Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Pasifik
  3. Peringati kemerdekaan Fiji dengan napak tilas
  • Senin, 16 Oktober 2017 — 15:28
  • 608x views

Peringati kemerdekaan Fiji dengan napak tilas

Sebagai bangsa kita masih berusaha menemukan jalan keluar dari labirin, kebingungan, kekacauan, pergolakan, kerumitan, atau apapun itu.
Anggota Masyarakat merayakan Hari Fiji di sepanjang jalan-jalan di Suva tahun 2014 – fijivillage.com/Vijay Narayan and Sharon Diptika
Editor : Zely Ariane

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Suva, Jubi – Kemerdekaan Fiji terjadi pada pukul 10.00, pada tanggal 10 Oktober 1970 - tepat 96 tahun setelah Fiji menjadi Koloni Kerajaan Inggris pada tahun 1874 akibat pembayaran hutang Ratu Seru Epenisa Cakobau kepada Amerika.

Cakobau adalah seorang kepala suku dan panglima perang Fiji yang mengklaim kerajaan atas Fiji pada tahun 1850-an.

Namun, dia tidak diakui sebagai raja oleh kepala suku lainnya dan terlibat dalam 19 tahun perjuangan berdarah-darah untuk dapat selamat untuk membela dominasinya.

Periode itu juga menyaksikan kebangkitan Ratu Seru Epenisa Cakobau sebagai pejuang yang berani dan panglima perang yang hebat, yang untuk pertamakalinya mempersatukan bangsa dan negara yang mencakup semua area modern Fiji (kecuali pulau Rotuma) pada tahun 1871.

Cakobau berusaha menyerahkan Fiji ke Kerajaan Inggris dengan imbalan dari Inggris untuk menutupi hutang Fiji ke AS yang berjumlah sekitar AS $ 44.000 ($ F89,949).

AS lalu mengancam  akan melakukan intervensi setelah sejumlah insiden yang melibatkan konsulat  mereka di Fiji, John Brown Williams, yang tokonya dijarah oleh penduduk asli Fiji setelah terjadi kebakaran yang tidak disengaja, yang disebabkan oleh tembakan meriam tersesat pada saat perayaan Perayaan Empat Juli tahun 1849.

Ketika rumahnya di Pulau Nukulau dibakar ada tahun 1855, komandan angkatan laut AS John Adams menuntut kompensasi dari Fiji.

Berharap AS hanya berbohong mengenai intervensi, Cakobau menolak. Namun, kenyataan mulai terlihat memburuk untuk Cakobau pada tahun 1858, saat USS Vandalia bertolak berlayar ke Levuka. Karena tidak mampu membayar hutangnya dan dalam keadaan tertekan menghadapi gangguan pencobaan invasi di Pantai Selatan Viti Levu dari Ma’afu,

Cakobau mendekati konsulat Inggris dengan sebuah tawaran untuk menyerahkan segenap kepulauan  itu ke Inggris, apabaila mereka rsedia memikul tanggung jawab atas hutangnya dengan imbalan lahan sebesar 5000 kilometer persegi.

Berkeras untuk tetap mempertahankan gelar Tui Viti, gelar yang keabsahannya dapat dipertanyakan, tawarannya tidak dapat diterima oleh Pemerintah Inggris, yang secara resmi menolaknya pada tahun 1862 setelah melakukan pertimbangan selama empat tahun.

Penolakan ini menyusul sebuah laporan dari Kolonel WJ Smythe, yang telah menyimpulkan, setelah mewawancarai setiap kepala suku di Fiji, gelar Cakobau itu diberikan kepada dirinya sendiri dan sama sekali tidak diterima secara universal oleh rekan-rekan kepala suku lain, dan bahwa dia tidak memiliki wewenang untuk menyerahkan pulau-pulau tersebut ke Inggris.

Namun masyarakat Fiji, melalui Cakobau, secara resmi menyerahkan kepemimpinan pulau mereka ke Inggris pada tahun 1874, menandai dimulainya pemerintahan kolonial Inggris.

Pemimpin-pemimpin suku yang secara resmi menandatangani Deed of Cession (Akta Serah Terima Fiji) pada tanggal 10 Oktober 1874 di Nasova, dekat Levuka, ibu kota Fiji dulu, adalah Cakobau, Tui Viti dan vunivalu (Gelar bangsawan Fiji), Maafu, Tui Cakau, Ratu Epeli, Vakawalitabua Tui Bua, Savenaca, Esekele, B.V. Tui Dreketi, Ritova, Katonivere, Ratu Kini, Matanitobua dan Nacagilevu.

Akta Serah Terima kemudian dibacakan, di Fiji, untuk mengumumkan kembali kepada para kepala suku lainnya yang mungkin belum mendengarkannya sebelumnya.

Cakobau lalu menanggalkan gadanya sebagai secara simbol hukum adat, dan mengadopsi bentuk-bentuk dan prinsip masyarakat beradab, Raja itu meletakkan senjata lamanya, yang menjadi tongkat kebesaran Parlemen Fiji, dihiasi dengan simbol perdamaian dan persahabatan.

Di atas meja ditempatkan Akta Serah Terima dan salinannya, satu akta harus disimpan di Fiji dan yang lainnya dikirim ke Inggris.

Tanggal 10 Oktober 2017 menandai tepat 143 tahun sejak penandatanganan Akta itu dan 47 tahun sejak tanggal kemerdekaan, pada tanggal yang sama di tahun 1970.

Saat merayakan Hari Fiji tahun ini, ada baiknya bagi kita untuk merenungkan kembali ke 47 tahun yang lalu ketika bangsa muda kita diberi pembebasan dari status koloni Kerajaan Inggris, menjadi status independen dengan penentuan nasib sendiri dan Konstitusi Fiji 1970 yang baru untuk membantu kita menavigasi masa depan kita.

Bendera Fiji mencerminkan Union Jack (bendera nasional Inggris) dibagian kiri atas, melambangkan asosiasi lama negara tersebut dengan Kerajaan Inggris Raya. Latar biru bendera itu si0mbol Samudera Pasifik disekitar mereka.

Sebagai lambang negara tersebut menunjukkan singa Inggris berwarna emas yang memegang sebuah biji kakao, serta panel yang menampilkan pohon palem, tebu, pisang dan merpati perdamaian.

Khalayak umum gembira dan bertepuk tangan, terdengar gemuruh keras dari kerumunan massa yang sangat antusias. Berbagai proses terus berlangsung di stadion, sementara band militer memainkan “God Save the Queen” untuk menghibur penonton.

Menurut pendapat saya, tidak ada pertanyaan sama sekali bahwa simbol pada bendera kita sekarang itu sudah basi. Fiji telah bergerak maju sejak tahun 1970 dan ini perlu dicerminkan dalam bendera kita.

Sudah saatnya kita sepenuhnya menyadari bahwa simbol-simbol di bendera kita tidak mewakili status Fiji sebagai negara yang benar-benar independen dan berdaulat dan pada saat bersamaan menunjukkan seolah-olah Fiji masih merupakan koloni atau memiliki ketergantungan kepada Inggris.

Sebagai bangsa kita masih berusaha menemukan jalan keluar dari labirin, kebingungan, kekacauan, pergolakan, kerumitan, atau apapun itu.

Dengan menggunakan kesabaran, kegigihan, ketekunan, kedamaian dan kemakmuran, bangsa kecil kita dapat secara perlahan menemukan jalan asalkan para pemimpin kita memiliki visi dan misi untuk mempersatukan bangsa kita dan bekerja sama dalam kesatuan dan harmonitas.(Fiji Times/Elisabeth C.Giay)

* Dr Sushil K. Sharma adalah seorang profesor meteorologi di FNU.

loading...

Sebelumnya

Kritisi Perdana Menteri, dua wartawan senior Tonga dimutasi

Selanjutnya

Pembunuhan pasien, saatnya kesehatan mental diprioritaskan

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe