Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Dunia
  3. Kemerosotan tanah picu rawan pangan di Afrika
  • Senin, 02 Oktober 2017 — 15:08
  • 728x views

Kemerosotan tanah picu rawan pangan di Afrika

Kegiatan manusia yang tak berkelanjutan dan berlangsung di daerah yang sudah rentan dan ditambah parah oleh gangguan alam seperti kemarau atau banjir mengakibatkan kemerosotan tanah dan pada gilirannya penggurunan.
Sejumlah wanita menunggu untuk mendapatkan makanan di dapur umum yang didirikan pemerintah di Mogadishu, Somalia, akibat bencana kelaparan. Reuters/Jubi
Editor : Syam Terrajana

Papua No. 1 News Portal I Jubi

Nairobi, Kenya, - Kemerosotan tanah menjadi penyebab kondisi rawan pangan di Wilayah Afrika Timur, kata seorang ilmuwan Kenya baru-baru ini.

Eunice Wangui, insinyur senior Sistem Informasi Geografik (GIS) di Pusat Regional bagi Pemetaan Sumber Daya bagi Pembangunan (RCMRD) - kelompok pemikir Afrika mengenai ilmu pengetahuan antariksa- mengatakan satu studi yang dilakukan dengan menggunakan data satelit mengungkapkan kegiatan manusia yang tak berkelanjutan mengakibatkan kemerosotan kualitas tanah.

"Tuntutan akan lahan bagi pembangunan ekonomi dan tekanan dari peningkatan penduduk mengarah kepada perubahan penggunaan lahan yang tak pernah terjadi sebelumnya, yang pada gilirannya mengakibatkan kondisi rawan pangan," kata ilmuwati tersebut pada peserta konferensi ilmu pengetahuan antariksa di Nairobi, Kenya.

Wangui mengatakan RCMED memang melakukan penilaian kemerosotan tanah di Kenya, Uganda, Tanzania, Djibouti, Somalia, Sudan, Ethiopia, Sudan Selatan, Eritrea, Rwanda dan Burundi, dan mendapati Ethiopia, Kenya dan Burundi sangat terpengaruh.

Dia itu menyerukan dilancarkannya strategi reklamasi di ketiga negara tersebut dan wilayah Afrika pada umumnya, terutama di daerah tanah basah yang sangat terpengaruh oleh penggerogotan manusia.

"Masalah ini menjadi penyebab hilangnya produktivitas lahan dengan dampak pada kehilangan dan ekonomi," kata Wangui.

Ia mengungkapkan RCMRD telah berbagi peta yang dihasilkan oleh berbagai lembaga terkait pemerintah di Wilayah Afrika Timur guna memungkinkan mereka mengambil keputusan dengan dasar bukti yang berkaitan dengan perencanaan nasional dan ekosistem regional.

Temuan RCMRD tersebut, yang telah dihasilkan sejak studi itu dimulai pada 2013, saat ini membantu mendukung kajian kebijakan dan harmonisasi pembangunan lahan di wilayah tersebut.

Wilayah itu, yang memiliki penduduk 230 juta orang, telah kadangkala menghadapi kemarau dan kondisi rawan pangan.

Kegiatan manusia yang tak berkelanjutan dan berlangsung di daerah yang sudah rentan dan ditambah parah oleh gangguan alam seperti kemarau atau banjir mengakibatkan kemerosotan tanah dan pada gilirannya penggurunan.

"Kita perlu meningkatkan penggunaan data pengamatan Bumi bagi peningkatan keputusan mengenai penanganan sumber daya alam yang berkesinambungan," katanya.

Andalan ekonomi Wilayah Afrika Timur ialah pertanian, produksi pertanian dan ternak, yang menyediakan dasar bagi pasokan pangan dan pemasukian eksport, selain lapangan kerja buat lebih dari 80 persen penduduk.

Sektor pertanian --dalam pengertian yang paling luasnya-- memiliki sumbangan penting untuk menghasilkan pembangunan ekonomi di wilayah itu, dan menggerakkan hampir 70 persen pengasilan eksport.

Pada Maret lalu, Food Security Information Network (FSIN), badan kemanusiaan internasional yang bekerja sama dengan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) mengatakan, empat negara di Afrika bakal terancam krisis pangan akibat perang dan masalah ekonomi.

Selain akibat konflik, kata FSIN, penyebab krisis pangan itu adalah akibat kekeringan dan makro-ekonomi negeri itu ambruk.

"Negara yang terancam krisis pangaan adalah Nigeria, Somalia, Sudan Selatan dan Yaman," kata FSIN dalam laporannya, Jumat, 31 Maret 2017.

Data yang dimiliki FSIN menunjukkan, sebanyak 108 juta orang dihadapkan pada kondisi pangan memburuk pada 2016. Jumlah tersebut meningkat luar biasa bila dibandingkan dengan kondisi pada tahun sebelumnya yakni 80 juta orang.

"Kondisi rawan pangan pada 2017 kian meluas menghantam Irak, Suriah, termasuk pengungsi yang tinggal di beberapa negara. Malawi dan Zimbabwe juga tak terlepas dari masalah pangan," kata FSIN.

Disater Emergency Committee, jaringan organisasi kemanusian dari Inggris mengatakan, separuh jumlah penduduk Somalia sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan. Jumlah penduduk Somalia saat ini 6,2 juta orang.

Bahkan kondisi anak-anak di Somalia sangat mengenaskan. "Sebanyak 363 ribu anak di Somalia kekurangan gizi." (*)


Sumber: Antara/Tempo.co

 

 

#

Sebelumnya

Upaya Kurdistan ingin merdeka dari Irak

Selanjutnya

Yang mendukung, yang menentang kemerdekaan Kurdi

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe