Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Pasifik
  3. Status pengungsi akibat perubahan iklim Tuvalu ditolak
  • Sabtu, 28 Oktober 2017 — 06:54
  • 1943x views

Status pengungsi akibat perubahan iklim Tuvalu ditolak

Kesulitan dalam kasus ini adalah tidak ada dasar untuk menunjukkan bahwa kerugian yang mereka hadapi akibat dari dampak perubahan iklim yang terkait dengan satu dari lima dasar Konvensi: ras, agama, kewarganegaraan, keanggotaan kelompok sosial tertentu atau opini politik.
Atol Funafuti di Tuvalu yang luasnya sekitar 2,5 kilometer persegi. – RNZI/ Supplied
RNZI
Editor : Zely Ariane
LipSus
Features |
Rabu, 19 September 2018 | 16:08 WP
Features |
Selasa, 18 September 2018 | 07:24 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 19:13 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 18:26 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Auckland, Jubi – Dua keluarga dari Tuvalu yang menuntut agar mereka diakui sebagai pengungsi perubahan iklim ditolak.

Pengadilan Tribunal Imigrasi dan Perlindungan Selandia Baru memutuskan bahwa mereka tidak berisiko dibawah Konvensi Pengungsi.

Kedua keluarga tersebut mengatakan bahwa mereka tidak akan memiliki akses terhadap air bersih dan sanitasi dan khawatir akan dampak perubahan iklim terhadap kehidupan dan penghidupan mereka.

Salah satu pasangan di kasus ini telah pindah ke Selandia Baru untuk merawat kerabat lansia mereka dan khawatir harus kembali dengan kedua anak mereka ke Tuvalu karena standar kesehatan dan tingkat pengangguran di negara itu.

“Tuvalu adalah negara kepulauan yang kecil dan atol Funafuti sangat sempit, dengan luas sekitar 2,5 kilometer persegi,” kata pengadilan dalam keputusannya.

“Kedekatannya dengan laut sepanjang garis pantai menjadikan erosi tanah sebagai salah satu isu serius dan negara ini terkena dampak kenaikan permukaan air laut, badai dan pasang surut air laut.

“Mereka percaya bahwa kehidupan mereka tidak akan berkelanjutan di Tuvalu karena naiknya permukaan air laut.”

Pengadilan tersebut mengatakan kasus pencari suaka lainnya dalam beberapa tahun terakhir, termasuk kasus Ioane Teitiota dari Kiribati, menunjukkan bahwa konsekuensi perubahan iklim tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk mendapatkan status pengungsi.

Tapi ia lalu menambahkan: “Pengadilan Tribunal menerima bahwa kembali ke Tuvalu akan menimbulkan tantangan bagi para pemohon, baik secara sosio-ekonomi maupun dalam hal dampak lingkungan yang negatif akibat perubahan iklim."

“Kesulitan dalam kasus ini adalah bahwa, setelah mempertimbangkan informasi yang diberikan oleh pemohon untuk mendukung klaim mereka, tidak ada dasar yang ditemukan untuk menunjukkan bahwa kerugian yang mereka hadapi adalah akibat dari dampak perubahan iklim yang terkait dengan satu dari lima dasar Konvensi: ras, agama, kewarganegaraan, keanggotaan kelompok sosial tertentu atau opini politik.”(Elisabeth C.Giay)

loading...

Sebelumnya

2017, ekspor tuna Kepulauan Solomon meningkat

Selanjutnya

Enam musisi Pasifik siap tampil di Fest Napuan 2017, seleksi nasional dimulai

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe