Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Pasifik
  3. Solidaritas Pasifik untuk Kepulauan Karibia pasca Badai Irma dan Maria
  • Sabtu, 30 September 2017 — 18:41
  • 1492x views

Solidaritas Pasifik untuk Kepulauan Karibia pasca Badai Irma dan Maria

“Kami mengulangi kembali seruan kami untuk moratorium global terkait pembangunan tambang batu bara baru, pembangkit listrik dari tenaga batu bara dan investasi terkait batu bara, dan penghentian penggunaan bahan bakar fosil di negara maju dan negara berkembang yang saat ini tidak bersedia melakukan peralihan segera ke listrik yang bersih, khususnya ‘kakak’ kami di pasifik yang bernama, Australia,"
Badai Irma di Kuba, Kepulauan Karibia - Global News
PINA
redaksi@tabloidjubi.com
Editor : Zely Ariane

Papua No. 1 News Portal I Jubi,

Suva, Jubi – Pacific Islands Development Forum (Forum Pembangunan Kepulauan Pasifik, PIDF) berdiri dalam solidaritas dengan orang-orang di Karibia dan menyampaikan belasungkawa terdalam kepada semua keluarga yang telah kehilangan orang-orang tercinta dan kepada semua pihak yang telah terdampak oleh keganasan dari Badai Irma dan Maria baru-baru ini yang melanda pulau-pulau Karibia.

Solidaritas itu juga ditujukan untuk rakyat Meksiko dimana 230 nyawa telah hilang akibat gempa berkekuatan 7,1 Skala Richter beberapa hari lalu.

Kedua badai terkuat yang pernah melanda Karibia selama lebih dari sembilan puluh tahun terakhir itu menghancurkan ratusan rumah, memadamkan listrik di sepanjang pulau-pulau, dan memicu banjir bandang yang menerjang menyebabkan sejumlah nyawa melayang serta mempengaruhi penghidupan jutaan orang.

Intensitas badai Maria dengan cepat meningkat dari badai kategori 1 ke kategori 5 dengan kecepatan 160 mph hanya dalam 15 jam.

“Kami mengulangi kembali seruan kami untuk moratorium global terkait pembangunan tambang batu bara baru, pembangkit listrik dari tenaga batu bara dan investasi terkait batu bara, dan penghentian penggunaan bahan bakar fosil di negara maju dan negara berkembang yang saat ini tidak bersedia melakukan peralihan segera ke listrik yang bersih, khususnya ‘kakak’ kami di pasifik yang bernama, Australia, dan seperti yang telah kami katakan sebelumnya dan akan kami katakan sekali lagi, kita akan melihat lebih sering lagi badai kategori 4 ke kategori 5 yang bengis ini dan berpotensi menghancurkan kota-kota di kawasan Pasifik kita, sama seperti apa yang kita lihat terjadi di Karibia”, kata Sekretaris Jenderal PIDF, François Martel.

Sekretaris Jenderal Martel yang saat itu menghadiri sesi sidang Majelis Umum PBB (UNGA) ke-72 di New York mengatakan bahwa sekarang adalah saat yang tepat untuk membangun kemitraan yang tulus  antara pemerintah, masyarakat sipil, dan sektor swasta untuk benar-benar menerapkan aksi terkait iklim yang merupakan satu-satunya jalan kita agar dapat mencapai target Perjanjian Paris dan menghindari masa depan yang dipenuhi oleh kejadian badai kategori 5.

Dia menyempatkan diri bertemu dan menyampaikan solidaritas semua negara anggota PIDF kepada Duta Besar CARICOM (Caribbean Community atau Komunitas Karibia) di PBB dan Duta Besar Dominika, Kepulauan Bahama dan Grenada saat berada di New York.

“Kami dari kepulauan Pasifik mengerti apa yang sedang dihadapi oleh penduduk Karibia karena kami juga telah melihat dan merasakan malapetaka yang ditinggalkan oleh badai tropis Winston yang melanda Fiji dan Pam yang menimpa Vanuatu. Pastinya akan ada lebih banyak lagi hal yang perlu dilakukan untuk mengalihkan perhatian pada aksi terkait iklim dan investasi yang serius dalam membangun ketahanan iklim, bukan hanya aksi tanggap bencana alam dan manajemen lingkungan. Ini adalah hal sederhana untuk memastikan keselamatan pulau kita dari perubahan iklim”.

“Perserikatan Bangsa-Bangsa perlu meningkatkan bantuan dan investasi dalam mengubah strategi pembangkit listrik untuk negara-negara berkembang menuju energi terbarukan dan memberi mereka alat dan pendanaan yang memungkinkan mereka untuk melompat dari keterbatasan listrik ke listrik yang terjangkau dan ramah lingkungan,” lanjut komentar Sekretaris Jenderal dari New York.

Berbagai studi telah menunjukkan bahwa banjir bandang dan badai besar sejauh ini merupakan penyebab utama bencana alam mulai dari tahun 2000 hingga 2010. Sekitar 80% dari 3.496 bencana dalam dekade terakhir disebabkan oleh banjir dan badai.

Permukaan laut terus naik akibat perubahan iklim. Begitu juga badai hujan yang ekstrem. Bukti-bukti terus berkembang menunjukkan bahwa suhu yang semakin panas meningkatkan kekuatan badai. Air (laut) yang semakin hangat bagaikan bahan bakar untuk menguatkan intensitas angin topan.

Perubahan iklim telah menaikkan suhu air laut di seluruh dunia hingga 1-3° F selama abad yang lalu, termasuk di wilayah-wilayah dimana angin topan terjadi. Ini mendorong intensitas angin topan menajdi lebih kuat, berpotensi meningkatkan kecepatan maksimal angin. Satu studi menunjukkan bahwa peningkatan intensitas dalam satu kejadian badai semakin cepat dibandingkan 30 tahun yang lalu.

Menurut lembaga-lembaga penanggulangan bencana pada tahun 2016, lebih dari 31 juta orang mengungsi akiban bencana alam dari 125 negara dan wilayah. Bencana alam menelantarkan tiga hingga sepuluh kali lebih banyak orang daripada konflik dan perang di seluruh dunia.

Seiring perubahan iklim yang terus berlanjut, kemungkinan besar ia akan menyebabkan peningkatan dalam jumlah dan tingkat keparahan bencana alam. Rata-rata 26 juta orang terpaksa mengungsi karena bencana alam seperti banjir dan badai setiap tahunnya. Artinya satu orang terpaksa harus mengungsi setiap detiknya.(Elisabeth C. Giay)

loading...

Sebelumnya

Pemerintah PNG perlu tegas melawan kekerasan terkait sihir

Selanjutnya

Delegasi UNHCR kunjungi Pusat Penahanan di Pulau Manus, PNG

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe