Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Pasifik
  3. Lahan terbatas, warga Port Moresby ganti metode pemakaman
  • Rabu, 11 Oktober 2017 — 06:36
  • 461x views

Lahan terbatas, warga Port Moresby ganti metode pemakaman

Gubernur National Capital District (Distrik Ibukota Nasional), Powes Parkop, mengatakan masyarakat harus mulai beradaptasi dengan kremasi sebagai jalan ke depan untuk kota itu yang selalu berhadapan dengan masalah kekurangan lahan.
Kota Port Moresby menghadapi masalah akibat berkurang drastisnya ketersediaan lahan di satu-satunya pemakaman umum di kota tersebut – Post Courier PNG
Post Courier
redaksi@tabloidjubi.com
Editor : Zely Ariane

Papua No. 1 News Portal I Jubi,

Port Moresby, Jubi – Kota Port Moresby menghadapi sebuah masalah yang kian memburuk yaitu berkurangnya ketersediaan lahan di satu-satunya pemakaman umum di Nine-Mile secara drastis.

Hal itu memaksa munculnya wacana agar menggantikan kebiasaan penguburan tradisional dengan kremasi secepat mungkin.

Badan National Capital District Commission (Komisi Distrik Ibu Kota Nasional, NCDC) mengatakan perubahan metode pemakaman melalui penguburan ini akan terjadi dalam waktu kurang dari 15 tahun namun mereka (NCDC) sudah mulai mencari altenatif lain akibat sedikitnya sisa lahan yang tersedia untuk kuburan umum yang diperkirakan akan habis dalam beberapa tahun ke depan.

Hari ini lahan yang digunakan untuk kompleks pekuburan itu sudah sampai di daerah perbukitan di sampingnya. Dulunya area tersebut merupakan batas dari dataran rendah yang memang ditujukan untuk pemakaman umum di sepanjang Jalan Sogeri. Area pekuburan telah melewati batas zonasi lahan.

Pengelola kota Leslie Alu mengatakan bahwa NCDC mungkin tidak akan memiliki pilihan lain untuk menghadapi isu ini dan harus mempertimbangkan sistem yang baru dan lebih berkesinambungan, termasuk kremasi dan sistem ruangan dengan sejumlah lemari loker (locker rooms).

Menurut Divisi Kesehatan NCDC, Pemakaman umum Port Moresby di Nine-Mile hanya memiliki waktu paling lama 15 tahun sebelum ia mencapai kapasitas penuh,.

Hal ini telah memaksa pemerintah ibukota mempertimbangkan pilihan lain, termasuk melakukan kremasi.

Sembari mengakui keseriusan masalah ini, pengelola kota, Leslie Alu, mengungkapkan sebagai skenario terburuk komisi tersebut, berdasarkan analisa biaya akan menggunakan alternatif kremasi atau menyimpan jasad menggunakan sistem loker di fasilitas penyimpanan masal.

Dia mengatakan opsi ini akan diangkat melalui pengajuan resmi ke dewan NCDC pada akhir tahun ini.

“Ketika kota ini (nanti) harus menampung lebih dari dua juta penduduk, dan kita hanya memiliki lahan seluas 250 kilometer persegi, maka kita tidak memiliki cukup ruang. Sehingga kita mungkin harus mulai melihat ke opsi itu, tapi kita akan melakukan survei terlebih dahulu nanti untuk mendapatkan persepsi warga kota Moresby“, katanya seraya menambahkan pandangan masyarakat akan menjadi pertimbangan tertentu yang khusus mengingat tingginya sensitivitas dan faktor budaya yang melekat pada isu ini.

Kepala Survei Kesehatan NCDC Isoa More yang bertanggung jawab atas pemakaman umum tersebut mengatakan pemakaman itu dibangun pada tahun 1960-an dan hingga sekarang setengah dari lahan yang dialokasikan tersebut telah digunakan, namun cepat atau lambat lahan seluas 79 hektar itu tidak dapat menampung banyaknya jumlah kuburan, terutama dengan meningkatnya populasi perkotaan.

“Kami mendorong masyarakat melakukan kremasi, tapi keputusan itu harus diambil oleh setiap orang, dan kami tidak dapat memaksakannya,” katanya, sembari menambahkan bahwa perubahan menuju pemakaman menggunakan kremasi akan mengurangi penggunaan lahan untuk penguburan yang memerlukan banyak biaya untuk dikelola (penguburan).

Peningkatan populasi dan migrasi ke perkotaan dan kemajuan pembangunan yang pesat di ibukota tidak membantu sama sekali, dengan sebagian besar lahan digunakan untuk fungsi lainnya, tidak ada lahan yang tersisa untuk ekspansi area pekuburan jika tidak ada langkah kongkrit yang diambil,” tegasnya.

Gubernur National Capital District (Distrik Ibukota Nasional), Powes Parkop, mengatakan masyarakat harus mulai beradaptasi dengan kremasi sebagai jalan ke depan untuk kota itu yang selalu berhadapan dengan masalah kekurangan lahan.

Pedagang Dona Supa yang tinggal di New Town di daerah pemilihan Moresby Selatan mengatakan meski kremasi adalah ide baru, tetap lebih baik daripada penguburan karena harganya lebih murah, terutama karena mereka mencoba hidup dengan anggaran terbatas di daerah perkotaan yang terkenal dengan harga barang dan jasa yang terus meningkat.

Dia menceritakan ketika ayahnya meninggal pada tahun 2013 di kota tersebut, mereka mengirimkan kembali jenazahnya ke provinsi asal mereka di Simbu dan harus mengumpulkan sekitar K 20.000 untuk membiayainya.

Ini sangat mahal dibandingkan dengan biaya kremasi yang dikenakan oleh sebuah rumah duka di kota tersebut, mulai dari K 500 untuk bayi hingga  K 3.300 untuk orang dewasa, dan umumnya digunakan oleh ekspatriat dan warga PNG dengan ras campuran.

Pihak gereja juga terbagi pendapatnya tentang apakah mereka akan menyerahkan jenazah untuk dikuburkan melalui penguburan tradisional atau dikremasi.

Pastor Victor Roche dari Catholic Bishops Conference of PNG and the Solomon Islands (Konferensi Uskup Katolik PNG dan Kepulauan Solomon) mengatakan meskipun mereka lebih memilih penguburan, tetapi gereja tersebut juga menerima kremasi.

Namun Pastor Peter Dege dari True Church of Jesus Christ menentang ide ini  dengan mengutip sekitar 35 ayat-ayat di Alkitab yang menyoroti penguburan sebagai praktik pemakaman orang Kristen.

Dia mengatakan PNG sebagai negara Kristen seharusnya tidak menyimpang dari tradisi ini.

Dia juga mengatakan bahwa Port Moresby, apalagi PNG secara keseluruhan, memiliki lahan yang luas untuk bisa dijadikan tempat pemakaman.(Elisabeth C.Giay)

Sebelumnya

Satu lagi gunung api di Vanuatu yang meresahkan

Selanjutnya

FAO berperan dalam keamanan dan kebersihan pangan Pasifik

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe