close
Iklan Kominfo
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Dunia
  3. Belgia siap beri suaka untuk pemimpin Catalonia
  • Senin, 30 Oktober 2017 — 15:38
  • 1037x views

Belgia siap beri suaka untuk pemimpin Catalonia

Wakil PM Belgia, Alexander De Croo, melontarkan komentar lebih pedas dengan mengatakan bahwa pernyataan Francken tersebut "tidak pintar."
Pemimpin Catalonia, Carles Puigdemont. Express.co.uk/ Jubi
Syam Terrajana
Editor :

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi

 Belgia, Jubi - Menteri Imigrasi Belgia, Theo Francken, membuka kemungkinan negaranya memberikan suaka bagi pemimpin Catalonia, Carles Puigdemont, di tengah krisis politik di Spanyol.

"Itu bukan tidak mungkin, melihat situasi sekarang ini," ujar Francken kepada badan penyiaran VTM, sebagaimana dikutip AFP, Minggu (29/10/2017).

Francken membuka kemungkinan ini setelah Puigdemont dipecat dari jabatannya sebagai Presiden Catalonia karena mendeklarasikan pemisahan diri daerah tersebut dari Spanyol, sesuai dengan hasil referendum.

Tak hanya dipecat, Puigdemont juga terancam diadili atas tuduhan pemberontakan. Terkait kemungkinan tersebut, Francken mengaku tak yakin Spanyol akan memberlakukan sistem peradilan yang baik bagi Puigdemont.

Melihat gejala tersebut, Francken tak menutup kemungkinan Belgia memberikan suaka bagi Puigdemont jika sang mantan presiden Catalonia itu meminta.

"Melihat tekanan dari Madrid dan ancaman hukuman penjara, pertanyaan besar apakah dia masih memiliki kesempatan berkata jujur di hadapan pengadilan," ujarnya kepada AFP.

Esteban Gonzalez Pons selaku juru bicara partai berkuasa di Spanyol, Partai Populer, mengatakan bahwa komentar Francken itu tidak dapat diterima.

"Itu adalah tuduhan serius terhadap sistem hukum Spanyol yang harus segera dikoreksi. [Francken] melanggar prinsip solidaritas dan kerja sama loyal antara negara anggota Uni Eropa," demikian bunyi pernyataan resmi Pons.

Perdana Menteri Belgia, Charles Michel, pun angkat bicara dan mengatakan bahwa memberikan suaka kepada Puigdemont sama sekali tidak ada dalam agenda negaranya.

"Saya meminta Theo Francken tidak menyiramkan minyak ke api yang sudah membara," tutur Michel kepada kantor berita Belga.

Sementara itu, Wakil PM Belgia, Alexander De Croo, melontarkan komentar lebih pedas dengan mengatakan bahwa pernyataan Francken tersebut "tidak pintar."

"Komentar seperti ini tidak membantu dan tidak mewakilkan posisi pemerintah. Kita harus menenangkan warga, bukan menyulut emosi mereka," kata De Croo.

Komentar Francken ini memang sangat berbeda dengan para pejabat di Belgia, juga sebagian besar pemimpin negara-negara anggota Uni Eropa yang sangat jarang dan berhati-hati menyatakan pendapatnya mengenai isu pemisahan diri Catalonia dari Spanyol ini.

Permasalahan ini mulai mengemuka setelah Catalonia menggelar referendum kemerdekaan pada 1 Oktober lalu. Hasil referendum menunjukkan sebagian besar warga Catalonia memilih untuk merdeka dari Spanyol.

Namun, Puigdemont masih sempat menawarkan dialog dengan pemerintah pusat, yang kemudian ditolak mentah-mentah karena referendum itu dianggap tidak sesuai dengan konstitusi.

Setelah diberi waktu oleh Perdana Menteri Spanyol, Mariano Rajoy, untuk membatalkan deklarasi kemerdekaan, Puigdemont tetap teguh pendirian.

Spanyol pun akhirnya mengambil keputusan sesuai dengan Pasal 155 Konstitusi yang memungkinkan perdana menteri mencabut otonomi Catalonia dan mengambil alih daerah tersebut.

Sementara itu, Sehari setelah pemerintah Spanyol mencabut status otonomi Catalonia karena mendeklarasikan kemerdekaan, ratusan ribu warga Barcelona menggelar demo menyerukan persatuan dengan Spanyol.

Mereka berbondong-bondong menolak deklarasi kemerdekaan Catalonia dan menuntut pemimpin Catalan Carles Puigdemont dijebloskan ke penjara.

Marina fernandex, 19 tahun, mahasiswa yang ikut dalam demo kali ini mengatakan dia tidak suka dengan apa yang dilakukan pemerintah Catalan.

"Saya marah dengan apa yang mereka lakukan terhadap negara yang dibangun oleh kakek-nenek saya," kata dia kepada kantor berita AFP, seperti dilansir BBC, Ahad (29/10).

Unjuk rasa yang dimulai pukul 12 siang waktu setempat itu digagas oleh kelompok anti-kemerdekaan Societat Civil Catalana.

Warga berkerumun sambil memasang bendera Spanyol di leher mereka dan berjalan menuju persimpangan Passeig de Gracia.

"Kita semua Catalonia. Akal sehat untuk hidup berdampingan!" seru sebuah tulisan di salah satu spanduk yang dibawa pendemo. (*)

Sumber: CNN Indonesia/Merdeka.com

 

loading...

#

Sebelumnya

Spanyol resmi ambil alih Catalonia

Selanjutnya

Taliban, perlawanan dan semerbak opium

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer
Dunia |— Minggu, 14 Oktober 2018 WP | 4886x views
Polhukam |— Selasa, 09 Oktober 2018 WP | 4318x views
Polhukam |— Minggu, 14 Oktober 2018 WP | 4192x views
Advertorial |— Selasa, 09 Oktober 2018 WP | 3511x views
Lembar Olahraga |— Rabu, 10 Oktober 2018 WP | 2959x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe