Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Jawa
  3. Penyebab kader Golkar banyak terjerat korupsi
  • Jumat, 06 Oktober 2017 — 17:41
  • 1424x views

Penyebab kader Golkar banyak terjerat korupsi

Evaluasi mendasar kaderisasi perlu dilakukan untuk memperoleh kader baru yang jauh memiliki integritas dan visioner
Ilustrasi. Viva.co.id/Jubi
Editor : Syam Terrajana

Papua No. 1 News Portal I Jubi

Jakarta, Jubi - Koordinator Pemenangan Pemilu Indonesia I DPP Partai Golkar Nusron Wahid mengatakan partainya telah mencetak rekor buruk karena tujuh kadernya tertangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam sebulan. "Naudzubillah," katanya.

Menurut Nusron, banyaknya kader Golkar yang korupsi mungkin karena ada biaya politik yang tinggi, seperti mahar, agar bisa dicalonkan sebagai kepala daerah. Padahal Golkar seharusnya tidak meminta iuran apa pun kepada tokoh yang akan diusungnya. "Enggak, enggak ada," tuturnya.

Penyebab lain adalah sifat tamak yang dimiliki para koruptor tersebut, yang ingin berlomba memupuk kekayaan dengan memanfaatkan jabatannya. "Partai Golkar harus punya komitmen yang tegas, harus membuat instrumen sistem yang jelas, supaya tidak ada kader yang koruptif. Ini refleksi yang harus kami bangun," katanya.

Beberapa kepala daerah yang terjaring dalam operasi tangkap tangan KPK merupakan kader Partai Golkar, seperti Wali Kota Tegal Siti Masitha dan Bupati Batubara O.K. Arya Zulkarnaen.

Selain itu, Ketua Umum Partai Golkar sempat dijerat sebagai tersangka dalam kasus kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP) oleh KPK. Namun, lewat putusan praperadilan, status tersangka Setya Novanto dinyatakan tidak sah.

Elektabilitas Partai Golkar disebut anjlok setelah ada beberapa kasus korupsi yang menyeret kadernya. Karena itu, tim kajian elektabilitas Partai Golkar merekomendasikan Setya Novanto dinonaktifkan sebagai ketua umum.

Apa yang terjadi pada Partai Golkar hari ini, seperti yang menerpa Partai Demokrat beberapa tahun lalu. Akbar Tandjung pun buka suara.

Wakil Ketua Dewan Kehormatan Golkar itu khawatir status tersangka yang disandang Setnov bisa membuat Golkar tak bisa meraih kursi DPR pada Pemilu Legislatif 2019.

Elektabilitas partai berlogo beringin itu pada Mei lalu melorot di angka 7,1 persen atau separuh dari hasil Pemilu 2014 sebesar 14,1 persen.

“Yang paling saya takutkan adalah penurunannya sampai pada level yang di bawah parliamentary threshold 4 persen. Kalau di bawah itu artinya Golkar tidak punya wakil dan Golkar itu tidak ada,” kata Akbar, akhir september lalu kepada CNN Indonesia.

Pengamat politik dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedillah Badrun mengatakan, organisasi politik sebesar Golkar, yang sudah tua dan banyak pengalaman seharusnya tak terjebak dalam perilaku koruptif.

Menurut pria yang akrab disapa Ubed itu, Golkar yang kini dipimpin tersangka dugaan korupsi harus melakukan pembenahan mendasar terkait strategi kaderisasi dan politiknya.

"Evaluasi mendasar kaderisasi perlu dilakukan untuk memperoleh kader baru yang jauh memiliki integritas dan visioner," kata Ubed.(*)

Sumber: Tempo.co/CNN Indonesia
 

loading...

#

Sebelumnya

Ketua STTB: Peminat sekolah teologi berkurang, gereja harus kaderkan pemuda

Selanjutnya

Kabupaten Jayawijaya cairkan dana penanggulangan AIDS

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe