Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Pengalaman
  3. Berburu layanan kesehatan, orang Koroway masuk kota
  • Senin, 30 Oktober 2017 — 10:51
  • 1828x views

Berburu layanan kesehatan, orang Koroway masuk kota

Ingatan Daniel Katil nampak segar. Ia mengisahkan perjuangan bersama isterinya, Nanol Mauff, jalan kaki 10 jam, mengendong buah hatinya. 
Daniel Katil dan putrinya, Puti Katil, menanti hasil pemeriksaan di RS Dian Harapan - Jubi/IST
Benny Mawel
frans@tabloidjubi.com
Editor : Dewi Wulandari

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Jayapura, Jubi - Ingatan Daniel Katil nampak segar. Ia mengisahkan perjuangan bersama isterinya, Nanol Mauff, jalan kaki 10 jam, mengendong buah hatinya. 

Puti Katil (2 tahun), nama putri Daniel. Puti anak ketiga dari tiga bersaudara. Saudara tuanya, Bertha dan Miles.    

Putri Daniel menderita penyakit aneh. Pipinya bengkak, dipikir bisul, berawal dari benjolan kecil pasca makan ulat sagu.

Benjolan kecil itu terus membesar. Satu minggu, dua minggu, hingga sebulan menjadi lebih besar, dan dari mulut Puti keluar darah dan nanah.

Mama Mauff ambil silet dan membocorkan yang bengkak. Lubang kecil saja tetapi lubang kecil itu, semua yang bengkak itu keluar nanah.

“Tempat bengkak itu jadi lubang besar. Tulang rahang Puti kelihatan. Saya pikir semua tulang akan kelihatan dan anak akan jatuh," kata Daniel kepada Jubi di café Sundshine, Waena, kota Jayapura, Selasa (24/10/2017) pekan lalu.

"Dibantu penginjil GIDI, Dakinus Wandibo, yang biasa membantu warga mendapatkan pengobatan dari Trevor, saya menggendong Puti naik ke atas. Keluar jam 5 pagi, tiba jam 3 sore," ungkap pria, kurang lebih 35 tahun ini.

‘Ke atas’ maksudnya ke pos misionaris Gereja Injili di Indonesia (GIDI). Pdt Trevor dan Isterinya membuka pos pelayanan kesehatan di Danowage. Orang lain juga datang bersama Daniel.  

"Saya ke sana. Trevor lihat ini tidak bisa. Kamu harus ke Jayapura," ungkap dia mengingat kata-kata misionaris asal Amerika Itu.

"Saya bilang makan apa begini Trevor bilang Ko (kamu) tidak usa pikir makan. Tuhan tidak buta. Di sana, kasih sembuh anak baru kembali,” ungkap Daniel mengingat pembicaraan dengan Trevor.

Daniel pulang kembali ke kampungnya. Ia kembali lagi bersama kedua anaknya, Miles dan Bertha, ke Danowage.  Keesokan harinya, 3 Oktober 2017, Daniel terbang ke Jayapura dengan pesawat yang dipesan Pdt Trevor.

Pengalaman Naik Pesawat, antara Takut dan Heran

"Saya lihat ke bawah. Pelay, dunia ini goyang. Saya pikir jatuh. Saya injak pesawat kuat-kuat,"

ungkapnya pria yang pertama keluar Koroway ini.

Pesawat itu tidak jatuh. Pesawat terbang dengan stabil hingga mendarat di bandar udara Sentani, kabupaten Jayapura.

Ketika pesawat mendarat, Soleman Itlay, aktivis kesehatan, siap dengan mobil jemputan. Daniel menggedong putrinya sambil mengusap keringat perjuangan keluar ruang kedatangan.

 

Itlay dengan rekannya menyambut Daniel bersama putrinya menuju mobil. Mobil membawa Daniel bersama putrinya menuju RS Dian Harapan.

“Di mobil saya lihat pohon-pohon ini berputar. Saya heran sekali. Kami sampai ke sini (RS Dian Harapan-Red),” kata Daniel.

Lanjut Itlay, mereka membawa Puti ke RS Dian Harapan atas permintaan Pdt Trevor.

“Kami juga pikir tidak salah ke Dian Harapan karena sudah ada kerja sama dengan KPS,” ujar Itlay.

Daniel mengendong Puti memasuki ruang registrasi. RS Dian Harapan tidak terima begitu saja. Banyak pertanyaan terlontar karena keluarga Daniel Katil tidak punya semua jenis kartu jaminan kesehatan.

Pihak RS bertanya punya kartu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, Kartu Indonesia Sehat (KIS), Kartu Papua Sehat (KPS), dan Kartu Tanda Penduduk (KTP).

“Mereka tanya ada BPJS, KPS, atau KIS? Saya bilang mereka ini ada di hutan sana? Tidak pernah mendapatkan yang namanya KTP, KPS dan BPJS itu,” tegasnya.

“Kamu layani dulu. Saya sudah bicara dengan Dinas Kesehatan Provinsi Papua. Saya komunikasi langsung dan diterima,” ujar Itlay, mengisahkan usahanya meyakinkan RS yang bermoto “Keselamatan pasien adalah hukum utama ini”.  

Jaminan-jaminan itu benar-benar asing bagi Daniel dan keluarganya sejak wilayah itu berkontak dengan dunia luar 1978 silam.  

“Saya tidak punya itu. Dari dulu sampai sekarang tidak ada,” ungkap Daniel.  

Dari Kelas ke ruang VIP

Pertama kali Puti masuk ke ruang inap anak kelas I.  Puti mulai menjalani pengobatan biasa, sebagaimana anak-anak lain yang masuk.

“Ia mulai ditangani,”ujar Itlay, mengisahkan penanganan awal dari pihak rumah sakit.  

Penanganan medis terhadap Puti dibiayai Dinas Kesehatan Provinsi Papua, tetapi tidak menangung biaya hidup ayah, ibu, dan putri 2 tahun itu dengan kakaknya, Thomas.

“Kita tanggung makan keluarga Puti. Ada sejumlah obat kita bayar sendiri, termasuk kejar satu alat ke Sentani karena Dian Harapan punya rusak,” ungkap Itlay.

“Kita bisa biaya itu atas bantuan-bantuan individu yang peduli,” tambah Itlay.  

Dua hari kemudian, perawatan terhadap Puti berubah dratis. Puti, dari ruang kelas I ke ruang Very Important Person (VIP) nomor 1.

Pemindahan itu terjadi melalui saling kontak antar pihak berwenang dari Papua hingga Jakarta. Pihak Jakarta, terutama Presiden mendengar informasi tentang Puti.

Itlay menduga Presiden langsung telpon ke Menteri Kesehatan. Kementerian Kesehatan telpon ke Dinas Kesehatan Provinsi Papua. Dinas Kesehatan kontak Direktur Rumah Sakit Dian Harapan.  

“Direktur rumah sakit hubunggi saya, bapa Daniel untuk video call dengan Jakarta,” kata Soleman.

Kata dia, video call untuk membicarakan proses perawatan Puti bila tidak bisa ditangani di Papua. Jakarta mau Puti dirujuk ke luar Papua.

“Tetapi tidak jadi karena pembicaraan saya, Bapa Daniel, rumah sakit Dian Harapan menyanggupi. Katil dipindahkan ke ruang VIP Nomor I,” kata Itlay.

Kata dia, pasca pemindahan, Dian Harapan melakukan perawatan intensif terhadap Katil di ruang VIP. Pemberian obat, makan minum hingga kunjungan-kunjungan dibatasi.

“Ada yang mau datang lihat, memberi bantuan tetapi saya ditekan tidak boleh banyak tamu karena Puti perlu istirahat. Saya merasa dibatasi tetapi saya bersyukur rumah sakit melakukan penaganan khusus untuk mengobati Puti ,”ungkap dia.

Banyak Orang Sakit

Daniel Katil mengatakan penyakit yang diderita putrinya sudah biasa menimpa anak-anak Koroway. Anak-anak Koroway menderita penyakit ini usai makan ulat sagu.

“Kalau dulu itu banyak. Orang tua hanya jaga sampai sembuh. Saya mau begitu tetapi tidak bisa jadi bawa Puti ke sini,” ungkap pria yang baru pertama kali merasakan makan nasi ini.

Kata dia, ada dua rekan Puti yang sakit dalam waktu yang bersamaan. Tetapi dua lainnya, ada yang meninggal dan ada yang berhasil diobati.

“Kami naik dengan dua anak lain. Satu sudah sembuh kembali ke dusun. Satunya meninggal. Puti dikasih obat tidak mungkin sembuh, Trevor bilang saya ke Jayapura ini,” katanya.

Perjalanan yang sama dilakukan, Imanuel Warita (23 tahun) warga Koroway, distrik Seradala, kabupaten Yahukimo pada 2016 lalu.  Imanuel keluar Koroway bersama Yan Akobiarik dan rekan-rekan Tim Komunitas Peduli Kesehatan Daerah Terpencil (KOPKEDAT) Papua.

Warita keluar Koroway hingga ke Jayapura mencari pengobatan frambusia. Ia berhasil menjalani pemeriksaan dan pengobatan atas bantuan Dinas Kesehatan Provinsi Papua. Ia sudah kembali ke Koroway untuk minum obat program selama 3 tahun  lebih.

“Kita harap Warita sembuh,” ungkap Norbert Bobi, aktivis kesehatan, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih kepada Jurnalis Jubi, Benny Mawel, 2016 silam, dalam wawancaranya di Jayapura.

Kata Akobiarik, ketua KOPKEDAT Papua,  Warita bukan hanya seorang. Ia satu dari puluhan penderita kaki gajah di Seradala. KOPKEDAT berhasil mendata 37 orang Koroway menderita kaki gajah. Kebanyakan penderita ini orang-orang usia produktif.

“Jumlah ini belum dari data Koroway besar. Data ini dari dua kampung di distrik Seradala, kabupaten Yahukimo saja,”ungkapnya serius.

“Kalau mau data Koroway besar sulit karena wilayah rawa dan rimba. Butuh berminggu-minggu untuk ketemu masyarakat yang hidupnya nomaden,” katanya.

Kata dia, kalau mau mendata semua harus mengunakan pesawat. Ongkos sewa pesawat sekali masuk ke wilayah itu dari ibu kota kabupaten Yahukimo, Asmat, Boven Dogoel, dan Mappi sekitar Rp 15 juta.

“Mahal begitu pemerintah mana yang mau bantu,” ujarnya.  

Banyak Orang Meninggal

Menurut Daniel, orang yang menderita seperti putrinya tidak banyak yang diselamatkan. Anak-anak hingga orang Dewasa tidak pernah berumur panjang.  

Ia mencontohkan kisah dua orang yang berobat bersama putrinya berobat.

“Kami berobat ke Pdt Trevor tiga anak. Satunya meninggal, kubur. Saya bawa anak ke ini,” kata Daniel mengisahkan kisah di Danowage.

Imanuel Warita (23), satu pemuda yang kehilangan semua keluarga intinya. Semua keluarga ini meninggal akibat pelayanan kesehatan yang tidak pernah ada.

Pria, anak ketiga dari tiga bersaudara ini bercerita ibundanya meninggal pada 2012. Ibudanya meninggal lima tahun pasca ayahnya meninggal pada 2007

Kata dia, kedua orang tuanya meninggal setelah kedua saudara kandung yang tertua, kaka laki-laki dan perempuannya meninggal dalam tahun 2003.

“Saya yakin mereka tidak akan meninggal kalau ada Puskesmas di sana,” katanya.

Ia tidak pernah tahu penyakit penyebab kematian seluruh keluarganya. Ia hanya tahu semua keluarganya meninggal tanpa penaganan medis.

“Begitu sudah, mau apa lagi (kalau semua sudah meninggal). Saya tinggal sendiri,”ujar pria polos ini kepada penulis,di ruang tamu P3W Padang Bulan, Abepura, kota Jayapura, Papua 2016 silam.

Tim Komunitas Peduli kesehatan Masyarakat daerah Terpencil (KOPKEDAT) Papua merilis data 64 orang meninggal dalam sepanjang 2011-2017. Termasuk keluarga warita.

Jumlah ini termasuk seluruh penduduk suku Koroway yang diperkirakan 4 ribu orang dalam tahun  2010.

Suku Terabaikan

Hasil Riset Yohanes Lekito, pengajar Antropologi Universitas Cenderawasih pada 2009 menyebutkan warga Koroway satu suku terasing di Papua. Suku terasing yang memang jauh dari jangkauan pembangunan pemerintah walaupun jumlah mereka sangat terbatas.                                        

“Jumlah orang Koroway 402 kk dan 3.137 jiwa terdiri dari laki-laki 1.735 jiwa dan perempuan 1.405,” tulis Lekito dalam bukunya Potret Manusia Pohon yang diterbitkan pada 2012.

Kata dia, terlepas dari data itu, jumlah orang Koroway dari berbagai sumber 3 ribu hingg 4 ribu jiwa. Jumlah ini sama dengan laporan survey dengan Helikopter pada 1986-1990. Survei itu memperkirakan orang Koroway 4.000 orang.

Kata dia, dalam perjalanan risetnya, terlihat ada upaya pemerintah berusaha merumahkan warga Koroway. Pemerintah membangun 40 rumah sosial pada 1992/1993. Satu dekade kemudian, pemerintah bangun rumah sosial lagi sekitar 60 rumah pada 2011. 

“Namun potret kehidupan orang Koroway dan tantangan mereka menghadapi peradaban ada sesuatu yang saya anggap sebagai critical point yang perlu disajikan dan dan menjadi bahan refleksi bagi pembangunan,” ungkapnya.

Norbetus Bobi, ketua tim Peduli Kesehatan Masyarakat Rimba Papua, mengatakan warga wilayah hanyalah objek elit politik yang memperjuangkan otonomi khusus dan pemekaran.

“Wilayah ini masuk ke wilayah pemekaran kabupaten dan semua itu dalam rangka otonomi khusus tetapi kebutuhan mereka tidak terpenuhi ini. Merek masih jauh bahkan tidak tersentuh sama sekali,” ujar pria yang juga aktivis orang muda katolik dekenat Jayapura ini.

Karena itu, perlu ada keseriusan dari pemerintah dan elit politik untuk menjalankan pembangunan manusia dan infrastruktur yang mendukung terpenuhinya kebutuhan masyarakat.

“Kalau tidak, semua ini hanya omong kosong. Pembangunan manusia hanya omong kosong di atas penderitaan dan kematian orang Koroway,” tegas mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih ini.

Harus Berubah

Perjalanan Puti Katil dan Imanuel Warita dari Koroway hingga Jayapura adalah perjalanan yang benar-benar menyadarkan orang Kororway sendiri sebagai manusia yang perlu berjuang untuk hidup tetapi juga memperlihatkan penderitaan orang Papua disele-sela kampanye pembangunan Papua melalui otonomi khusus hingga pemekaran.  

Ketika tiba di Jayapura, Daniel Katil, ayah Puti,  mengaku betul-betul melihat perbedaan, jurang pemisah antara orang Koroway dengan orang di Jayapura. Koroway tertinggal jauh dari kehidupan orang di Jayapura yang penuh dengan aturan-aturan hidup tergolong sehat.  

“Kita mandi sehari hanya sekali. Jam 11 siang baru mandi,” ungkap pria yang mengaku sudah belajar mandi dua kali sehari selama tinggal di Jayapura sejak 3 Oktober ini.

Menurut dia, pola penyajian menu makan hingga waktu makan di Koroway juga jauh dari standar yang dialami di kota. Kota Jayapura, dirinya bisa makan sehari tiga kali. Makanan yang dimakan berbeda-beda tetapi Koroway hanya bisa makan sagu bakar, pisang, dan daun genemo saja.

“Kita makan tidak pakai jam, pagi sekali bakar, makan, bawa anjing berburu. Pulang bawa buruan, kembali  bakar batu kita angkat makan, langsung tidur. Begitu saja,” tuturnya.  

Daniel mengatakan dirinya sangat berharap situasi ini berubah. Dirinya bahkan menjadi pelopor perubahan ini.

“Kalau saya pulang, saya akan bilang kita hidup dengan aturan,” ujarnya.

Sejauh sebelum Daniel bermimpi, Gereja Injili di Indonesia, (GIDI) mulai merintisnya. Gereja GIDI melalui penginjilnya melalui berbagai sudur serbu Kororway.

“Kami sudah mulai membangun Koroway sejak 10 tahun lalu,. Kami sudah bawa keluar anak-anak dan sekolahkan mereka. Ada yang sudah kerja di kantor Gubernur,” ungkap Presiden GIDI, Pdt Dorman Wandikbo, dalam jumpa persnya di Waena, 27 Oktober 2017.

Kata dia, pihaknya melakukan semua upaya itu tanpa ada keterlibatan pemerintah yang merebut wilayah itu. Kabupaten Asmat, Yahukimo, Boven Digoel, dan Pegunungan Bintang.

Ketika kasus Puti mengemuka, menjadi perbincangan media, Gubernur Papua, Lukas Enembe mendatangi Danowage pada 26 Oktober. Ketika bertemu dengan warga setempat, Enembe mengatakan pembangunan wilayah dan manusia Koroway berada dalam lima kabupaten yakni Boven Digoel, Yahukimo, Pegunungan Bintang, Asmat, dan Mappi.

Karena itu, ia mengatakan akan memanggil lima bupati tersebut untuk membahas masalah Koroway. 

"Suku Koroway sangat besar dan wilayahnya luas sehingga harus ada solusi untuk siapa yang nantinya membangun puskesmas, sekolah, dan lain sebagainya," ujarnya.

Soleman Itlay mengatakan penderitaan orang Koroway ini menjadi jelas menyuarakan penderitaan orang Koroway yang lebih banyak.  Karena itu, mestinya, pemerintah mencari dan merawat orang Kororway dengan serius. Karena orang Kororway punya hak atas pelayanan kesehatan.

“Sudah otonomi khusus berlaku 17 tahun. Dimana hak orang Koroway atas uang otonomi khusus. Kasih orang Koroway yang menjadi hak orang Koroway,” tegasnya.

“Kalau ada yang bilang tidak ada anggaran, kemana, dana otonomi khusus yang menjadi hak orang Koroway?,” tanyanya. (*)

 

loading...

Sebelumnya

Kembali ke kampung, Agustinus bangun pasar

Selanjutnya

Di ruang sempit dan sederhana, Ahmad Wiyanto membuka usaha meubelnya

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe