Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Jawa
  3. Diskusi Gus Dur dan rakyat Papua digelar di Semarang
  • Selasa, 10 Oktober 2017 — 09:23
  • 1448x views

Diskusi Gus Dur dan rakyat Papua digelar di Semarang

Acara yang digelar pada Rabu 11 Oktober 2017 di Sekber Gusdurian dan Hikmahbudhi, jalan Ayodyapala nomor 44 kota Semarang itu akan mengupas pemikiran Gus Dur dan kondisi masyarakat Papua secara global.
Pamflet diskusi bertema Gus Dur dan rakyat Papua, yang digelar komunitas Gusdurian Semarang, Dok/Gusdurian
Edi Faisol
redaksi@tabloidjubi.com
Editor : Edi Faisol

Papua No. 1 News Portal I Jubi,

Semarang, Jubi - Komunitas Gusdurian Semarang menggelar diskusi bertema Gus Dur dan rakyat Papua, dengan kajian kondisi masyarakat Papua dan sikap Gus Dur saat memimpin negeri ini.

Acara yang digelar pada Rabu 11 Oktober 2017 di Sekber Gusdurian dan Hikmahbudhi, jalan Ayodyapala nomor 44 kota Semarang itu akan mengupas pemikiran Gus Dur dan kondisi masyarakat Papua secara global.

“Membicarakan Papua berarti akan membicarakan tentang salah satu kengiluan yang dialami bangsa kita,” kata Umi Ma'rufah, penyelenggara acara diskusi, di Semarang, Selasa (10/10/2017)

Ia menjelaskan pembicara diksusi menghadirkan Janua Adi, aktivis Aliansi Mahasiswa Papua  dan Abdul Ghoffar, koordinator Gusdurian Semarang.

Diskusi itu bagian dari keresahan Gusdurian yang menilai  sampai saat ini negeri paling timur di Indonesia itu masih mengalami ketertindasan hak asasi manusia. “Mulai dari kurangnya akses pendidikan dan kesejahteraan warganya, sampai pembungkaman dan penembakan,” kata Umi menambahkan.

Kondisi itu mengingatkan sikap Gus Dur saat menjabat sebagai Presiden dan melakukan pendekatan kepada rakyat Papua. Umi menyebutkan, saat itu Gus Dur tidak hanya meminta maaf atas perlakuan buruk yang telah dilakukan pemerintahan sebelumnya terhadap rakyat Papua.

“Gusdur juga mengembalikan nama Papua yang sebelumnya hanya boleh menggunakan nama Irian,” kata Umi menjelaskan.

Selain itu Gusdur juga memberikan izin menggelar Kongres Rakyat Papua II, bahkan ikut mendanai kegiatan tersebut. Apa yang telah dilakukan oleh Gusdur itu dinilai sangat berbekas di hati rakyat Papua yang sangat membutuhkan ruang demokrasi. “Sehingga rakyat Papua menjuluki Gusdur sebagai Bapak Papua,” kata Umi mengenang .

Sayangnya setelah berakhirnya masa kepemimpinan Gusdur, rakyat Papua kembali kepada masa-masa mencekam. Dimana ruang-ruang demokrasi mulai dibatasi, diskriminasi dan intimidasi masih mereka dapati.

Gusdurian Semarang mencatat Agustus lalu, sekitar 17 warga mengalami tembakan dari aparat  kepolisian, saat warga protes atas ketidakmauan PT Putra Dewa Paniai (PDP) meminjami mobil untuk warga yang tenggelam di sungai tempat perusahaan tersebut membangun jembatan.

“Ini hanya satu kasus dimana masih banyak perlakuan sejenis lainnya menimpa rakyat Papua tanpa ada media yang memberitakannya,” katanya.

Franz Magnis dalam pengantarnya  buku karya Muhammad AS Hikam, berjudul Gus Dur Ku, Gus Dur Anda dan Gus Dur Kita, menyebutkan Gus Dur percaya pada Orang Papua.

“Gus Dur tahu cara untuk merebut hati suatu masyarakat yang puluhan tahun merasa tersinggung, tidak dihormati, dan bahkan dihina. Karena itu orang-orang Papua mencintai Gus Dur ," ujar Franz Magnis dalam kata pengantar buku itu. (*)

loading...

Sebelumnya

Manajemen Persipura perlu koreksi Wanderley

Selanjutnya

Komentar miring Persipura, Walkot Mano : Masyarakat semakin peduli

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe