Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Pasifik
  3. Perubahan iklim berdampak paling awal dan paling parah bagi kawasan Pasifik
  • Senin, 02 Oktober 2017 — 09:28
  • 743x views

Perubahan iklim berdampak paling awal dan paling parah bagi kawasan Pasifik

Bagi Pasifik, ini termasuk penyakit yang ditularkan melalui vektor (nyamuk dan kutu), penyakit yang disebarkan melalui air dan makanan, luka-luka dan kematian akibat kejadian cuaca ekstrem, dan membahayakan ketahanan pangan dan meningkatkan angka malnutrisi.
Hasil panen gagal dan makanan dan diet yang berubah ... “dampak iklim terhadap ketahanan pangan semakin meningkat” – Asia Pacific Report/Pacific Rising
Admin Jubi
redaksionline@tabloidjubi.com
Editor : Zely Ariane

Papua No. 1 News Portal I Jubi,

Auckland, Jubi – Hilangnya gletser laut, kenaikan permukaan laut yang semakin cepat, dan gelombang panas yang lebih ekstrem dan panjang, adalah dampak yang dapat diamati akibat perubahan iklim terhadap lingkungan yang telah didokumentasikan dengan baik dan terus menjadi berita utama.

Namun perubahan iklim juga membawa resiko serius dan fatal bagi kesehatan manusia.

“Di bawah kondisi perubahan iklim, kesehatan dan keselamatan manusia sama rentannya (dengan lingkungan), sekarang ataupun kedepannya,” menurut Organisasi Kesehatan Dunia, WHO.

Dengan meningkatnya penderita Diabetes tipe 2 dan obesitas di dunia, kesehatan masyarakat kepulauan Pasifik dalam menghadapi perubahan iklim sangat suram.

Dalam laporan ‘Human health and climate change in Pacific island countries’ (Kesehatan Manusia dan Perubahan Iklim di Negara-negara Kepulauan Pasifik) pada tahun 2015, WHO Wilayah Pasifik Barat mencatat:

“Pasifik akan mengalami beberapa dampak paling awal dan parah akibat perubahan iklim. Dampak ini akan termasuk dampak detrimental terhadap berbagai aspek kesehatan dan pembangunan manusia.”

Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa perubahan iklim dianggap sebagai “pengganda” resiko kesehatan. Dengan kata lain, perubahan iklim bertindak sebagai pemicu dan penguat risiko kesehatan yang sudah ada sebelumnya.

Bagi Pasifik, ini termasuk penyakit yang ditularkan melalui vektor (nyamuk dan kutu), penyakit yang disebarkan melalui air dan makanan, luka-luka dan kematian akibat kejadian cuaca ekstrem, dan membahayakan ketahanan pangan dan meningkatkan angka malnutrisi.

Prioritas tertinggi

Resiko kesehatan ini juga ditetapkan oleh negara-negara Kepulauan Pasifik sebagai ‘prioritas tertinggi’ untuk ditangani dalam strategi adaptasi kesehatan.

Seia Mikaele Maiava, seorang petani organik dari Nukunonu, Tokelau, dan anggota dari 350 Pacific Climate Warrior mengatakan kepada Asia Pacific Report:

“Dampak iklim terhadap ketahanan pangan terus meingkat di kawasan Pasifik. Kepulauan seperti Tokelau, Kiribati dan Tuvalu telah mengalami intrusi air laut ke dalam tanah mereka akibat kenaikan permukaan air laut.

“Ini menciptakan tantangan besar dalam upaya mereka menanam tumbuhan, oleh karena itu orang akan bergantung pada makanan impor yang tidak sehat.”

Maiava menyatakan bahwa salinisasi tanaman pangan menyebabkan masyarakat menjadi bergantung pada makanan impor “kandungan lemak tinggi” dan bergula, meningkatkan penyakit tidak menular (non-communicable diseases, NCD) seperti diabetes.

Berbicara dengan Asia Pacific Report  dari Samoa, Viliamu Iese, seorang peneliti di bidang perubahan iklim, ketahanan pangan, dan penanggulangan resiko bencana di  Pusat Lingkungan Hidup dan Pembangunan Berkelanjutan dari Universitas Pasifik Selatan, menegaskan bahwa dampak perubahan iklim terhadap produksi pangan sangat kuat.

“Ini (perubahan iklim) mengurangi akses terhadap makanan, meningkatkan resiko kekurangan gizi dan ketergantungan pada makanan olahan yang diimpor, sehingga meningkatkan risiko NCD," katanya.

Membunuh semua hasil panen

Pernyataan Maiava dan Iese telah disuarakan oleh mahasiswa jurnalisme Semi Malaki dari Tuvalu, yang mengatakan kepada proyek Bearing Witness: “Dengan dampak intrusi air asin dan kenaikan permukaan air laut, air asin naik ke tanah dan membunuh semua hasil panen.

“Masyarakat sekarang tidak banyak bergantung pada tanaman yang mereka tanam, mereka bergantung pada makanan impor dari luar negeri dan itu memiliki banyak dampak pada diet kita.”

Fenomena ini kadang-kadang dikenal sebagai ‘kelebihan nutrisi’ dan Asian Development Bank, Bank Pembangunan Asia, menyatakan perusahan pasokan makanan akibat perubahan iklim sebagai salah satu resiko utama yang ditimbulkan oleh perubahan iklim terhadap kesehatan manusia.

“Perubahan iklim di Pasifik memiliki dampak secara langsung dan tidak langsung terhadap ketahanan pangan.

“Efek yang langsung, terutama di negara-negara atol yang kecil, adalah penurunan produksi per kapita yang semakin menurun akibat meningkatnya bencana alam dan kenaikan permukaan laut dalam jangka panjang.”

Menurut WHO dalam laporannya: “Banyak peserta dalam proses penilaian kerentanan dan perencanaan adaptasi kerentanan di sekitar Pasifik yakin bahwa perubahan iklim akan menyebabkan memburuknya krisis NCD.”

Meskipun situasinya tampak semakin suram, bukan berarti negara-negara Kepulauan Pasifik tidak dapat beradaptasi dan mengurangi dampak kesehatan dari perubahan iklim.

Kita terus berjuang

Meskipun pembiayaan adaptasi kesehatan mungkin dapat menjadi masalah, menurut  WHO dampak perubahan iklim terhadap kesehatan hanya menerima tiga persen dari target pendanaan adaptasi saat ini, Pasifik terus melanjutkan pendekatan ‘kita terus berjuang’ menghadapi perubahan iklim.

“Sepanjang sejarah mereka, komunitas Pasifik telah lama menunjukkan tingkat ketahanan yang tinggi terhadap tantangan lingkungan,” WHO menyatakan.

Program adaptasi nasional Pasifik, yang dinilai dalam laporan WHO, memberikan jalur yang jelas untuk adaptasi dan mitigasi (perubahan iklim) yang efektif.

Maiava juga mengatakan penduduk di Pasifik semakin sadar akan isu ini dan menggunakan gagasan inovatif untuk menanam makanan organik dan sehat.

“Banyak orang melakukan upaya baik untuk meningkatkan kesadaran tentang menanam makanan sendiri dan membiasakan makan sehat. Saya adalah bagian dari organisasi yang bergerak di bidang ini. Selain itu, kami memiliki proyek kebun keyhole di Tokelau yang akan membantu setiap keluarga menumbuhkan makanan mereka sendiri,” katanya.

Perlu dukungan seluruh dunia

Namun, WHO mencatat pendekatan keseluruhan pemerintah dan keseluruhan masyarakat diperlukan untuk mengatasi risiko kesehatan akibat kepekaan terhadap perubahan iklim.

Dengan pertemuan COP23 yang semakin mendekat, diperlukan dukungan dari seluruh dunia untuk menanggulangi harga mahal kesehatan manusia yang rentan terhadap perubahan iklim.(Asia Pacific Report/ Elisabeth C. Giay)

loading...

Sebelumnya

Bougainville gelar KTT, susun peta jalan ekonomi

Selanjutnya

Vanuatu jadi tuan rumah Pekan Pertanian Pasifik pertama

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe