Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Dunia
  3. Upaya Kurdistan ingin merdeka dari Irak
  • Kamis, 28 September 2017 — 17:52
  • 484x views

Upaya Kurdistan ingin merdeka dari Irak

Iran dan Turki juga menentang gerakan apapun menuju pemisahan Kurdistan dan pasukannya sudah memulai latihan bersama di dekat perbatasan dengan wilayah tersebut. Irak dan Turki juga menggelar latihan bersama.
Hasil akhir referendum Kurdistan menunjukkan masyarakat mutlak sepakat merdeka dari Irak. Reuters/Jubi
Editor : Syam Terrajana

Papua No. 1 News Portal I Jubi

Baghdad, Jubi - Baghdad meminta warga Kurdi untuk membatalkan pemungutan suara referendum kemerdekaannya dari Irak. Sementara parlemen mendorong pemerintah pusat untuk mengirim pasukan mengendalikan ladang minyak vital yang dikuasai pasukan Kurdi.

Meningkatkan upaya untuk mengisolasi wilayah Kurdistan di utara Irak, pemerintah Baghdad juga meminta negara-negara asing menutup perwakilannya di Erbil. Warga setempat dengan mutlak memutuskan untuk memerdekakan diri dan membuat marah negara-negara sekitarnya.

Diberitakan Reuters, hasil akhir referendum yang diungkap semalam, Rabu (27/9), menunjukkan nyaris 93 persen warga memilih untuk merdeka dan 7,3 persen menentang. Lebih dari 3,3 juta orang, atau 72 persen warga yang berhak memilih, memberikan suaranya pada Senin lalu.

Referendum ini memicu kekhawatiran akan konflik regional. Delegasi pasukan bersenjata Irak bergerak menuju ke Iran untuk mengoordinasikan upaya militer yang mungkin dilakukan untuk membalas langkah memerdekakan diri tersebut.

Iran dan Turki juga menentang gerakan apapun menuju pemisahan Kurdistan dan pasukannya sudah memulai latihan bersama di dekat perbatasan dengan wilayah tersebut. Irak dan Turki juga menggelar latihan bersama.

Sejumlah maskapai asing mulai menunda penerbangan ke bandara-bandara Kurdi setelah Otoritas Penerbangan Sipil Irak menyatakan penerbangan internasional ke Erbil dan Sulaimaniya mesti dihentikan sementara.

Otoritas Kurdi menolak tuntutan Baghdad untuk menganulir referendum sebagai syarat menggelar dialog dan menyerahkan kendali atas bandara internasionalnya.

Pada Rabu malam, Rudaw TV melaporkan bahwa Pemerintah Regional Kurdistan telah menawarkan untuk menggelar pembicaraan dengan Baghdad soal kemungkinan menerima pengamat Irak di bandara Erbil dan Sulaimaniya demi menyelesaikan krisis.

Turki, yang telah mengancam untuk menjatuhkan sanksi bagi masyarakat Kurdi, menyatakan perbatasannya dengan wilayah utara Irak tetap terbuka. Namun hal itu bisa berubah dan jumlah truk yang melintas terpantau berkurang.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyatakan semua opsi, mulai dari langkah ekonomi hingga militer, dipertimbangkan untuk menanggapi referendum kemerdekaan Kurdistan dari Irak.

Dalam pidato di istana kepresidenan, Erdogan mengatakan Turki tidak akan segan menggunakan semua langkah yang bisa dilakukan jika jalan menuju perdamaian tidak bisa tercapai.

Diberitakan Reuters pada Selasa (26/9), dia mengatakan langkah-langkah yang dimaksud kemungkinan bisa melibatkan operasi darat dan udara.

Erdogan berharap Pemerintah Regional Kurdistan bisa berubah pikiran.

Dia juga menyatakan, Turki akan menutup perbatasan dengan Irak bagian utara.

Warga etnis minoritas Kurdi menggelar referendum kemerdekaan itu menentang peringatan dari Irak dan negara-negara tetangga.

Sementara itu, Parlemen Iran pada Rabu (27/9/2017) juga ikut mengutuk referendum kemerdekaan Kurdistan Irak, dan mengatakan tindakan separatis semacam itu merugikan buat Irak dan seluruh wilayah Timur Tengah.

Terkait hal itu, anggota Parlemen Iran menyuarakan dukungan buat Pemerintah Irak dalam menentang rencana Pemerintah Regional Kurdistan untuk memisahkan diri dari Irak.

Setiap tindakan yang menciptakan krisis di Irak akan membahayakan kemajuan demokratis di negara Arab tersebut, kata Parlemen Iran di dalam satu pernyataan.

Anggota Parlemen Iran, kata Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, juga mendesak Pemerintah Iran agar meningkatkan kerja sama dengan Baghdad guna mencegah apa yang disebut "petualangan Israel di Irak".

Pemberi suara di Wilayah Kurdi dan daerah sengketa di Irak Utara menyelenggarakan referendum pada Senin (25/9) mengenai upaya kemerdekaan wilayah itu dari Irak.

Hasil resmi yang disiarkan pada Rabu memperlihatkan lebih dari 92 persen orang Kurdi mendukung kemerdekaan dari Irak.

Referendum tersebut diselenggarakan di tengah tekanan kuat internasional agar pemungutan suara ditunda, karena tindakan itu dikhawatirkan akan memicu konflik baru dengan Baghdad dan negara kuat tetangga Irak seperti Iran dan Turki. (*)

Sumber: CNN Indonesia/ Antara

 

#

Sebelumnya

Hilang 400 tahun, mahakarya Rubens dipamerkan

Selanjutnya

Kemerosotan tanah picu rawan pangan di Afrika

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe