Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Pasifik
  3. Duta Besar AS untuk Selandia Baru dituding melecehkan dan “tidak peka budaya”
  • Senin, 30 Oktober 2017 — 06:38
  • 582x views

Duta Besar AS untuk Selandia Baru dituding melecehkan dan “tidak peka budaya”

Seorang wanita mengatakan bahwa Brown (diduga) mengamati tubuhnya saat mereka diperkenalkan. Wanita ini tidak ingin diidentifikasi, namun mengatakan “Pertama kali saya bertemu dengannya, dia langsung menatap dada saya”. Wanita ini mengaku kolega wanita lainnya juga mengalami hal serupa.
Duta Besar Amerika Serikat Scott Brown saat berbicara dalam sebuah acara yang dia hadiri di Vailima, Samoa, yang berakhir dengan sejumlah tuduhan – Samoa Observer
Editor : Zely Ariane

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Apia, Jubi - Perilaku Duta Besar Amerika Serikat untuk Selandia Baru, Scott Brown, dalam sebuah acara yang dia hadiri di Vailima, Samoa, awal tahun ini digambarkan sebagai “tidak diplomatis”, “kasar” dan “tidak peka budaya”.

Dan sepertinya semakin banyak keluhan terkait perilaku Brown malam itu daripada sekedar kesalahpahaman sederhana seperti yang dilaporkan kemarin.

Kepala dari Kedutaan Besar AS di Samoa, Antone C. Greubel ketika dihubungi mengatakan mereka menanggapi serangkaian tuduhan tersebut dengan serius.

“Departemen Luar Negeri AS menangani dugaan pelecehan ini dengan sangat serius dan kami sedang menyelidiki semuanya secara menyeluruh,” kata pernyataan tersebut. “Kami memastikan semua karyawan kami berstandar tertinggi.”

Greubel mengatakan bahwa Office of Inspector General (Kantor Inspektur Jenderal) melakukan tinjauan independen atas tuduhan-tuduhan tersebut dan melaporkan temuannya ke Departemen LN.

“Jajaran pimpinan senior di Departemen Luar Negeri telah langsung menghubungi Duta Besar Brown dan dia juga telah diberikan saran mengenai standar perilaku baik untuk semua pegawai pemerintah, yang juga mencakup para Duta Besar.”

Menurut berita The Guardian, petugas dari kantor Inspektur Jenderal Departemen Luar Negeri AS telah diterbangkan ke Selandia Baru untuk mewawancarai Brown tentang apa yang terjadi pada saat acara resepsi Peace Corps yang diadakan di Kediaman A.S. di Vailima, Samoa.

Brown mengaku ke situs berita Selandia Baru, Stuff, bahwa dia ditegur karena memuji penampilan beberapa undangan di acara tersebut. Brown juga mengatakan dia sempat mengatakan staf pelayan acara itu cukup baik dan dapat memperoleh ratusan dolar jika mereka bekerja di AS.

Insiden yang menjadi pusat perhatian dalam kontroversi ini adalah pesta yang dihadiri oleh Brown bersama istrinya, Gail Huff, untuk merayakan 50 tahun Peace Corps, (Korps Perdamaian) di Samoa. Itu adalah kunjungan perdananya ke Samoa, dimana dia juga merupakan perwakilan resmi AS di sana.

Pesta itu dimaksudkan sebagai puncak perjalanan Duta Besar, malam yang penuh dengan perayaan. Semua orang bersemangat tinggi. Mereka ditawari bir, anggur, sampanye dan hors d'oeuvres lokal, termasuk irisan talas dengan palusami, lumpia dan sate ayam.

Tapi ada sesuatu yang tidak beres malam itu. Salah satu undangan menggambarkannya sebagai sesuatu yang “tidak biasa”.

Selama dua bulan terakhir, The Guardian telah berbicara dengan berbagai saksi yang menghadiri pesta tersebut dan mengklaim perilaku Duta Besar Scott, duta besar pertama ditunjuk oleh Presiden AS yang baru, Donald Trump, lebih buruk dari yang diakui oleh Scott.

Menurut informasi dua keluhan yang sekarang sedang diselidiki oleh Departemen LN AS terhadap Brown awalnya berasal dari dua sukarelawan perempuan Korps Perdamaian yang menghadiri acara tersebut dan yang juga melayani makanan dan minuman kepada para tamu sebagai cara untuk membalikkan norma budaya umumnya di Samoa dimana orang pribumi Samoa sering menjadi pelayan acara-acara orang-orang barat .

Selain itu banyak juga keluhan lainnya yang melaporkan bahwa perilaku duta besar itu “mengejutkan”, “tidak peka terhadap budaya”, “kasar”, dan “tidak diplomatis”. The Guardian menghubungi lebih dari selusin orang yang menghadiri pesta tersebut dan berbicara dengan sejumlah orang yang mengatakan bahwa dia (Duta Besar Scott) telah membuat mereka merasa tidak nyaman.

Seorang wanita mengatakan bahwa Brown (diduga) mengamati tubuhnya saat mereka diperkenalkan. Wanita ini tidak ingin diidentifikasi, namun mengatakan: “Pertama kali saya bertemu dengannya, dia langsung menatap dada saya,” Dia mengaku bahwa kolega wanita lainnya juga mengalami hal serupa.

“Saya langsung merasa tidak senang dan rasanya tidak nyaman,” katanya.

Seorang mantan relawan Peace Corps yang berjenis kelamin pria menggambarkan suasana yang tegang saat duta besar meneriaki para tamu untuk diam dan mendengarkannya.

“Sangat tidak peka terhadap budaya,” katanya. “Dia melakukan banyak hal dalam 15 detik yang benar-benar membuat saya tidak nyaman, dan saat melihat sekeliling (saya) juga melihat banyak orang lain yang tidak nyaman.

“Setidaknya dua kali, mungkin tiga kali, dia meneriaki semua orang: “Berhenti berbicara, diam, dengarkan aku.’”

Mantan Relawan Peace Corps lainnya menyebut pidato Brown “sangat arogan dan sangat mengejutkan”.

“Banyak orang kecewa dengan nada pidatonya malam itu,” kata peserta lain. “Dia dengan kasar meneriaki semua orang. Setelah pidato itu saya sangat tidak nyaman sehingga saya tidak mendekati dia. Saya tidak menginginkan kontak pribadi dengan dia sama sekali.”

Hari Rabu kemarin (25/10/2017) seorang Juru Bicara Kedutaan AS di Wellington mengatakan: “Duta Besar Brown tidak ingin menambahkan informasi apapun untuk komentar yang telah dia buat dalam wawancara siang ini” dengan sebuah media Selandia Baru.

Brown mengatakan kepada media itu bahwa dia telah memberitahukan kepada beberapa peserta acara bahwa mereka terlihat “cantik” atau “ganteng”, dan mengatakan mereka dapat menghasilkan ratusan dolar dalam industri perhotelan di AS.

Dia dan Huff (istrinya) mengatakan mereka tidak tahu bahwa komentar tersebut akan dianggap menyinggung, dan “pesan moral dari insiden ini” adalah bahwa mereka akan sangat, sangat berhati-hati dengan apa yang akan mereka katakan ke depannya.

“Saya diberitahu oleh orang-orang bahwa saya bukan Scott Brown dari New Hampshire lagi, Anda adalah duta besar, dan Anda harus memiliki kesadaran budaya mengenai berbagai budaya dan kepekaan-kepekaan,” kata Brown kepada media. “Kita berada dalam budaya yang berbeda. Meskipun kita semua berbicara bahasa Inggris, kadang kala kita mengatakan satu hal dan itu dapat berarti sangat berbeda.”

Hubungan antara AS dan Samoa digambarkan sebagai “pertemanan erat”. Konsul AS pertama dikirim ke Apia sejak 1856.

Brown absen dari Forum Para Pemimpin Pasifik yang diadakan di Apia bulan Juli lalu, dua bulan setelah acara ini dan keluhan-keluhan yang mengikutinya. Saat dikonfirmasi, Kedutaan AS menolak mengatakan alasannya.(Samoa Observer/Elisabeth C.Giay)

loading...

Sebelumnya

Film Blackbird diputar di Kepulauan Solomon

Selanjutnya

Prancis tandatangani deklarasi lindungi populasi ikan Paus Pasifik

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe