Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Ekonomi
  3. Meski mahal, pembeli sirih tidak berkurang
  • Minggu, 29 Oktober 2017 — 22:02
  • 593x views

Meski mahal, pembeli sirih tidak berkurang

Menjelang bulan November harga sirih mulai merangkak naik. Sejak minggu  pertama Oktober hingga saat ini, harga sirih terus naik. Saat ini sekilo sirih sudah tembus Rp 50 ribu. Meski harga naik, ternyata tidak membuat pembeli berkurang.
Marta Ibo saat melayani Yafet yang sedang membeli sirih dagangannya - Jubi/Yance Wenda
Yance Wenda
yan_yance@ymail.com
Editor : Dewi Wulandari

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Sentani, Jubi  - Menjelang bulan November harga sirih mulai merangkak naik. Sejak minggu  pertama Oktober hingga saat ini, harga sirih terus naik. Saat ini sekilo sirih sudah tembus Rp 50 ribu. Meski harga naik, ternyata tidak membuat pembeli berkurang.

Sebelumnya harga sirih Rp 15 ribu per kilogram atau satu tumpuk antara Rp 5 ribu sampai Rp 20 ribu.

"Sirih lagi mahal. Kalo bulan dua sampai dengan bulan tujuh itu masih murah. Tapi meski mahal masih banyak yang cari buah sirih karena untuk pelengkap pinang dan kapur," jelas Marta Ibo, penjual sirih pinang di pasar Pharaa Sentani, kepada Jubi, pekan lalu.

Faktor cuaca mempengaruhi produktivitas pohon sirih. Hujan yang turun tidak beraturan atau musim panas yang berkepanjangan dan membuat tanah kering, biasanya akan menghasilkan sirih lebih sedikit dan kualitas kurang baik.

"Bulan ini harga sirih paling mahal. Satu kilogram sirih Rp 50 ribu. Untuk tumpuk saja itu sedikit sekali. Yang harga Rp 5 ribu itu bisa dihitung buahnya paling kurang ada 25, itu yang pendek. Untuk harga Rp 20 ribu itu paling-paling hanya 30 buah," jelasnya.

"Dengan harga sirih naik ini lumayan ada uang tapi kalo sudah jatuh harga ado itu tidak ada uang. Biar mau habis 10 kantong sirih dalam satu hari juga ya paling tinggi itu dapat Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu untuk harga sirih saja," katanya menambahkan.

Mama Ibo mengatakan saat harga siri masih murah, dalam sehari ia dapat menghabiskan 12 kantong plastik sirih.

"Kalo harga jatuh itu dapat paling Rp 500 ribu dari 12 kantong itu. Pendapatan paling tinggi itu di saat harga siri mahal. Jangankan 12 kantong, saat seperti sekarang ini saja, dari 2-3 kantong itu saja bisa dapat  Rp 400 ribu sampai Rp 500 ribu," ujarnya.

Mama Ibo mengatakan stok sirih dia dapat dari kebun. Jika ia membutuhkan sirih, ia tinggal pesan melalui telepon.

"Walau harga naik pembeli tetap banyak. Saya ini kan penjual sirih sudah lama, jadi ada langganan. Saya juga kirim sirih dan pinang ke beberapa daerah di pegunungan. Tapi kirim sesuai pesanan saja," tuturnya.

Di tempat yang sama, seorang pembeli sirih Mama Ibo, Yafet, mengatakan mengunyah pinang sudah menjadi kebiasaan orang tua dulu dan orang-orang muda sekarang. Pinang itu bagaikan permen karet yang dimainkan di dalam mulut.

"Saya belikan sirih untuk orang tua karena dia biasa makan pinang. Meski sirih lagi mahal, saya tetap beli. Kalo tidak ada pinang itu seperti kurang pas begitu. Itu bagi orang tua dulu," jelas Yafet. (*)

 

loading...

Sebelumnya

APBD direncanakan akan gunakan nontunai 

Selanjutnya

Usaha Pertamini di Waghete menjanjikan

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe