Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Pasifik
  3. Kepercayaan sihir di PNG tumbuh subur karena sistem pendidikan buruk
  • Rabu, 01 November 2017 — 13:50
  • 359x views

Kepercayaan sihir di PNG tumbuh subur karena sistem pendidikan buruk

Penuduh perempuan-perempuan itu berasal dari generasi yang berasal dari sistem pendidikan yang rusak. Kepercayaan takhayul tumbuh subur dimana pemberian layanan pendidikan dan kesehatan tidak memadai.
Puing-puing dari rumah yang dibakar saat serangan yang menargetkan keluarga yang dituduh melakukan sihir di Raguma-Yombi – ABC/ ICRC: Jessie Boylan
Editor : Zely Ariane

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Port Moresby, Jubi - Dini hari tanggal 23 Oktober 2017, seorang perempuan berusia diakhir 40-an tahun diseret keluar dari rumahnya oleh sekelompok orang yang menuduhnya terlibat dalam dunia sihir.

Hingga saat itu, hidup perempuan itu sama seperti mereka, di sebuah gubuk sewaan kecil di daerah pemukiman di Kota Lae, tepi Sungai Bumbu.

Sekelompok orang itu membawa apa yang, menurut pemilik rumah itu, sebagai bambu, yang digunakan untuk berburu penyihir. Menurut mereka, bambu tersebut memberitahukan mereka dimana seorang penyihir berada.

Polisi dipanggil dan datang tepat pada waktunya untuk menyelamatkan wanita itu yang kemudian kami ketahui bernama “Elizabeth” dari Dataran Tinggi Timur. Polisi melepaskan tembakan, membubarkan kerumunan orang dan melarikan wanita itu ke rumah sakit.

Tetangganya, seseorang yang sering berbagi makanan dengannya, pada awalnya bingung saat sekelompok massa menyeretnya ke halaman rumahnya.

“Mereka akan membakarnya di depan rumah saya,” katanya. Dia melanjutkan kisahnya dan saya mendengarkan. Dia mengatakan kepada mereka bahwa dia bisa saja tidak bersalah. Tetangganya yang terdekat berubah menjadi musuhnya setelah beberapa tuduhan tidak berdasar yang dilayangkan.

Dia (tetangganya) lalu membenarkan dan menjelaskan mengapa tuduhan itu mungkin saja benar.

Tetangga terdekat berubah menjadi musuh

“Suatu saat dia membawa bayi saya. Saya rasa dia memakan jantung bayi saya. Saya tidak tahu,” katanya.

Tetangga terdekatnya sekarang telah berubah menjadi musuhnya.

Saat saya berdiri di tepian Sungai Bumbu sambil mendengarkan laki-laki dan perempuan berbicara tentang sanguma meri (penyihir perempuan) saya ingin menyela, untuk mencoba mengkritisi mereka. Tapi saya menahan diri.

Hal seperti ini bukan sesuatu yang bisa Anda jelaskan dan diskusikan dengan orang-orang yang telah tumbuh dalam sistem kepercayaan itu dan yang kepercayannya tidak pernah ditantang sejak kecil.

Dari luar, kita melihat isu yang jelas: kekerasan brutal terhadap perempuan. Kita melihat mentalitas massa dan pelecehan yang menyusulnya. Apa yang mereka lihat? Seorang penyihir yang merupakan ancaman bagi masyarakat dan kehidupan itu sendiri.

Kita berada pada dua gelombang yang berbeda dan terpisah. Kita tidak terhubung. Polisi bisa saja menangkap 100 orang, atau seluruh desa. Tapi ide dan kepercyaaan ini akan tetap bertahan. Kita harus membunuh ide itu dengan ide yang lain.

Kasus Madang yang 'mengerikan'

Pada tahun 2014 di Madang, tujuh orang termasuk dua orang anak tewas dalam serangan di desa mereka. Kelompok penyerang itu mencari tukang sihir yang “bertanggung jawab atas sejumlah kematian” di desa tetangga.

Foto-foto mengerikan diperoleh dari polisi. Tubuh mereka disembelih. Kemudian, seratus pria dan anak laki-laki seusia 10 tahun ditangkap dan dibawa ke kantor polisi Madang untuk diinterogasi.

Setiap orang merasa keadilan mereka telah dilayani, bahwa mereka semua melakukan hal yang benar.

Di tepi Sungai Bumbu, yang paling mengejutkan saya adalah sebagian besar dari penuduh adalah orang-orang yang lebih muda dari saya, berusia 20-an dan 30-an tahun. Ini adalah orang-orang yang Anda anggap akan berpikir ke depan dan cukup berpendidikan untuk tidak menghubungkan tiga kematian yang tidak terkait dengan seorang perempuan secara acak di komunitas mereka.

Mungkin mereka yang meninggal adalah korban setelah minum air dari sungai yang terkontaminasi. Mungkin mereka meninggal karena kegagalan pengobatan TB resisten. Tapi bagaimana mereka (para penuduh) bisa tahu?

Dunia mereka bukanlah tempat dimana bakteri dan virus dapat hidup. Mereka hidup di dunia dimana orang tidak meninggal mendadak dari serangan jantung, atau menderita depresi atau penyakit jiwa. Harus ada alasan untuk kematian itu dan biasanya seseorang yang harus disalahkan.

Saya secara pribadi merasa marah dan jijik karena telah membiarkan negara kita ada dalam keadaan seperti ini.

Sistem pendidikan yang gagal

Kita sedang menuai hasil dari sistem pendidikan yang gagal yang telah diberlakukan pada masyarakat kita sejak tahun 1995. Sistem pendidikan yang membiarkan siswa kelas delapan dan sepuluh yang putus sekolah dan menjadikan mereka guru sekolah dasar dalam beberapa minggu.

Di Provinsi Sandaun, layanan Pendidikan Katolik berjuang untuk menerapkan kebijakan pemerintah yang menuntut agar orang dengan tingkat pendidikan tertinggi di desa (yang diasumsikan konsultan adalah kelas 12), dilatih sebagai guru sekolah dasar.

Di Oksapmin, di mana saya menghabiskan waktu berminggu-minggu dengan tim peneliti untuk berbicara dengan guru dan anggota masyarakat, instruksi pemerintah tersebut sulit dilaksanakan jika anggota masyarakat yang “paling terdidik” adalah yang telah menyelesaikan kelas delapan beberapa tahun yang lalu.

Lebih dari 20 tahun PNG mengorbankan kualitas demi kuantitas untuk memenuhi tujuan pendidikan dasar universal PBB. Itu terlihat bagus secara politik saat kita melaporkan jumlah anak yang sekarang bisa bersekolah. Tapi pedang itu memiliki dua sisi yang sama tajamnya.

Kita menciptakan generasi PNG selama dua dekade yang bahkan tidak bisa membaca setelah kelas tiga. Kita membuang pemikiran kritis dan memilih untuk membiarkan anak-anak kita meniru apa pun yang dikatakan guru dan belajar sesuai dengan kurikulum yang diberikan oleh departemen pendidikan.

Lalu sistem pemerintah kita sendiri mencuri dana yang harusnya dialokasikan ke sektor kesehatan dan pendidikan anak-anak kita. Selama bertahun-tahun, kita melihat dana pendidikan dicuri melalui proyek-proyek yang terbengkalai dan fasilitas kesehatan umum yang menderita.

Penuduh perempuan-perempuan itu berasal dari generasi yang berasal dari sistem pendidikan yang rusak.

Kepercayaan takhayul tumbuh subur dimana pemberian layanan pendidikan dan kesehatan tidak memadai.(Asia Pacific Report/Elisabeth C.Giay)

*Ditulis Scott Waide adalah Kepala bagian EMTV Lae dan mengelola blog My Land, My Country. Artikel ini diterbitkan ulang dengan izin oleh Pacific Media Watch.

loading...

Sebelumnya

Kepercayaan sihir di PNG tumbuh subur karena sistem pendidikan buruk

Selanjutnya

Kesehatan Penduduk Ambae memburuk akibat kualitas udara

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe