Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Polhukam
  3. Manajemen PTFI diminta tak tutupi kejadian di area tambang
  • Senin, 23 Oktober 2017 — 18:44
  • 892x views

Manajemen PTFI diminta tak tutupi kejadian di area tambang

"Harusnya manajemen Freeport tidak menutupi kalau ada kejadian di tambang. Harus dibuka supaya masyarakat juga tahu masalah yang terjadi di sana. Masalah ini saja, yang memberikan keterangan adalah polisi, bukan manajemen PT Freeport," kata Thomas menjawab pertanyaan Jubi, Senin (23/10/2017).
Ilustrasi - IST
Arjuna Pademme
Editor : Galuwo
LipSus
Features |
Kamis, 20 September 2018 | 09:41 WP
Features |
Rabu, 19 September 2018 | 16:08 WP
Features |
Selasa, 18 September 2018 | 07:24 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi - Anggota Komisi IV DPR Papua, komisi yang membidangi pertambangan, Thomas Sondegau mengatakan, manajemen PT Freeport Indonesia (PTFI) harusnya tidak menutupi ketika ada kejadian di area tambang, terutama ketika yang korban adalah pekerja.

Hal ini dikatakan Thomas terkait meninggalnya seorang karyawan perusahaan subkontraktor PTFI dan dua lainnya kritis pekan lalu, akibat menghirup gas beracun di area Biggossan Level, 2640 Cross Cut 21 Underground, Distrik Tembagapura Kabupaten Mimika, Papua, Rabu (18/10/2017).

"Harusnya manajemen Freeport tidak menutupi kalau ada kejadian di tambang. Harus dibuka supaya masyarakat juga tahu masalah yang terjadi di sana. Masalah ini saja, yang memberikan keterangan adalah polisi, bukan manajemen PT Freeport," kata Thomas menjawab pertanyaan Jubi, Senin (23/10/2017).

Menurutnya, selama ini Freeport terkesan sulit memberikan keterangan kepada publik melalui media ketika ada kejadian di lokasi tambang.

"Ini juga satu hal yang dipertanyakan kenapa bisa hirup gas beracun sampai ada yang meninggal. Jangan sampai ini korban bukan hanya tiga orang. Ini harus dievaluasi," ujarnya.

Pekan lalu, Hendry Munardi (50) yang merupakan Karyawan PT. Ruc, perusahaan sub kontraktor PTFI meninggal dunia akibat menghirup gas beracun. Dua rekannya, Nofi Rizal Fachrudhin S (27) dan Sri Giri Dino Haryanto (38) dalam keadaan kritis.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Papua, Kombes Pol AM Kamal mengatakan, diduga karyawan ini masuk terlalu dalam terowongan sehingga menghirup gas yang membuat satu karyawan tewas.

“Padahal tingkat atau kadar gas oksigen di dalam terowongan ini tidak cukup," kata Kamal ketika itu.

Menurutnya, setelah dilakukan evakuasi ketiga karyawan, PTFI langsung menghentikan operasi di dalam terowongan untuk dilakukan investigasi.

"Hasil uji kadar udara yang dilakukan tim rescue dan kru ventilasi PT Freeport, ternyata kadar gas karbon monoksida di lokasi keracunan melebihi ambang batas aman yakni 1500 PPM, ambang batas maksimal adalah 25 PPM," ucapnya. (*)

loading...

Sebelumnya

Dinilai tebang pilih, legislator ancam laporkan Kejari Jayapura

Selanjutnya

Legislator nilai wajar muncul dugaan skenario di balik insiden Freeport

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer
Pilihan Editor |— Selasa, 25 September 2018 WP | 9864x views
Polhukam |— Jumat, 21 September 2018 WP | 6408x views
Koran Jubi |— Senin, 17 September 2018 WP | 6056x views
Berita Papua |— Senin, 24 September 2018 WP | 4702x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe