Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Pasifik
  3. Kematian jurnalis PNG picu debat nasional tentang KDRT
  • Sabtu, 28 Oktober 2017 — 07:11
  • 3375x views

Kematian jurnalis PNG picu debat nasional tentang KDRT

“Laki-laki tidak mengerti apa artinya membiarkan keadilan menang. Ada banyak ketakutan. Saya memberi tahu keluarga Evara dan saya mengatakan kepada publik bahwa saya mengadvokasi mereka untuk melawan kekerasan berbasis gender,” tegas Gubernur Port Moresby, Powes Parkop.
Rosalyn Albaniel Evara adalah seorang jurnalis yang bekerja untuk surat kabar terbesar di Papua Nugini, Post-Courier PNG – Loop PNG/Imelda Wavik
Editor : Zely Ariane

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Port Moresby, Jubi – Kematian seorang jurnalis terkenal yang berusia 41 tahun di Papua Nugini telah memicu perdebatan nasional tentang epidemi kekerasan terhadap perempuan yang terus berlanjut di negara itu setelah foto-foto detail diperlihatkan pada pemakamannya.

Anggota keluarga dari Rosalyn Albaniel Evara, jurnalis senior yang juga merupakan editor di surat kabar terbesar PNG, mendapat dukungan dari Gubernur Port Moresby menanggapi seruan keluarga agar diadakan penyelidikan kepolisian atas meninggalnya Evara.

Evara meninggal minggu lalu setelah dia pingsan di rumahnya di Port Moresby, dan dilarikan ke rumah sakit. Wartawan Post-Courier PNG itu diistirahatkan dalam sebuah proses pemakaman di Port Moresby pada hari Senin (23/10/2017), di mana seorang bibinya, Mary Albaniel, menggunakan euloginya yang menuduh bahwa Evara telah dianiaya dengan brutal.

Albaniel menunjukkan foto-foto tubuh Evara yang babak belur dan menuduh adanya sejarah kekerasan.

“Ketika saya mendengar bahwa Anda (Evara) meninggal, saya menyesal, seharusnya saya melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar berbicara dengan Anda, tapi sekarang bagaimana lagi?” kata Albaniel.

Dia mengatakan bahwa mereka menemukan memar saat memandikan jenazah Evara, dan memutuskan untuk memotret mayatnya dengan harapan bahwa mereka bisa mangajukan tuntutan pidana.

Albaniel mengatakan kepada the Guardian bahwa dia merasa dia harus mengungkapkan tuduhan pidana diacara pada pemakaman tersebut, yang turut dihadiri oleh suami Evara.

“Saya memiliki nama keluarga yang sama dengan nama gadis almarhumah. Untuk terus melakukan advokasi dalam tuags saya sebagai pembela hak asasi manusia, tidak ada gunanya jika saya tidak bisa memperjuangkan keadilan,” katanya.

“Saya sangat mengadvokasikan perlawanan terhadap segala bentuk kekerasan terhadap perempuan. Karena itulah saya memutuskan untuk mengenakan topi kerja saya kemarin.”

Pada hari Selasa pagi, Gubernur Port Moresby, Powes Parkop, dilaporkan memerintahkan agar pemakaman perempuan itu ditunda untuk memperbolehkan pemeriksaan postmortem dan investigasi polisi, mengesampingkan keinginan awal dari ibunda Evara yang menolak untuk kemudian setuju memutuskan secara formal memohon post-mortem hari itu juga.

Parkop mengungkapkan posisinya yang menentang kekerasan berbasis gender sebelumnya, dan Albaniel adalah juru kampanye hak asasi manusia dan anti-kekerasan terhadap perempuan.

“Bukan hanya di PNG. Saya tahu dari pekerjaan saya bahwa (perhatian publik tentang kematian Evara) akan membuat perbedaan yang besar dan sebuah langkah yang maju (dalam menangani isu kekerasan berbasis gender). Karena perempuan tidak mendapatkan dukungan penuh dari laki-laki, bahkan suami dan saudara mereka sendiri,“ tegasnya.

“Laki-laki tidak mengerti apa artinya membiarkan keadilan menang. Ada banyak ketakutan. Saya memberi tahu keluarga Evara dan saya mengatakan kepada publik bahwa saya mengadvokasikan untuk melawan kekerasan berbasis gender,” lanjut Parkop.

PNG dianggap sebagai salah satu negara terburuk di dunia dalam hal kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak perempuan. Awal tahun ini Human Rights Watch melaporkan hanya sedikit kemajuan dalam masalah ini meskipun janji reformasi oleh pemerintah kepada publik.

Human Rights Watch mengatakan bahwa polisi dan jaksa jarang memroses kasus-kasus terhadap pelaku kekerasan dalam keluarga, dan pemerintah masih belum bertindak setelah undang-undang perlindungan keluarga disahkan pada tahun 2013.

Evara meninggalkan seorang anak perempuan. Menurut laporan, dua anaknya telah meninggal dalam dua tahun terakhir.

Tuduhan yang dilayangkan pada acara pemakaman Evara mendapat banyak perhatian dari media nasional, namun hanya sedikit dari bekas tempat kerjanya.

Seorang mantan editor Post-Courier, Alexander Rheeney, menuduh surat kabar tersebut gagal memenuhi tugas duty of care dan gagal dalam menuntuk keadilan bagi Evara. Dia mengatakan bahwa Post-Courier, yang dimiliki oleh News Corp, meremehkan kematiannya dengan menjalankan beritanya di halaman 16 dibandingkan dengan koran saingan, National yang menempatkan laporan Evara dihalaman depan.

“Kampanye kekerasan berbasis gender Anda tidak ada harganya jika Anda tidak dapat melakukan perubahan dan menjadi yang pertama untuk berubah di halaman belakang Anda sendiri,” kata Rheeney.

Komandan Polisi Boroko, Titus Bayagau, mengkonfirmasikan pada the Guardian bahwa penyelidikan polisi sedang berjalan.

Todagia Kelola, seorang Editor di Post-Courier, membela liputan mereka tentang kematian Evara.

Kelola mengatakan bahwa dia telah terlibat dekat dengan keluarga tersebut, membantu pemakaman dan pengaturan lainnya, serta turut berkabung atas kehilangan koleganya. Dia mengatakan bahwa kematian Evara mengejutkan mereka, dan dia telah mendesak keluarga tersebut untuk melakukan pemeriksaan postmortem sejak awal namun menghormati keinginan awal keluarganya.

Dia mengatakan bahwa surat kabar tersebut tidak dapat melaporkan tuduhan-tuduhan yang diajukan karena tidak ada dasar tanpa sebuah postmortem.

Dia juga mengaku senang keluarga tersebut telah berubah pikiran dan meminta penyelidikan sepenuhnya.

“Saya dapat meyakinkan Anda bahwa jika itu (kematian akibat kekerasan) telah dinyatakan benar, kami akan melaporkannya dengan penuh semangat. Saat almarhumah masih hidup dia tidak pernah memberi tahu kami,” katanya.

Dalam sebuah pernyataannya, Post-Courier menolak “tuduhan” yang dituding “dengan sinis merendahkan dan mempermalukan Post-Courier sebagai advokat terkemuka melawan kekerasan berbasis gender dan dituduh tidak menghentikan perlakuan seperti itu terhadap rekan kerja mereka.”(The Guardian/Elisabeth C.Giay)

loading...

Sebelumnya

Enam musisi Pasifik siap tampil di Fest Napuan 2017, seleksi nasional dimulai

Selanjutnya

Merayakan kontribusi ekonomi dan pembangunan perempuan kampung

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe