TUTUP
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Penkes
  3. KB tidak membatasi kelahiran orang Papua
  • Rabu, 01 November 2017 — 08:50
  • 1027x views

KB tidak membatasi kelahiran orang Papua

Pandangan sebagian orang bahwa program Keluarga Berencana (KB) adalah membatasi orang Papua beranak cucu adalah tidak benar. KB tidak membatasi atau melarang namun mengatur jarak kelahiran demi kesehatan ibu dan anak yang dilahirkan.
Ida Aisyah saat membawakan materi dalam sosialisasi KB di kelurahan Adipura, Kota Jayapura - Jubi/Benny Mawel
Benny Mawel
[email protected]
Editor : Dewi Wulandari

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Jayapura, Jubi – Pandangan sebagian orang bahwa program Keluarga Berencana (KB) adalah membatasi orang Papua beranak cucu adalah tidak benar. KB tidak membatasi atau melarang namun mengatur jarak kelahiran demi kesehatan ibu dan anak yang dilahirkan.

Hal tersebut disampaikan Kepala bidang Keluarga Berencana, Pengendalian Lapangan, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) kota Jayapura, Ida Aisyah Bustama, saat sosialisasi program KB dari BKKBN Pusat, dengan pelaksana kegiatan PT. Star Yudatama bersama mitra anggota DPRI RI Dapil Papua, di kelurahan Adipura, distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura, Selasa (31/10/2017).

Kata dia, KB hanyalah alat yang ditawarkan kepada siapapun untuk mengatur jarak kelahiran anak demi kesehatan ibu dan anak. Ibu yang sehat bisa menjamin hak anak mendapatkan ASI (air susu ibu) dengan kondisi sehat.

Program KB tidak serta merta memaksa orang mengikutinya. Program ini dengan sosialisasinya hanya memberikan pemahaman kepada siapapun.

“Ikut sosialisasi bukan berarti kita tidak paksakan ikut KB. Kita hanya memberikan pemahaman. Yang memutuskan mengikuti KB atau tidak itu ibu-ibu,” ungkapnya dalam penjelasan materinya.

“Kalau mau ikuti program KB, ibu-ibu harus membicarakannya dengan pasangan. Kas tau suami supaya tidak ada masalah,” katanya.

Ketua panitia pelaksana sosialisasi, Amna Abdullah, mengatakan kegiatan ini dalam rangka mengedukasi masyarakat tentang pentingnya mengatur kehidupan keluarga yang berkualitas.

Edukasi ini menjadi perhatian pihaknya lantaran pengetahuan sangat berpengaruh besar pada kehidupan keluarga. Keluarga menjadi yang berkualitas atau tidak itu tergantung pada pengetahuan keluarga itu.

Ketua RT O2 RW 11, kelurahan Adipura, Timotius Mabel, mengatakan sosialisasi memberikan pemahaman supaya warga menentukan sikapnya mengikuti KB atau tidak.

“Kalau baik, bisa mengikutinya. Kalau tidak, ya tidak ikut,” jelasnya disela-sela acara.

Kata dia, dirinya juga tidak bisa memaksakan warga RT yang mengikuti sosialisasi untuk gunakan KB. Gunakan KB atau tidak tergantung setiap pasangan suami isteri.

“Saya sepakat yang menentukan ikut KB atau tidak itu ibu-ibu dan suaminya,” katanya. (*)

 

loading...

Sebelumnya

Pererat silaturahmi, alumni Fakultas Hukum Uncen buka web

Selanjutnya

Seks usia dini berpotensi kena kanker serviks

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer
Mamta |— Minggu, 10 Juni 2018 WP | 3066x views
Otonomi |— Minggu, 10 Juni 2018 WP | 2927x views
Pilkada Papua |— Selasa, 12 Juni 2018 WP | 2494x views
Anim Ha |— Selasa, 12 Juni 2018 WP | 2401x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe
wso shell IndoXploit shell wso shell hacklink hacklink satış hacklink wso shell evden eve nakliyat istanbul nakliyat evden eve nakliyat istanbul evden eve nakliyat evden eve nakliyat istanbul nakliyat