close
Iklan Kominfo
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Saireri
  3. Ojek makin marak, angkutan umum di Nabire mati suri
  • Kamis, 19 Oktober 2017 — 16:07
  • 2167x views

Ojek makin marak, angkutan umum di Nabire mati suri

Semakin maraknya ojek di kota Nabire, dikeluhkan sejumlah sopir angkutan kota (angkot) di daerah tersebut. Selain pendapat terus turun, ketidakpedulian Pemerintah kabupaten (pemkab) Nabire terhadap masalah ini, membuat angkutan umum di kota ini seolah mati suri.
Papan larangan ojek masuk di terminal pusat angkutan umum Oyehe – Jubi/CR-1
Admin Jubi
Editor : Dewi Wulandari

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Nabire, Jubi – Semakin maraknya ojek di kota Nabire, dikeluhkan sejumlah sopir angkutan kota (angkot) di daerah tersebut. Selain pendapat terus turun, ketidakpedulian Pemerintah kabupaten (pemkab) Nabire terhadap masalah ini, membuat angkutan umum di kota ini seolah mati suri.

“Sudah hampir lima tahun, angkutan umum disini seperti mati suri. Pemerintah sepertinya menutup mata dengan permasalahan ini,” kata Suwardi, koordinator sopir angkutan kota di Nabire, saat ditemui Jubi, pekan lalu

Suwardi mengatakan jumlah ojek makin banyak. Ojek beroperasi tanpa trayek, bisa berputar di seluruh jalan raya di kota Nabire, termasuk keluar masuk terminal umum Oyehe.

“Pemerintah semestinya membuat peraturan, menentukan mana jalur ojek dan mana jalur angkutan umum. Kita sudah beberapa kali menyampaikan aspirasi ke Dinas Perhubungan, Polisi Lalu Lintas, dan Wakil Bupati. Tapi sampai hari ini sama sekali tidak ada respon dari mereka. Angkot ini angkutan resmi sehingga menjadi tanggung-jawab pemerintah untuk mengaturnya,” ujar Suwardi, sopir angkot jurusan Oyehe-Karang Tumaritis.

Akibatnya, dalam lima tahun terakhir pendapatan sopir angkot makin berkurang. Jangankan membawa uang untuk dibawa pulang, terkadang hasil yang diperoleh dalam sehari tidak cukup untuk beli bensin dan makan.

“Penghasilan kami turun sampai 60 persen dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Itu karena tidak ada pengaturan jalur-jalur untuk angkutan umum, ojek, dan kendaraan lainnya. Kami prihatin dengan ketidaktegasan pemerintah,” ujar Suwardi.

Seorang penumpang angkot, Damian Tabuni, mengaku heran karena kini jumlah angkot yang beroperasi di Nabire semakin sedikit.

“Sebelum tahun 2014, kami tidak susah kalau naik angkot. Kami tinggal tunggu di pasar-pasar atau jalan-jalan jalur angkutan umum. Tapi sekarang susah sekali. Tunggu juga dua sampai tiga jam baru dapat angkot,” kata Damian. (CR-1)

 

loading...

Sebelumnya

Dua bulan tak diangkut, sampah di pasar sore Nabire ganggu kenyamanan masyarakat

Selanjutnya

Sekitar 76 persen wilayah Supiori kategori kawasan cagar budaya

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Terkini

Populer
Dunia |— Minggu, 14 Oktober 2018 WP | 4953x views
Polhukam |— Minggu, 14 Oktober 2018 WP | 4350x views
Domberai |— Minggu, 21 Oktober 2018 WP | 4130x views
Otonomi |— Rabu, 17 Oktober 2018 WP | 2554x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe