Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Ekonomi
  3. Nerce Maniani, 52 tahun berjualan ikan asar di pasar Sentani
  • Sabtu, 14 Oktober 2017 — 15:13
  • 1933x views

Nerce Maniani, 52 tahun berjualan ikan asar di pasar Sentani

Banyak pekerjaan yang bisa dilakukan di atas tanah ini. Hanya kemauan dan keseriusan yang harus terus dijaga dalam melakukan usaha apapun. Ini yang dilakukan Nerce Maniani, peremuan asal Serui, yang sudah sekitar 52 tahun menekuni berjualan ikan asar di pasar Sentani, sejak dia berusia 13 tahun.
Nerce Maniani saat berjualan ikan asar di pasar Pharaa Sentani, kabupaten Jayapura - Jubi/Yance Wenda 
Yance Wenda
yan_yance@ymail.com
Editor : Dewi Wulandari

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Sentani, Jubi - Banyak pekerjaan yang bisa dilakukan di atas tanah ini. Hanya kemauan dan keseriusan yang harus terus dijaga dalam melakukan usaha apapun. Ini yang dilakukan Nerce Maniani, peremuan asal Serui, yang sudah sekitar 52 tahun menekuni berjualan ikan asar di pasar Sentani, sejak dia berusia 13 tahun.

 “Saya sudah jualan dari umur 13 tahun. Sekarang mama pu umur 65 tahun. Jualan dari pasar lama sampai ke pasar baru (Pharaa-Red) ini. Sampai mama punya cucu juga mama masih tetap jualan ikan asar ini,” katanya, saat ditemui Jubi, di pasar Pharaa, Sentani, kabupaten Jayapura, awal pekan ini.

Mama Maniani, begitu ia biasa disapa, bercerita dari dulu pasar ikan yang banyak dikunjungi adalah pasar Hamadi di kota Jayapura. Ikan hasil tangkapan nelayan di Jayapura, sebagian besar dijual di pasar Hamadi. Masyarakat atau pedagang yang mau belanja, mengambil ikan di pasar Hamadi.

“Mama ambil ikan segar di pasar Hamadi. Bawa pulang ke rumah untuk diasar (diasap-Red). Ini mama bikin sendiri. Dalam sehari mama bawa tiga keranjang ikan asar. Kalau satu keranjang saja yang habis, nanti sisanya mama bawa pulang. Ikan ini tidak bisa lewat tiga hari, nanti warnanya pucat karena ikan kering,” ucapnya.

Ibu lima anak ini mengatakan harga ikan asar yang dijualnya bervariasi, sesuai dengan ukuran ikan. Terkadang harga ikan naik karena faktor cuaca.

“Bulan kemarin murah. Ekor kuning ukuran sedang Rp 25 ribu. Kalo yang kecil Rp 10 ribu. Sekarang juga masih murah. Mama biasa kasih harga Rp 25 ribu – Rp 30 ribu. Ikan ini mama ambil di Hamadi Rp 25 ribu. Mama jual disini Rp 50 ribu,” kata mama Maniani, sambil menunjukkan ikan dagangan yang berukuran paling besar diantara ikan yang lain.

Mama Maniani mengatakan pendapatannya dari jualan ikan asar tidak menentu. Dalam satu bulan dia bisa mengantongi uang sekitar Rp 5 juta.  

“Tapi pendapatan bersih Mama hanya sekitar Rp 3 juta. Mama juga harus kasih uang mereka yang bantu kerja. Biasanya Mama kasih Rp 100 ribu,” ucapnya.

Doni, seorang pelanggan Mama Maniani, mengatakan jika mau berangkat atau kirim barang ke Wamena, dirinya lebih senang beli ikan asar karena gampang dibawa.

“Kalau ada uang itu pasti beli 1 atau 2 ekor. Saya beli untuk makan bersama keluarga di rumah. Keluarga saya semua suka ikan asar,” tuturnya. (*)

 

loading...

Sebelumnya

Kampanye GNNT, BI gelar berbagai bentuk sosialisasi

Selanjutnya

BI gencarkan kampanye transaksi nontunai ke masyarakat

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe