Burekheng, Model Konservasi Tradisional Masyarakat di Danau Sentani

Jayapura,Sabtu(1/9)Burekheng adalah salah satu model konservasi tradisional yang telah lama dikenal oleh masyarakat yang mendiami tepian Danau Sentani. Burekheng atau semacam sero sudah jarang digunakan sehingga sangat mempengaruhi populasi dan juga perkembangan ikan-ikan jenis asli di Danau Sentani.

 

Pdt Wilem  Maloali dalam diskusi  Perlindungan  dan Pelestarian Ikan Gabus Endemik Danau Sentani(Oxyeleotris heterodon Bl) dari Ancaman Kepunahan Serta Perlindungan dan Pelestarian Ekosistemnya menyebutkan, hilangnya habitat asli ikan asli Danau Sentani karena peran kaum perempuan Sentani dalam menjaga keseimbangan alam di Danau Sentani semakin berkurang.”Walau memang benar masuknya jenis ikan baru seperti  ikan Lohan dan Gabus Toraja juga termasuk faktor yang menyebabkan hilangnya ikan asli Danau Sentani,”kata Maloali.

Hal senada juga diungkapkan Lindon Pangkali, kalau tradisi Burekheng sudah jarang dilakukan oleh masyarakat di sekitar Danau Sentani. Menurut Pangkali pembuatan burekheng atau sero biasanya dilakukan oleh setiap keret atau klen. Mula-mula dipatok dalam danau kayu-kayu atau bisa juga batang-batang sagu berbentuk lingkaran atau keliling dalam dan ditutup rapat agar ikan-ikan tidak bisa keluar dari dalam sero.

Kemudian dalam sero itu dimasukan, batang-batang sagu sisa pangkur, pelepah-pelepah dan daun-daun dalam sero. Selanjutnya sero atau burekheng ini dibiarkan agak lama atau mungkin selamase tahun baru bisa dipanen.

Menurut Pdt Maloali, tradisi Burekheng ini sangat penting karena mampu mengembalikan kehidupan ikan-ikan jenis asli di sekitar Danau Sentani mulai dari belut asli Danau Sentani sampai dengan ikan-ikan jenis asli. Batang-batang sagu lebih kuat menjadi pelindung sero atau burekheng ketimbang memakai pelepah sagu.

 

Pdt Maloali membagi beberapa jenis ikan di Danau Sentani sesuai dengan pengalaman dan pengetahuan lokal . “Ada ikan yang hidupnya di dalam dasar Danau dan juga di permukaan danau,”kata mantan Ketua DPRD Provinsi Irian Jaya itu. Menurutnya ikan dasar danau meliputi khayou, kha haabeeiy,himen, khaa hilo (belut). Sedangkan ikan-ikan di permukaan kata Maloali meliputi khandei (ikan gete-gete),kha hea (gete-gete besar),kaa hei,kanseli(ikan sembilan),kaa joo gho, joowi,isnongha(lele asli danau),oonoi (ikan halus ini biasa hadir setelah hujan),neghe (udang halus),neghe haboo (udang besar),heeuw, heeuw haisai,heeuw nangkoo, rao heeuw(musiman hadir secara berkelompok).

Pdt Maloali yang kini berusia di atas 70 tahun sudah mengosumsi hampir semua jenis ikan di dalam Danau Sentani termasuk beberapa jenis kerang antara lain kerang angklung,kerang felle ada tiga jenis,kerang kheka ada tiga jenis. “Bukan hanya itu saja ada pula kura-kura(Ebeeuw), buaya (khamendakhe),ikan hiu gergaji(melemaai),”kata Pdt Maloali.

Bahkan Pdt Maloali dengan jeli mencatat ikan-ikan jenis lain yang bukan jenis asli antara lain, ikan mujair,ikan mas,ikan lohan,ikan lele,ikan gastor,ikan gurame,ikan gurame dan ikan yang ditambak lainnya.”Jadi ada sekitar 9 jenis ikan jenis baru yang masuk ke dalam Danau Sentani,”kata Maloali.

Sementara itu Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Jayapura, Frangklin Mananoma mengatakan ikan jenis asli Danau Sentani yang tercatat sebanyak 29 jenis, ada 16 ikan yang dikonsumsi termasuk  9 jenis ikan yang eksotik.” Dinas Perikanan tidak pernah memasukan ikan gastor (Chana stritata, Bl) dan juga ikan lohan di Danau Sentani,”kata Frangklin seraya menambahkan ikan lohan sendiri diduga sekitar 2004 baru ditemukan di Danau Sentani.

Namun demikian Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Jayapura ini mengakui sangat sulit untuk membudidayakan kembali ikan gabus asli Danau Sentani melalui pembenihan kemungkinan besar memakai cara tradisional yaitu pembuatan sero atau dalam bahasa Sentani di sebut Burekheng. (Jubi/Dominggus A Mampioper)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *