Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Penkes
  3. ISBI Tanah Papua rayakan Dies Natalis ke-3
  • Selasa, 10 Oktober 2017 — 15:04
  • 724x views

ISBI Tanah Papua rayakan Dies Natalis ke-3

Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Tanah Papua menggelar Dies Natalis ke-3 di lingkungan kampus tersebut, Jumat (6/10/2017) pekan lalu. Dies Natalis tahun ini mengangkat tema spiritual dan pariwisata.
Mahasiswa dan dosen ISBI Tanah Papua dalam sebuah seminar yang digelar sebelum acara puncak Dies Natalis ke-3 - Jubi/Abeth You 
Yance Wenda
yan_yance@ymail.com
Editor : Dewi Wulandari

Papua No. 1 News Portal I Jubi,

Sentani, Jubi - Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Tanah Papua menggelar Dies Natalis ke-3 di lingkungan kampus tersebut, Jumat (6/10/2017) pekan lalu. Dies Natalis tahun ini mengangkat tema spiritual dan pariwisata.

“Kita ini sekolah seni. Seni itu ada di dalam jiwa manusia yang berekspresi. Seni tidak hanya berupa barang tetapi dia memiliki spirit di dalamnya dan ini sudah diwarisi sejak dulu. Apalagi Papua itu sungguh luar biasa,” kata Rektor ISBI Tanah Papua,  Dr I Wayan Ray, saat ditemui Jubi usai acara.

I Wayan Ray menjelaskan dalam patung-patung seperti patung Asmat dan patung lain memiliki jiwa. Hal seperti ini yang mau dibangun dan mengingatkan selalu pada mahasiswa ISBI. Dalam berkesenian hendaknya tidak hanya di luarnya saja tetapi harus jauh ke dalam hati sanubari.

“Dalam konteks pariwisata, saat ini Papua menjadi salah satu tujuan wisata di Indonesia. Intinya, dalam memandang konteks adat, seni, dan pariwisata itu harus berbeda,” ucapnya.

Rektor ISBI asal pulau Dewata ini mengatakan apabila ada pengembangan kesenian tari, lukis, atau kesenian lain, harus dibuat rambu-rambu yang tegas antara seni untuk ritual dan seni untuk pariwisata. Kalau tidak akan rancau nantinya dan rawan menimbulkan gesekan.

“Sebelum perayaan dies natalis ini, beberapa hari sebelumnya kami berdiskusi tentang tema yang akan kami angkat. Ada empat orang narasumber yang kami datangkan dari Bali, Dewan Kesenian, dan pakar seni,” tutur I Wayan Ray.

Wayan Ray mengatakan pihaknya ingin mengangkat unsur-unsur budaya dari tujuh wilayah adat di tanah Papua. Itu yang juga akan diajarkan kepada mahasiswa ISBI. Papua sangat kaya dan memiliki keunikan dan ini yang harus dihormati.

“Nilai itulah yang kita gali dan kita jadikan karya seni baru, sehingga karya seni itu tidak saja menghasilkan keindahan bentuk lukisannya, musiknya, tetapi keindahan museumnya harus ada nilai budaya Papua. Dengan demikian karya anak Papua itu memiliki identitas,” jelas Ray.

Wakil Rektor II ISBI Tanah Papua, Dr Yunus Wafom, mengatakan walapun dies natalis dilaksanakan sederhana tetapi ada satu sukacita dan harapan bahwa masa depan ISBI bisa menjawab seni dan budaya di Tanah Papua akan berkembang cerah. Banyak orang akan melihat ISBI sebagai salah satu yang bisa menjawab persoalan dalam seni dan budaya Papua.

“Karena selama ini banyak yang mau bicara tapi bingung mau bicara dimana. Memang ada kelompok yang namanya sangar-sangar, ada dinas kebudayaan, dinas pendidikan, tetapi lewat kesenian setidaknya ada lembaga kesenian di pendidikan tinggi dari sisi konsep, teori,  dalam kemajuan seni dan budaya di Tanah Ini,” katanya. (*)

 

loading...

Sebelumnya

Pemprov akan bangun lima sekolah berpola asrama di lima wilayah adat

Selanjutnya

50 tahun, STFT Fajar Timur makin jauh dari corak Papua

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe