Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Domberai
  3. Gerakan sekolah sungai upaya kelola risiko bencana
  • Selasa, 24 Oktober 2017 — 08:36
  • 1095x views

Gerakan sekolah sungai upaya kelola risiko bencana

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Willem Rampangilei, mengatakan gerakan sekolah sungai sebagai wadah untuk pengelolaan risiko bencana di daerah aliran sungai dengan pendekatan ecosystem based.
Masyarakat sedang membersihkan sampah di sungai Remu di Sorong, Papua Barat - IST
ANTARA
redaksi@tabloidjubi.com
Editor : Dewi Wulandari

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Sorong, Jubi - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Willem Rampangilei, mengatakan gerakan sekolah sungai sebagai wadah untuk pengelolaan risiko bencana di daerah aliran sungai dengan pendekatan ecosystem based.

"Gerakan ini telah dilakukan di beberapa wilayah, seperti Yogyakarta dan Kalimantan Tengah. Dalam peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) 2017 yang berlangsung di provinsi Papua Barat, BNPB juga mengukuhkan gerakan tersebut di sungai Remu, Kota Sorong pada 22 Oktober 2017," katanya, di Sorong, Senin (23/10/2017).

Dia mengatakan BNPB memilih sungai Remu Sorong karena masyarakat di sekitar sungai selalu mengalami banjir akibat luapan air sungai tersebut setiap tahunnya.

Sungai juga dapat memperburuk kondisi masyarakat, sehingga peringatan bulan PRB ini menjadi momentum besar untuk melakukan upaya bersama dalam pengurangan risiko bencana.

Ia mengharapkan partisipasi aktif masyarakat untuk menjaga sungai, sebab berbicara mengenai pengurangan risiko bencana, tidak mungkin pemerintah saja yang bergerak tapi semua pihak harus ikut berpartispasi.

Gerakan sekolah sungai adalah kolaborasi berbagai pihak guna mengurangi risiko bencana yang terjadi kepada masyarakat sendiri.

Dia menyampaikan, sungai Remu adalah sumber kehidupan manusia, untuk irigasi, kehidupan flora dan fauna, serta sarana transportasi. Di hadapan warga setempat, relawan, dan perwakilan komunitas sekolah sungai Papua Barat, Willem Rampangilei mengimbau masyarakat dapat menjaganya bersama-sama.

Willem menambahkan aktivitas pencemaran, pendangkalan, dan pembuangan sampah perlu mendapatkan keseriusan dari semua pihak. Tanpa partisipasi masyarakat tidak mungkin bisa mengembalikan fungsi sungai itu.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Papua Barat, Derek Ampnir, yang memberikan keterangan terpisah, mengatakan Pemerintah provinsi Bapua Barat berkomitmen serta serius dalam pembinaan sekolah sungai sekaligus sebagai aset di Papua Barat.

Dia menjelaskan tujuan dari gerakan sekolah sungai adalah melatih dan membekali calon fasilitator, sehingga menumbuhkan komitmen dan meningkatkan kapasitas dalam mengelola dan memanfaatkan sumber daya air dan sungai di daerah dalam rangka gerakan pengurangan risiko bencana.

"Tercipta jejaring atau komunikasi pinggiran sungai sebagai agen restorasi sungai sebagai bagian dari kaderisasi dalam memperkuat dan mengembangkan gerakan pengurangan risiko bencana," katanya. (*)

 

loading...

Sebelumnya

Kelompok belajar Ayosami galang dana untuk pondok

Selanjutnya

Masyarakat pulau Doom Sorong konsumsi air laut

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe