Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Pasifik
  3. Dampak feodalisme Eropa dalam penobatan Kepala Suku di Fiji
  • Jumat, 27 Oktober 2017 — 07:06
  • 801x views

Dampak feodalisme Eropa dalam penobatan Kepala Suku di Fiji

Jika kita ingin melindungi identitas kita sebagai masyarakat iTaukei dan terus memberdayakan masyarakat kita di masa depan, mari mulai mengindahkan pelajaran sejarah mengenai dampak merusak kekuatan masyarakat feodal Eropa kepada tatanan sosio-politik asli Fiji.
Ratu Vuniyani Navuniuci dinobatkan dan diberkati saat pengangkatannya sebagai Tui Nadi di Desa Narewa di Nadi pada tanggal 28 September 2017 – Fiji Sun/Arieta Vakasukawaqa
Editor : Zely Ariane

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Pada masa kejayaan Raja-raja Eropa dan bangsawan, agama dipandang sebagai alat untuk melegitimasi sesuatu. Raja-raja dan ratu-ratu berupaya sebaik mungkin untuk membangun hubungan baik dengan wakil-wakil gereja dalam usaha mereka untuk melegitimasi posisi mereka, baik di surga maupun di bumi.

Kegagalan untuk membangun hubungan dengan gereja saat itu akan menempatkan mereka pada risiko yang cukup besar untuk dikenai sanksi oleh Paus Romawi.

Lebih dari itu, hubungan antara monarki dan keilahian Allah kembali ke sejarah tua yang suram dan, pada umumnya, telah tertanam dalam tata sosio-politik komunitas masyarakat pada umumnya. Komunitas Taukei bukan pengecualian dalam hal ini.

Ketika pembawa injil Kristen Wesleyan dan, setelahnya, misionaris Katolik pertama kali tiba di pantai kita (Fiji), pengikut pertama mereka biasanya adalah kepala-kepala suku. Alasan dibalik strategi ini adalah dengan mendapatkan kepala suku sebagai pengikut akan mempermudah penyebaran Injil ke seluruh vanua (tanah  atau kampung dalam Bahasa Fiji) dengan cara yang paling cepat. Hal ini terbukti berhasil.

Mereka yang menolak sering dipaksa oleh para pengikut yang baru bertobat, dengan dukungan negara kolonial baru, untuk tunduk pada tatanan religius yang baru.

Pendeta Dr Andrew Thornley, dalam sebuah publikasinya baru-baru ini, menyimpulkan bahwa transformasi itu tidak lebih dari A Shaking of the Land atau dalam terjemahan iTaukei kita, Na Yavalati ni Vanua, menurut saya lebih tepat untuk manggambarkan sifat perubahan transformatif yang disebabkan oleh agama baru itu.

Dampak dari perkembangan itu masih bertahan hingga saat ini dalam berbagai cara masyarakat iTaukei kita berusaha mengintegrasikan prinsip-prinsip lotu (religious) dengan adat istiadat kampung mereka masing-masing. Oleh karena itu, kita semakin sering menyaksikan kehadiran perwakilan agama dalam penobatan kepala suku vanua di seluruh Fiji.

Awalnya, peran para perwakilan gereja dalam momen seperti ini adalah untuk memberkati penobatan hubungan yang baru ini antara para pemimpin suku dan rakyat mereka. Pepatah bahwa semua pemimpin berasal dari Tuhan, dalam konteks seperti itu, hanyalah sebuah validasi transfer kekuasaan secara konsensus dari masyarakat kepada para pemimpin.

Ini adalah pengingat bahwa umumnya hampir semua kepala suku iTaukei memerintah melalui persetujuan masyarakt dikampungnya. Tanpa persetujuan ini, konsep kepala suku iTaukei ini tidak masuk akal.

Namun akhir-akhir ini kita telah menyaksikan langkah tertentu untuk mengubah urutan prioritas di antara pemangku kepentingan utama dalam penunjukkan kepala vanua. Ini mungkin adalah hasil dari perubahan luas di tradisi sosio-politik yang terjadi melalui masyarakat iTaukei saat ini.

Kemajuan dalam bentuk urbanisasi dan globalisasi, bersamaan dengan dampak mereka terhadap masyarakat luas, telah menghasilkan ide-ide baru dalam sejumlah isu, termasuk masalah kepemimpinan suku.

Hal ini diperparah dengan putusnya hubungan kelembagaan antara para pemimpin suku dan negara yang telah dimulai oleh mantan Gubernur Fiji di masa kolonial Belanda Sir Arthur Gordon.

Sebagai konsekuensinya, kepala-kepala suku telah kehilangan pengaruh politik yang diberikan kepada mereka di bawah pemerintahan sebelumnya dan menyebabkan perkembangan baru di antara para pemimpin dan rakyat biasa, bahwa vanua semakin kehilangan tradisi dan kebiasaanya.

Akibatnya, cara baru untuk melegitimasi kepala suku vanua mendapatkan banyak dukungan di masyarakat iTaukei modern ini.

Penunjukkan Tui Nadi (Kepala Suku besar di Nadi) terbaru adalah kasus yang akan memiliki implikasi luas mengenai cara transfer otoritas dari masyarakay kepada kepala suku yang telah berubah dalam masyarakat Taukei. Penunjukkan ini mengangkat kekhawatiran bahwa protokol vanua, mungkin, telah diabaikan demi kepentingan agama.

Ratu Vuniyani, Kepala Suku besar di Nadi yang baru dinobatkan, kemudian memadamkan dugaan-dugaan ini dengan bersikeras bahwa legitimasi penobatannya telah ditetapkan secara hukum dan diakui oleh negara.

Ternyata, dia dinobatkan ke jabatannya sebagai Tui Nadi oleh beberapa pendeta gereja menggunakan sebuah landasan orisinil dari Perjanjian Lama di Alkitab.

Apa yang menjadi inti dari isu ini adalah adanya gesekan antara upaya untuk mengintegrasikan, dalam hal ini, kebebasan pribadi Ratu Navuniyani untuk memilih bagaimana metode dia dinobatkan di vanua dan tatanan moral vanua yang akan dia perintah. Kebebasan memilih Ratu Navuniyani, dalam hal ini, bertentangan dengan tatanan sosial yang diakui dan dipegang oleh masyarakatnya.

Keberatan saya tentang cara baru untuk melegitimasi otoritas ini terletak pada apa yang saya anggap sebagai upaya menekan atau menghilangkan vanua sebagai otoritas budaya yang sah, sesuai dengan budaya kita.

Namun, seperti yang ditunjukkan oleh kasus Nadi, ritual keagamaan memiliki dominasi di atas penobatan adat di vanua yang dapat menunjukkan ketidakberdayaan rakyat biasa iTaukei dalam penobatan kepala suku mereka sendiri.

Memang sejarah absolutisme atas religio-feodal Eropa dinodai dengan perilaku tirani perbudakan oleh raja-raja dan kroninya yang mengklaim, dengan dukungan gereja Kristen dan Katolik saat itu, bahwa hak mereka untuk memerintah (dan memperbudak rakyat biasa) adalah hak yang diberikan oleh Tuhan kepada mereka.

Jika kita ingin melindungi identitas kita sebagai masyarakat iTaukei dan terus memberdayakan masyarakat kita di masa depan, kita bisa mulai mengindahkan pelajaran sejarah di atas mengenai dampak merusak dari kekuatan masyarakat feodal Eropa kepada tatanan sosio-politik asli Fiji.(Fiji Times/Elisabeth C.Giay)

loading...

Sebelumnya

Limbah ruang jenazah resahkan masyarakat di Lae

Selanjutnya

2017, ekspor tuna Kepulauan Solomon meningkat

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe