Mahasiwa Papua Demo United Nation Centre Jakarta

Jayapura (30/8)—Siang tadi, Kamis (30/8) sejumlah mahasiwa  Papua yang tergabung dalam National Papua Solidarity (Napas) di Jakarta menggelar berunjuk rasa di kantor United Nation Centre (UN) Jakarta. Mereka menuntut aksi kekerasan dan penembakan yang marak terjadi belakangan ini di kawasan paling timur Indonesia ini.

Menurut koordinator Napas, Marthen Goo mengatakan kedatangan mereka diterima langsung oleh Michele Zaccheo. Didepan Michele Napas menyatakan, hingga kini tak ada ruang demokrasi bagi orang Papua. Rakyat Papua selalu dibantai dan dibunuh oleh anggoata TNI/Polri. Setiap kekerasan yang menimpa warga sipil di wilayah paling timur ini, presiden SBY dan Menkopolhukam selalu menyelesaikannya dengan menginstruksikan pengiriman pasukan ke Papua.

Solusi ini tentu tidak menyelesaikan masalah. Sebaliknya menambah masalah. “Kami datang kesini mewakili saudara-saudara kami yang sudah dibantai dan dibunuh di Papua,” kata Marthen melalui siaran pers  yang diterima tabloidjubi.com, Kamis (30/8) sore. Lanjut Marthen, maksud kedatangan mereka ke UN untuk mengadu sejumlah kekerasan yang belakangan ini marak terjadi di Jayapura dan daerah lain di Papua.

Diantaranya, penyisiran yang terjadi terhadap warga sipil di Paniai minggu lalu, pengrebekan dan pengrusakan yang dilakukan oleh polisi di Asrama Liboran di Jayapura, Minggu (27/8) malam. Tak hanya pengrusakan dan penggeledahan, sejumlah mahasiswa diduga diserang dengan gas air mata. Lainnya lagi, dipukuli hingga babak belur.

“Bukan tanpa alasan kami mengatakan demikian,” kata Marthen. Sebelum peristiwa-peristiwa tersebut, sejumlah peristiwa lain sudah mendera masyarakat. Tentu Masih segar diingatan kita tentang peristiwa pembubaran aksi damai kongres rakyat papua III (11/2011), peristiwa penembakan misterius 05-06/2012, Peristiwa di wamena (06/2012)  yang mengakibatkan 500 rumah di bakar dan ratusan orang mengungsi, peristiwa pembubaran paksa disertai tindak kekerasan dan penangkapan dalam aksi damai untuk kemanusiaan Solidaritas Korban Pelanggaran HAM Papua (SKPHP) (07/2012), pelarangan dan pembubaran paksa disertai dengan tindak kekerasan dan penangkapan dalam aksi damai hari Masyarakat Adat Internasional pada 9 Agustus lalu.

Dari pengaduan yang diajukan, UN merasa prihatin dengan kondisi Papua. Lembaga asing itu berjanji bakal menyebarkan luaskan pengaduan tersebut ke komisi perdamaian UN di Indonesia. UN juga akan menindak lanjuti persoalan yang diajukan sesuai prinsip kerjanya. Dari siaran pers yang diterima, Napas mendatangi UN sejak pukul 11.00 – 13.00 WIB. (Jubi/Abubar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *