TUTUP
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Mamta
  3. Kehadiran Jafar di Papua meresahkan
  • Selasa, 03 Oktober 2017 — 22:11
  • 2484x views

Kehadiran Jafar di Papua meresahkan

Dedi menyebutkan Kota Jayapura sebagai barometer kehidupan keberagamaan harus dijaga
ilustrasi simbol toleransi dan keberagaman, Jubi/ist
Hengky Yeimo
[email protected]
Editor : Edi Faisol

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal I Jubi,

Jayapura, Jubi - Ketua Majelis Umat Kristen Indonesia (MUKI) Kota Jayapura, Dedi Patywael, menilai kehadiran Jafar Umar Thalib di Papua, khususnya di kota Jayapura sangat meresahkan. Dedi menyebutkan Kota Jayapura sebagai barometer kehidupan keberagamaan harus dijaga.

"Sudah beberapa kali gabungan organisasi menyampaikan aspirasi ini kepada pemerintah daerah dan saya sendiri yang langsung menyampaikan menolak Jafar Umar Thalib,” kata Dedi kepada Jubi, Selasa (3/10/2017).

Ia meminta kepada aparat keamanan TNI dan Polri segera menindak. “Kami ketahui bersama bagaimana track record Jafar Umar Thalib yang terlibat dalam kerusuhan Poso dan tragedi Ambon dan juga beberapa konflik di tanah air,” kata Dedi menjelaskan.

Menurut Dedi, pemerintah harus selektif memberi izin pembangunan pesantren  di Papua. “Semua harus benar-benar jelas agar kita tidak lalai dan mengalami gesekan antara umat beragama,” katanya.

Perwakilan LSM Ilalang, Papua, La Hardin mengatakan  pimpinan Jafar Umar Thalib pernah bentrok dengan warga Dikoya. Namun sekarang pindah ke Keerom membangun pesantren semi permanen. “Bentrok pada tahun 2015, sekarang pindah lagi ke Keerom,” kata La Hardin.

Menurut dia Pemkab Keerom sudah mengeluarkan surat peringatan hingga ketiga, namun Jafar tidak menunjukkan itikad baik memenuhi Surat Izin Mendirikan Bangunan dan izin operasional.  “Surat ketiga diberikan sebagai ultimatum segera mengosongkan lahan dan bangunan bangunan yang didirikan oleh Jafar Umar Thalib,” katanya

La Hardin juga menolak keberadaan Jafar Umar Thalib di Papua khususnya di Kabupaten Keerom dengan alasan akan mengancam hubungan toleransi umat beragama di sana.(*)

loading...

Sebelumnya

Polisi bubarkan pemutaran dan diskusi film G 30.S

Selanjutnya

Kebersihan terminal bandara Sentani tergantung kesadaran masyarakat

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe
wso shell IndoXploit shell wso shell hacklink hacklink satış hacklink wso shell evden eve nakliyat istanbul nakliyat evden eve nakliyat istanbul evden eve nakliyat evden eve nakliyat istanbul nakliyat