Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Penkes
  3. Kasus Puti, potret buruknya pelayanan kesehatan di Korowai
  • Minggu, 08 Oktober 2017 — 17:36
  • 794x views

Kasus Puti, potret buruknya pelayanan kesehatan di Korowai

"Masih banyak masyarakat dan anak Korowai menderita, tidak mendapat pelayanan kesehatan. Jangan ketika ada kasus, banyak orang ingin ke Korowai. Kesehatan dan sumber daya manusia Korowai yang harus diperhatikan," kata Soleman kepada Jubi akhir pekan lalu. 
Ketua TPKP Rimba Papua, Norbeth Bobii, Sekretaris TPKP Rimba Papua, Soleman Itlay, dan Ketua Kopkedat Papua, Yan Akobiarek - Jubi/Arjuna 
Arjuna Pademme
harjuna@tabloidjubi.com
Editor : Galuwo

Papua No. 1 News Portal I Jubi

Jayapura, Jubi - Sekretaris Tim Peduli Kesehatan dan Pendidikan (TPKP) Rimba Papua, Soleman Itlay mengatakan, kasus Puti Hatil, anak lelaki berusia tiga tahun yang menderita bisul di pipi kirinya hingga berlubang, menggambarkan buruknya kondisi kesehatan suku Korowai, di selatan Papua.

Ia mengatakan wilayah Korowai berada di batas lima kabupaten yakni Boven Digoel, Asmat, Mappi, Yahukimo, dan Pegunungan Bintang. 

"Masih banyak masyarakat dan anak Korowai menderita, tidak mendapat pelayanan kesehatan. Jangan ketika ada kasus, banyak orang ingin ke Korowai. Kesehatan dan sumber daya manusia Korowai yang harus diperhatikan," kata Soleman kepada Jubi akhir pekan lalu. 

Menurutnya, anak-anak Korowai harus mendapat pendidikan layak, minimal nantinya mereka dapat menjadi pendidik atau tenaga kesehatan, untuk melayani masyarakatnya.

Katanya, dana kesehatan di Papua sebaiknya dibagi. Jangan hanya diberikan ke dinas, tapi kepada mereka yang kerja di lapangan dengan sukarela, tanpa berharap kepada pemerintah. 

"Kita bersaing, siapa yang dapat membawa masyarakat kepada perubahan begitu juga di bidang pendidikan," ujarnya.

Ketua Komunitas Peduli Kemanusiaan Daerah Terpencil (Kopkedat) di Papua, Yan Akobiarek mengatakan, sudah dua tahun pihaknya menyuarakan masalah kesehatan dan pendidikan di Korowai. 

"Beberapa bulan lalu, kami berdiskusi dengan Dinas Kesehatan Papua, dan kepala dinas mengutus tiga petugas ke Korowai untuk mengambil data awal," kata Yan.

Katanya, Dinas Kesehatan Papua berjanji akan menurunkan tim medis ke Korowai. Namun hingga kini hal itu tidak terwujud. 

"Juli lalu, saya satu bulan di Korowai dan masyarakat menanyakan hal ini kepada saya, saya bingung mau jawab apa," ucapnya.

Menurutnya, kini ketika kasus Puti Hatil, ramai diperbincangkan publik, para pejabat ingin menjenguknya di RS Dian Harapan, tempat Puti dirawat. 

"Bahkan kabarnya menteri akan datang. Apakah nanti orang mau meninggal baru para pejabat mau melihatnya, sedangkan di Korowai masih banyak yang butuh bantuan," ujarnya.  

Suku Korowai lanjut dia, kebanyakan kekurangan gizi lantaran hanya mengkonsumsi sagu bakar, pisang hutan, hasil berburu, ulat sagu, dan apa yang disediakan alam.

"Tidak ada asupan gizi lain. Kami harap ke depan, anak-anak Korowai juga mendapat imunisasi, seperti anak di wilayah lain. Dinas kesehatan Papua dan menteri kesehatan segera menurunkan tim medis ke Korowai. Wilayah suku Korowai ini luas, dan dihuni banyak sub-sub suku," ucapnya. (*)

Sebelumnya

Demi kesembuhan anaknya, ayah ini berjalan kaki 10 jam

Selanjutnya

Klinik misionaris, satu-satunya harapan suku Korowai

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe