Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Dunia
  3. Oxford copot gelar kehormatan Suu Kyi
  • Kamis, 05 Oktober 2017 — 18:39
  • 506x views

Oxford copot gelar kehormatan Suu Kyi

Untuk menghormati tradisi Oxford, sebagai kota yang beragam dan manusiawi agar tidak tercoreng dengan orang-orang yang menutup mata pada kekerasan,
Aung San Suu Kyi. Jubi/Reuters
Editor : Syam Terrajana

Papua No. 1 News Portal I Jubi
Inggris, Jubi - Setelah lukisannya dicopot dari Universitas Oxford, pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi juga dikabarkan akan kehilangan gelar kehormatan yang ia dapat dari dewan kota di tenggara Inggris itu.

Dewan kota menyatakan keputusan tersebut diambil pada awal pekan ini atas persetujuan lintas partai yang menyimpulkan bahwa Suu Kyi "sudah tidak pantas" menyandang gelar tersebut.

Gelar kehormatan Freedom of Oxford yang diberi pada 1997 lalu ini dicabut karena Suu Kyi dianggap tidak mampu berbuat banyak dalam menyelesaikan krisis kemanusiaan di Rakhine, terutama terhadap etnis minoritas Muslim Rohingya.

Suu Kyi dianggap tidak vokal untuk melindungi negaranya sendiri sejak bentrokan antara kelompok bersenjata dan militer Myanmar kembali mencuat di Rakhine pada akhir Agustus lalu, yang hingga kini sudah menewaskan 1.000 korban, terutama Rohingya.

Anggota dewan dari Partai Buruh, Mary Clarkson, menuturkan minimnya respons dan pengelakan Suu Kyi atas sejumlah bukti kekerasan terhadap Rohingya juga menjadi alasan gelar tersebut dicopot.

"Dalam mengambil tindakan ini, kami mendasarinya dengan beberapa alasan. Pertama, sebagai ungkapan suara kami yang ikut menyerukan keadilan dan pemenuhan HAM bagi orang Rohingya," kata Clarkson.

"Kedua, untuk menghormati tradisi Oxford, sebagai kota yang beragam dan manusiawi agar tidak tercoreng dengan orang-orang yang menutup mata pada kekerasan," ujarnya menambahkan.

Dewan kota Oxford juga mengatakan sudah menulis surat kepada Suu Kyi dan memintanya "melakukan apa pun yang dia bisa untuk menghentikan pembersihan etnis di negaranya."

Sejauh ini belum ada tanggapan dari wanita 72 tahun itu mengenai pelucutan gelar ini.

Rekomendasi penarikan gelar ini diperkirakan akan selesai pada November mendatang.

Sementara itu, Myanmar setuju untuk mengambil kembali ratusan ribu pengungsi Rohingya yang melarikan diri dari tindakan brutal militer ke Bangladesh dalam beberapa pekan terakhir.

Setiap Rohingya yang menjadi pengungsi di Bangladesh akan diverifikasi oleh kelompok kerja gabungan tanpa melibatkan PBB.

Menteri Luar Negeri Bangladesh AH Mahmood Ali mengatakan bahwa Myanmar bersedia membawa lebih dari 500.000 Rohingya yang teraniaya tersebut setelah melakukan pembicaraan pada hari Senin, 2 Oktober 2017 dengan pejabat tinggi Myanmar, Kyaw Tint Swe di Dhaka, ibukota Bangladesh.(*)

Sumber: CNN Indonesia/Tempo.co
 


 


 


 


 

#

Sebelumnya

Keinginan merdeka Catalonia, dari sejarah hingga sepak bola

Selanjutnya

Kelompok anti nuklir menangkan nobel perdamaian

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe