Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Mamta
  3. Ada kepentingan apa larang noken bermotif BK?
  • Kamis, 26 Oktober 2017 — 21:17
  • 2617x views

Ada kepentingan apa larang noken bermotif BK?

Aktivis Solidaritas Pedagang Asli Papua (Solpap), Natan Naftali Tebai mempertanyakan pernyataan Wali Kota Jayapura Benhur Tomi Mano (BTM), Jumat (13/10/2017) yang melarang mama-mama merajut noken bermotif bintang kejora (BK).
Tak hanya noken, pengrajin juga merajut sepatu bermotif bintang kejora yang sangat unik – Jubi/flickr.com
Timoteus Marten
timo@tabloidjubi.com
Editor : Dewi Wulandari

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Jayapura, Jubi – Aktivis Solidaritas Pedagang Asli Papua (Solpap), Natan Naftali Tebai mempertanyakan pernyataan Wali Kota Jayapura Benhur Tomi Mano (BTM), Jumat (13/10/2017) yang melarang mama-mama merajut noken bermotif bintang kejora (BK).

“Pemakai noken lebih banyak pesan noken motif bintang kejora. Kenapa wali kota larang mama-mama? Mereka ‘kan hanya menerima pesanan,” katanya kepada Jubi di Jayapura, Kamis (26/10/2017).

Natan berpendapat, jika memang mau melarang, jangan hanya noken, tapi juga pamflet, buku, spanduk, dan lain-lain yang menyertakan gambar (motif) menyerupai bendera bintang kejora. Namun, mustahil melarang hal tersebut, sebab motif itu bagian dari budaya yang tidak bisa ditafsirkan secara politis.

Ia mengatakan, sejak noken diakui UNESCO, 4 Desember 2012 sebagai warisan budaya dunia tak benda, pemerintah pusat hingga daerah bahkan belum mengeluarkan kebijakan untuk memberdayakan mereka yang merajut noken di pinggir-pinggir jalan.

“Tidak pernah ada perdasus yang melindungi noken pemilik budaya OAP (orang asli Papua). Selama ini Solpap merangkul mama-mama di pinggir jalan,” katanya.

Noken, katanya, merupakan bagian dari daya kreasi, dan kreativitas mama-mama yang tidak mungkin dibatasi. Tiap daerah di Papua juga mempunyai karakter dan kekhasan. Dalam pembuatan noken juga dipengaruhi dua hal tersebut.

“Kalau memang wali kota melarang mama-mama, maka harus ada kajian ilmiahnya dan disosialisasikan. Tidak hanya keluarkan pernyataan kosong yang memperbesar wacana yang tidak penting untuk diperdebatkan,” katanya.

Pendapat senada dilontarkan Ketua BEM Uncen, Paskalis Boma. Menurut Paskalis, bintang kejora bukan hal baru di Papua. Oleh karena itu, sebaiknya dilihat secara menyeluruh dan berhati-hati dalam mengeluarkan larangan.

“Saya menyarankan agar wali kota harus lebih hati-hati dalam mengeluarkan kebijakan. Sebagai putra terbaik Papua dan putra asli Port Numbay yang memimpin Kota Jayapura harus bisa melihat masalah-masalah urgen yang terjadi di Papua, khususnya Kota Jayapura,” katanya seperti dilansir suarapapua.com.

Ketua Lembaga Ekologi Papua yang menggagas noken ke UNESCO sejak 2008 hingga diakui 4 Desember 2012, Titus Pekey mengatakan, pelarangan membuat noken motif BK oleh wali kota tidak sepadan dengan moto Kota Jayapura.

“Wali kota sebagai anak noken mesti hargai nokennya tanpa pikir dari warna-warni budaya kreatif yang memenuhi pasar,” kata Titus kepada Jubi melalui selulernya, Kamis (26/10/2017). 

Menurut dia, pembuat noken di tujuh wilayah adat Papua dengan berbagai warna, merupakan talenta yang diberikan Tuhan. Mama-mama memanfaatkan talenta itu untuk mempertahankan kreativitasnya.

“Namun, cara berpikir anak noken tidak menghargai kreativitas mama-mama di tanah ini, terhipnotis apa lalu melarang noken? Segera tarik stetmennya jika benar larang itu,” katanya.(*)

 

loading...

Sebelumnya

Senin depan, Solidaritas Anti Miras dan Narkoba akan duduki kantor wali kota

Selanjutnya

6-11 November, pameran kinerja Lukas Enembe

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe