Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Pasifik
  3. Bagaimana Jurnalis bicara soal perubahan iklim Pasifik
  • Rabu, 25 Oktober 2017 — 16:21
  • 933x views

Bagaimana Jurnalis bicara soal perubahan iklim Pasifik

Poin yang ingin saya katakan adalah tantangan bagi media adalah membuat sebuah cerita menjadi menarik dan relevan. Jika tidak, maka pembaca, pendengar dan pemirsa dapat berhenti menyimaknya.
Seorang reporter Radio New Zealand saat mewawancarai Dr Shailendra Singh dari Universitas Pasifik Selatan – Asia Pacific Report/ Eliki Drugunalevu for USP
Editor : Zely Ariane

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Oleh: Shailendra Singh*

Isu perubahan iklim semakin banyak mendapatkan liputan berita akhir-akhir ini, yang merupakan hal positif, setidaknya positif pada beberapa tingkat.

Tantangan utama terkait pelaporan perubahan iklim bukan hanya menghasilkan kepentingan dan ketertarikan publik yang cukup, namun juga mempertahankannya.

Hal ini sebagian disebabkan oleh karena perubahan iklim tidak memiliki kedekatan berita yang mendesak, walaupun dampak ini terus berubah, karena dampak  destruktif fenomena tersebut makin lebih jelas.

Banyak berita lokal mengenai perubahan iklim Pasifik sepertinya bergantung pada pidato dan pernyataan- pernyataan pers.

Tapi apakah gaya dan sifat berita seperti ini benar-benar menarik perhatian publik, jika benar itu tujuan pemberitaannya?

Sebagai contoh, pidato dari banyak pemimpin Kepulauan Pasifik mendapat liputan berita luas. Pidato semacam itu umumnya ditujukan kepada sesama pemimpin dunia, yang cukup penting.

 Liputan berita yang mewah

Berita lainnya umumnya didasarkan pada pertemuan- pertemuan dan konferensi internasional. Mereka menerima liputan berita mewah. Ini adalah tahap besar dan penting untuk negaranya, dan mereka harus mendapatkan representasi yang adil dan memadai di berita setempat.

Tapi sejauh mana pembaca berita lokal terhubung dengan cerita-cerita ini? Itu dengan asumsi bahwa masyarakat lokal penting dalam perubahan iklim.

Seberapa relevan dan menarik pidato dan pernyataan pers ke telinga masyarakat lokal? Apakah pidato tersebut memiliki dampak, atau apakah dia mulai terdengar hambar dan hanya pengulangan? Ini patut dipertimbangkan jika ide dari pemberitaan itu untuk menginformasikan masyarakat dan memobilisasi mereka agar melakukan tindakan.

Dulu kala, kita biasa mengeluh tentang kelangkaan liputan berita. Namun, liputan berita yang miring dan menjenuhkan dari tipe tertentu juga memiliki masalah sendiri.

Poin yang ingin saya katakan adalah tantangan bagi media adalah membuat sebuah cerita menjadi menarik dan relevan. Jika tidak, maka pembaca, pendengar dan pemirsa dapat berhenti menyimaknya.

Liputan serampangan yang diberikan kepada presiden, perdana menteri, para diplomat, kepala organisasi regional dan birokrat lainnya perlu diimbangi dengan liputan masyarakat akar rumput yang benar-benar mengalami dampak perubahan iklim secara langsung.

Kisah-kisah yang menarik

Bagaimana membuat berita menjadi kisah-kisah yang lebih menarik, dan isunya pun akan tampak lebih nyata, bukan jauh dan abstrak dari masyarakat.

Mengapa kita tidak meliput lebih banyak cerita tentang manusia, daripada membuat ketertarikkan para pembaca terbunuh dengan statistik, pidato dan istilah-istilah ilmiah saja?

Jika pidato harus digunakan, setidaknya ada beberapa gagasan yang asli dari mereka; misalnya, permainan saling menyalahkan dengan pemimpin negara maju yang dituduh tidak bertindak sigap, dan memang ini benar.

Tapi apakah para pemimpin Kepulauan Pasifik sedang mempraktekkan apa yang dipidatokan atau tidak? Sudahkah kita menganalisa isu ini dengan cukup memadai, atau apakah kita puas dengan menyusun pidato? Contohnya, hutan bakau merupakan salah satu perlindungan terbaik terhadap kenaikan permukaan air laut.

Lahan berukuran besar dilaporkan telah dibuka di Lami, Wailekutu, Nasese, Vatuwaqa dan tempat lainnya, demi pengembangan industri, proyek pariwisata, dan urbanisasi.

Profesor Wadan Narsey, Dr Ajantha Perer, dan akademisi lainnya telah menulis tentang pembukaan lahan ini.

Strategi Hijau Nasional Fiji

Bagaimana tren ini dalam Strategi Pertumbuhan Berkelanjutan Hijau nasional kita?

Apakah ini bertentangan dengan pidato besar-besaran pada pertemuan-pertemuan internasional?

Juga, apakah Fiji memiliki skema nasional untuk penanaman kembali hutan bakau? Siapa yang akan membiayai upaya pengelolaan semacam ini?

Berapa banyak anggaran yang dialokasikan untuk proyek semacam itu dibandingkan dengan pertemuan- pertemuan dan konferensi-konferensi?

Apakah proyek-proyek akar rumput cukup didanai atau dananya ditelan oleh para pemburu pertemuan dan konferensi internasional?

Beberapa waktu lalu telah diberlakukan moratorium atas kerusakan mangrove. Tapi kenapa tidak ada larangan total, seperti di banyak negara lainnya?

Maksud saya adalah, alih-alih kita hanya melaporkan pidato dan pernyataan pers, kita perlu melakukan penelitian sendiri secara independen. Kita perlu merumuskan pertanyaan-pertanyaan yang sulit dan mencari jawaban dari para pemimpin kita.

Jika tidak, ada kemungkinan kita akan terlalu terjebak dalam pertemuan besar-besaran dan pembicara dengan profil tinggi.

Ya, pertemuan semacam itu penting karena berbagai alasan, termasuk perjanjian internasional yang penting dan mengikat. Pertemuan seperti itu menarik orang-orang terpelajar.

Para pemimpin Pasifik memiliki peran penting dalam pertemuan semacam itu, dan beberapa hasil yang luar biasa pun telah  mereka telah capai.

Liputan yang adil dan seimbang

Namun, liputan berita juga harus adil dan seimbang, bukan miring dan elitis.

Jurnalis seharusnya tidak kehilangan kontak dengan realitas di lapangan atau dasar-dasar jurnalisme – untuk bersikap skeptis dan mempertanyakan segala sesuatu, daripada mengandalkan informasi yang disediakan saja.

Dalam jurnalisme, sumber berita tunggal berisiko dan tidak memadai, jadi jangan lupa mengutip karya peneliti dan komentator lain, demi keseimbangan dalam pelaporan.

Gunakan informasi tersebut untuk mengformulasikan pertanyaan dan ‘goreng’ para pemimpin; jika tidak ada risiko bahwa liputan itu hanyalah sebuah latihan public relations.

Idenya adalah membuat isu perubahan iklim dan dampaknya relevan kepada masyarakat lokal untuk membantu memahami dan mengembangkan kesadaran akan isu ini di tingkat global.(Asia Pacific Report/Elisabeth C.Giay)

*Dr Shailendra Singh adalah dosen senior dan koordinator Program Jurnalisme Pasifik Selatan. 

loading...

Sebelumnya

Rekonsiliasi iTaukei dengan keturunan Indo-Fiji di Fiji

Selanjutnya

Samoa akan jadi tuan rumah kegiatan seni Pasifik

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe