Identitas Pelaku Penembak Dua TNI di Paniai Diketahui

Jayapura (15/10)—Keberadaan dan identitasnya pelaku penembakan terhadap dua anggota TNI Batalyon 753 di Distrik Kebo Kabupaten paniai pada hari Rabu (10/10) lalu, sudah diketahui oleh aparat kepolisian yang bertugas di daerah tersebut.

“Para pelaku ini merupakan anggota Kelompok Organisasi Papua Merdeka, yang beroperasi di wilayah Paniai, ada kelompok yang sudah diketahui. Tapi tidak perlu saya sebutkan sekarang karena itu kan tidak etis. Ini proses penyidikan, tetapi itu sudah diketahui,” kata Kapolda Papua Irjen Pol Tito Karnavian kepada wartawan usai mengikuti penutupan Raimuna Nasional X di Jayapura, Senin (15/10).

Menurut Kapolda, sampai saat ini situasi dan kondisi kota Enarotali ibukota Kabupaten Paniai dan seluruh Paniai dalam keadaan aman. Termasuk penyelenggaraa Pemilukada di wilayah itu yang diselenggarakan pada hari Sabtu (13/10) lalu berlangsung aman dan lancar.

Sementara mengenai kondisi dua anggota TNI dari Satuan Tugas (Satgas) Yonif 753/AVT Nabire yang ditembak yakni, Pratu Aris dan Pratu Arisoni Wembi kini sudah dievakuasi ke Jayapura, dimana proses evakuasi dipimpin langsung oleh dirinya. “Kondisi kedua anggota TNI ini perlu dilakukan bedah orthopedhy dan itu dilakukan oleh Kesdam Cenderawasih,” jelasnya.

Seperti diketahui dua anggota TNI ditembak oleh orang tak dikenal di Sungai Kebo, Distrik Kebo, Paniai beberapa waktu lalu. Dimana pada Saat itu keduanya tengah berada diatas speedboat mengawal kotak logistic Pilkada. Prajurit Aris tertembak di tangan, sedangkan Arisoni tertembak di lengan tembus paha.

Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan pasca penembakan tersebut, aparat kepolisin Paniai memperkuat pengamanan pada saat Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati defenitif. “Kita perkuat keamanannya. Semua distrik sudah selesai termasuk Distrik Kebo yang tadinya ada peristiwa penembakan juga sudah selesai,” jelasnya.

Namun pada prinsipnya menurut Kapolda semua pasangan calon yanga ambil bagian dalam Pemilukada di Kabupaten Paniai menyatakan pemilukada dapat dilaksanakan, dimana pada tanggal 19 Oktober akan dilakukan rapat pleno KPU Paniai. Untuk Rapat pleno ini, polisi akan memperkuat lagi jajarannya.

Disinggung mengenai pola pendekatan yang akan dilakukan kepolisian. Menurut kapolda peristiwa di Paniai itu sudah masuk dalam pelanggaran hukum dan kriminal. Karena sudah ada korban. “Tetapi kita akan melihat dengan mencoba berdialog. Sebetulnya apa yang diinginkan mereka. Kita akan mencari akses untuk bisa berdialog /berkomunikasi dengan mereka. Sebetulnya akar masalahnya apa,” ujarnya.

Menurut Kapolda, kalau memang ada akar masalah yang bersifat mendasar karena ada kelemahan. Mungkin di pemerintahan atau kelemahan–kelemahan lain. Maka hal itu akan didialogkan. Tetapi kalau ternyata motifnya hanya mengganggu atau mengambil keuntungan dari situ. Misalnya memenangkan calon tertentu atau untuk mendapatkan uang. Maka itu motifnya kriminal. “Kita minta dukungan masyarakat dulu. Ini bagaimana langkah–langkahnya. Saya menegaskan dialog jalan dan penegakan hukum juga akan jalan. Pokoknya keduanya paralellah,” katanya. (Jubi/Alex)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *