Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Polhukam
  3. Para pemimpin gereja di Papua desak ULMWP lakukan rekonsiliasi
  • Jumat, 27 Oktober 2017 — 18:06
  • 4585x views

Para pemimpin gereja di Papua desak ULMWP lakukan rekonsiliasi

"Karena itu, pentingnya berkepala dingin dan itu yang harus diciptakan,” kata Pdt Benny Giay saat membacakan isi tilis, di Waena, Kota Jayapura, Papua, Jumat (27/10/2017).
Dari kiri, Benny Giay, Sofyan Yoman dan Dorman Wandikbo - Jubi/Benny
Benny Mawel
frans@tabloidjubi.com
Editor : Galuwo

Papua No. 1 News Portal | Jubi
 
Jayapura, Jubi – Forum Oikumen Gereja-Gereja Papua, mendesak para pemimpin United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) memberikan waktuuntuk memikirkan hal-hal penting dalam perjuangan rakyat Papua untuk menentukan nasib sendiri. Mereka juga mendesak ULMWP melakukan rekonsiliasi.
 
Menurut para pemimpin gereja melalui rilis yang ditanda-tangani Ketua Sinode Gereja KIGMI Papua, Pdt Benny Giay, Presiden Gereja Injili di Indonesia (GIDI), Pdt Dorman Wandikbo, Ketua Sinode Persekutuan Gereja-Gereja Babtis Papua, Pdt Sofyan Yoman, menekankan pentingnya perjuangan damai dan rekonsiliasi.
 
Dalam rilis berjudul “Tuhan bilang kami masih di sini perjuangkan impian-Nya” itu, para pemimpin itu mengurai kondisi perjuangan orang Papua masa lalu, hingga perkembangan terkini.
 
"Karena itu, pentingnya berkepala dingin dan itu yang harus diciptakan,” kata Pdt Benny Giay saat membacakan isi tilis, di Waena, Kota Jayapura, Papua, Jumat (27/10/2017).

Lanjutnya, para elite barangkali  perlu jeda waktu dan ULMWP sebaiknya menunda pertemuan yang rencananya diadakan November 2017.
 
“Harus waktu tenang; membuka diri, mendengar para pengamat bagaimana ke depan. Teramat penting untuk we drinks from our own well atau kita minum dari sumur sendiri,” katanya mengutip judul buku teolog Amerika Latin, Gustavo Gutierez.
 
Menurut para gembala ini, perlu juga membaca kembali perjalanan bangsa Papua yang panjang.

"Karena itu, perlu luangkan waktu untuk membaca buku sejarah OPM karya Robin Osborne atau bukunya Ikrar Nusa Bhakti berjudul Sejarah Papua," katanya.
 
Selain itu, dikatakan, perlu menyelidiki sejarah bangsa Papua yang pernah mengungsi ke PNG atau Australia, sejak awal 1960-an.

"Riwayat hidup para pengungsi yang menemui kematian yang tragis di jalan, mati di hutan-hutan, kelaparan, digigit ular bisa atau yang perahunya tenggelam dalam perjalanan ke Vanimo, dan lain sebagainya," katanya.

Ditambahkan Pdt Yoman, ULMP harus menghargai perjuangan rakyat Papua selama 50 tahun membangun honai ULMWP.
 
“ULMWP itu menjadi milik rakyat Papua yang ada di dalam negeri. Hasil perjuangan 50 tahun, bukan milik Benny Wenda, milik rakyat Papua, bukan mereka. Mereka tidak bisa jadi pahlawan. Pahlawan itu rakyat yang ada moncong,” tegas Yoman.
 
Sementara Pdt Dorman Wandikbo mengatakan ULMWP yang menjadi wadah perlawanan orang Papua saat hasil perjuangan semua pihak. Di antaranya rakyat Papua, diplomat Papua, dan pemimpin negara-negara Melanesia dan Pasifik.  

"Perjuangan dan suara rakyat Papua yang sedang menggema ini tidak akan pernah berhenti. Karena, perjuangan di masa lalu berbeda dengan aktor perjuangan hari ini. Kalau dulu satu dua orang saja yang bicara. Hari ini semua orang. Masyarakat, mahasiswa, ibu-ibu dan anak-anak bicara, jadi perjuangan ini tidak akan pernah berhenti,” tegasnya. (*)

loading...

Sebelumnya

Polda Papua sebut ada pihak yang tak ingin Mimika kondusif

Selanjutnya

Kejari Mimika gelar sosialisasi hukum di SMP Negeri 5 Timika

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe