Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Lapago
  3. Konservasi empat mumi, Jayawijaya datangkan arkeolog
  • Kamis, 19 Oktober 2017 — 14:58
  • 747x views

Konservasi empat mumi, Jayawijaya datangkan arkeolog

Konservasi dinilai perlu karena di antara empat mumi tersebut ada rusak dimakan oleh tikus dan anjing.
ilustrasi, mumi di Lembah Baliem, Jubi/Dok
ANTARA
redaksi@tabloidjubi.com
Editor : Edi Faisol

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Wamena, Jubi- Pemerintah Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua, mendatangkan tim arkeolog dari Makassar dan Jayapura untuk mengkonservasi empat mumi yang ada di di wilayah setempat. Konservasi dinilai perlu karena di antara empat mumi tersebut ada rusak dimakan oleh tikus dan anjing.

“Tim ahli arkelog dari Makassar yang kami datangkan tiga orang, dan dari arkeologi Jayapura satu orang,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jayawijaya, Alpius Wetipo di Wamena, Kamis, (19/10/2017)

Ia menyebutkan mumi Araboda rusak parah sehingga harus diperbaiki agar pengunjung atau turis yang datang bisa menyaksikan.

Menurut dia, tim arkeolog telah melakukan konservasi terhadap dua mumi dari empat mumi yang sering dikunjungi turis di Jayawijaya, di antaranya satu mumi di Aikima, satu di Kurulu, satu lagi di Silokarno Doga dan di Asologaiman.

“Sementara yang dua sudah kami konservasi dan akan dilanjutkan pada mumi yang lain," kata alpius menambahkan .

Dipstikan beberapa bagian tubuh mumi yang hilang dimakan tikus dan anjing tidak diganti atau ditempel dengan benda lain. Para arkeolog merancang sebagaimana mestinya agar tidak menambah maupun mengurangi namun wajah mumi tersebut bisa masih jelas terihat.

Alpius menjelaskan bahwa berdasarkan informasi yang diperoleh, mumi di Jayawijaya bukan hanya empat melainkan enam, namun satunya sudah dibakar sehingga hilang, sementara satunya lagi masih ada namun tidak diizinkan oleh pemilik untuk dikunjungi masyarakat luar.

Pengelolaan empat mumi Jayawijaya sepenuhnya diserahkan oleh pemerintah kepada masyarakat agar memberikan pemasukan tambahan bagi perekonomian.

"Sehingga kami harapkan masyarakat tidak lagi menarik iuran tambahan selain karcis yang kita berikan, sebab iuran tambahan itu dapat mengurangi jumlah kunjungan turis dan berdampak terhadap pemasukan bagi masyarakat sendiri," katanya.

Antropolog Papua, Fredrik Sokoy mengakui masih banyak peninggalan arkeologi di Bumi Cenderawasih untuk dilakukan penelitian lebih lanjut. Pembantu Rektor IV Universitas Cenderawasih itu mengakui selama ini Papua belum maksimal menggarap arkeologi.

“Kami juga dari Uncen masih mendatangkan dosen arkeolog dari UGM. Mata kuliah arkeolog masih satu dalam jurusan Antropologi Uncen," kata Sokoy saat coffe morning  di kampus Uncen.(*)

loading...

Sebelumnya

Fantastis, Rp 55 miliar APBD-P Mimika untuk bayar hak anggota DPRD

Selanjutnya

Nunggak kontrakan, mahasiswa Yahukimo terancam diusir

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe