Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Penkes
  3. Penerapan K-13 dirasa berat bagi orang tua dan guru
  • Rabu, 04 Oktober 2017 — 10:57
  • 886x views

Penerapan K-13 dirasa berat bagi orang tua dan guru

Pelaksanaan Kurikulum 2013 (K-13) di beberapa sekolah ternyata dirasa berat oleh pihak sekolah, guru, dan orang tua murid. Sekolah di pinggiran kota Sentani, SD Inpres Hawai, adalah salah satunya.
Siswa-siswi SD Inpres Hawai saat berada di dalam kelas - Jubi/Yance Wenda
Yance Wenda
yan_yance@ymail.com
Editor : Dewi Wulandari

Papua No. 1 News Portal I Jubi,

Sentani, Jubi – Pelaksanaan Kurikulum 2013 (K-13) di beberapa sekolah ternyata dirasa berat oleh pihak sekolah, guru, dan orang tua murid. Sekolah di pinggiran kota Sentani, SD Inpres Hawai, adalah salah satunya.

Kendala penerpan K-13 di sekolah tersebut adalah materi pelajaran yang setiap bulan berubah disesuaikan tema pembelajaran dan latar belakang ekonomi para orang tua murid yang hanya pas-pasan.

“K-13 ini mungkin hanya cocok di kalangan orang tua murid yang mampu. Karena kita yang sekolah di pingiran ini sulit terapkan. Setiap bulan itu harus ganti tema berarti harus ganti buku,” kata Kepala Sekolah SD Inpres Hawai, Tiarley Samosir, saat ditemui Jubi, Selasa (3/10/2017).

Tiarley mengatakan berbagai upaya sudah dilakukannya sekolah tersebut dapat merapkan K-13.

“Kami download materi pembelajaran dari website Kemendikbud. Kami print dan bagikan ke siswa yang orang tuanya tidak mampu fotokopi. Kami bantu anak-anak dengan menulis dan gambar-gambar. Yang penting K-13 bisa kami terapkan di sekolah ini,” jelasnya.

Tiarley mengatakan K-13 sudah mulai diberlakukan di SD Inpres Hawai tahun 2016.

“Semuanya macam mengawali begitu. Kelas 1 dan 4 itu bukunya belum beres, datang lagi kelas 2 dan 5. Jadi bukan guru saja yang rasa berat, saya sendiri juga rasa setengah mati,” ujar Tiarley Samosir jujur.

SD Inpres Hawai adalah sekolah di pinggiran kota dan banyak menghadapi persoalan, baik guru, orang tua wiswa, dan juga kepala sekolah.

”Orang tua anak-anak ini bisa dikatakan 50 persen kategori menengah ke bawah. Mungkin sekolah lain sudah belajar tema 4 sampai 8, kita baru mulai dari tema 2 atau 3, pelan-pelan saja. Kami tidak bisa paksakan kemampuan orang tua murid terkait pengadaan buku atau bahan pembelajaran,” ujar Samosir.

Walau tidak berjalan sesuai target baku dari pemerintah namun SD Inpres Hawai tetap menyesuaikan dengan bahan pembelajaran yang selama ini bisa diusahakan dan sekolah ini tetap menjalankan K-13.

“Seusai kesepakatan antara orang tua dan guru, terkait penerapan K-13 di sekolah ini, orang tua tidak boleh protes sekolah jika anak minta uang untuk membeli buku, karena pergantian buku ini sesuai tema pembelajaran,” jelas.

Tiarley mengakui penerapan K-13 cukup berat. Tapi karena K-13 sudah penjadi program nasional, pihaknya tetap mendukung dan melaksanakannya sesuai kemampuan yang ada.

Pihaknya berharap ada partisipasi aktif dari orang tua siswa dan juga dukungan dari pemerintah, misalnya dengan pengadan buku materi pembelajaran.

Di tempat  terpisah, ibu Selly Weya, orang tua siswa SD Inpres Hawai, mengatakan banyak orang tua murid yang belum paham apa itu K-13 karena mereka memiliki latar belakang pendidikan dan tingkat sosial ekonomi berbeda-beda.

"Banyak orang tua yang belum paham. Itu kurikulum yang diterapkan ini beli buku terus setiap bulan. Hanya komite sekolah saja yang pikir. Ada solusi lain kah yang bisa diterapkan," ucapnya. (*)

 

loading...

Sebelumnya

Mahasiswa demo balik ketua STISIPOL

Selanjutnya

ISBI konsisten kembangkan seni dan pariwisata

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe