kepentingan mengkambing hitamkan OPM. Jangan pakai nama orang yang ada di hutan untuk kepentingan mereka,” tegas Nicolas Meset di Lapangan Merdeka Sarmi, Kamis (12/4) lalu.

Menurutnya, jika terjadi penembakan atau pembunuhan disana jangan salahkan OPM. Itu orang yang dipakai orang lain untuk kepentingan mereka. Ia juga menuding, ada pembiaran dari pemerintah RI atas sejumlah aksi kekerasan di Puncak Jaya. “Setelah 39 tahun menentang pemerintah Indonesia, saya baru empat tahun kembali ke Indonesia. Jadi jangan pemerintah pusat setengah-setengah kepada kami orang Papua. Meski rambut keriting, kulit hitam namun kami juga bangsa Indonesia. Memang ada pembiaran. Saya ini mantan OPM jadi saya bisa bicara kuat, namun kalau orang lain yang bicara mereka ditangkap. Jika ada pihak yang tidak setuju dengan saya, saya bisa keluar negeri dan bicara kepada pers disana” tegas Nicolas Meset. (Jubi/Arjuna)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *