Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Pilihan Editor
  3. Diary of disaster: Hari-hari terakhir di Pusat Penahanan Manus
  • Kamis, 02 November 2017 — 13:27
  • 1063x views

Diary of disaster: Hari-hari terakhir di Pusat Penahanan Manus

"Kami tidak dapat tidur nyenyak belakangan ini. Kami siaga apabila ada serangan mendadak. Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada menyaksikan penderitaan orang lain, dan yang lebih parah lagi, tidak memiliki pilihan lain selain menulis tentang mereka. (Tapi) Saya lelah menulis tentang mereka yang telah meninggal dunia disini."
“Free hands” (“Tangan bebas”), sebuah kartun pengungsi asal Palestina dari Suriah, Mahmoud Salameh, yang sebelumnya ditahan di Pusat Penahanan imigrasi Australia di Pulau Manus, PNG, selama 17 bulan – The Guardian/Mahmoud Salameh.
Editor : Zely Ariane

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Pulau Manus, Jubi – Behrouz Boochani adalah seorang jurnalis dan seorang pengungsi Iran yang ditahan di Pulau Manus sejak Agustus 2014. The Guardian mempublikasikan diari Boochani yang disimpannya sebelum penutupan kamp penahanan Selasa lalu (31/102017).

Sekali lagi saya terbangun dari mimpi buruk. Saya lelah karena menulis tentang banyak orang yang meninggal dunia (disini). Kita sekarang adalah salah satu dari kaum yang paling terlupakan di permukaan bumi.

Rabu 25 Oktober

Saya terbangun dengan mimpi buruk hari ini. Akhir-akhir ini saya sering mengalami mimpi buruk, dan inilah mimpi buruk yang membuat saya bangun dari saat saya terbaring di dalam salah satu tenda hangat di dalam kamp Oscar.

Mimpi buruk adalah komponen penting dari realitas kami di sini, bagian penting dari kehidupan seorang pengungsi di pusat penahanan Manus.

Begitu terbangun saya harus bergulat dengan bayang-bayang dari mimpi buruk semalam, lalu saya segera mengunjungi ruang makan untuk sarapan pagi. Beberapa penjaga lokal sedang berda di situ, namun nampan-nampan sarapannya kosong. Penuh amarah, saya hanya menatap para penjaga.

Pada siang hari saya pergi untuk bergabung dalam demonstrasi. Selama lebih dari 80 hari kami telah melakukan demonstrasi setiap hari dengan harapan agar pemerintah tidak mengirimkan kami ke Lorengau.

Kami juga memutuskan untuk berkumpul pada pertemuan pukul 9:00PM di kamp Delta untuk menentukan strategi yang akan kami gunakan setelah 31 Oktober. Pertanyaan utamanya adalah: apa yang harus kita lakukan saat air, listrik dan makanan telah dihentikan?

Kamis 26 Oktober

Seperti biasa, saya bangun sekitar tengah hari. Kerumunan besar pengungsi telah berkumpul di daerah antara kamp Delta dan Fox. Sebuah pohon dengan batang besar dan kuat jatuh ke dalam penjara, merusak pagar.

Ini bukan pertama kalinya ekosistem tropis Manus yang kuat menyerang pusat penahanan Manus. Saya memiliki sebuah teori bahwa apabila ekosistem Manus tidak begitu indah dan murni, mungkin kami semua yang dipenjara di sini sudah menyerah pada semua penyiksaan... kami telah musnah di bawah rezim penyiksaan dan meninggal dunia. 

Selama bertahun-tahun Imigrasi Australia telah menghancurkan alam di pulau ini.

Saya tidak makan siang dan segera pergi untuk ikut demonstrasi. Ini adalah sebuah demonstrasi yang unik karena hujan tetap berguyur dan semua orang basah; terlepas dari itu sejumlah besar pengungsi tetap bergabung dan melakukan protes.

Seorang penjaga Australia mencatat jumlah orang di kerumunan menggunakan perangkat penghitung. Ini adalah tugas harian mereka: menghitung banyaknya dukungan saat demonstrasi dan mengirim infromasi itu ke Canberra.

Saya telah dilanda kelaparan saat jam makan malam tiba. Seperti biasa saya menunggu antrean agar berkurang - saya tidak memiliki kesabaran untuk berdiri dalam antrian panjang. Saat giliran saya tiba semua makanan sudah habis. Dengan sangat marah karena saya bersumpah serapah tentang Peter Dutton (Menteri Imigrasi Australia).

Seorang penjaga menempelkan sebuah kertas di pintu area makan yang berisi pengumuman: “Manus akan ditutup hari Minggu. Semua fasilitas kamp akan dihentikan & paket makanan untuk 2 hari akan dibagikan.”

Satu jam kemudian polisi menyiarkan sebuah pernyataan bahwa mereka siap untuk membantu menutup kamp setelah tanggal 31 Oktober.

Jumat 27 Oktober

Penderitaan akibat lapar membangunkan saya pagi-pagi sekali - saya bangun dari tempat tidur lebih awal hari ini agar saya bisa sarapan. Sudah lebih dari satu bulan sejak rokok berhenti disediakan dan saya merokok tembakau lokal sejak saat itu. Saya pergi ke kamp Oscar, Delta dan Fox beberapa kali sampai saya bertemu dengan beberapa pengungsi Kurdi yang memberikan sedikit tembakau kepada saya.  

Protes telah dimulai. Kami membahas kasus pengadilan yang melibatkan wakil perdana menteri yang menyebabkan dia didiskualifikasi dari jabatannya. Ketika sesuatu terjadi di dunia politik Australia, semua orang berpikir bahwa hal itu mungkin akhirnya akan membawa kita pada kebebasan dari Manus, namun saya menjelaskan kepada beberapa orang bahwa kita seharusnya tidak melupakan iklim politik di Australia dan fakta bahwa kedua pihak besar telah meremehkan kita.

Saya menghubungi penduduk setempat.

Pakar dari Amnesty International dan beberapa jurnalis juga ada di pulau ini. Saya telah berbicara dengan mereka di telepon dan kami berencana bertemu besok.

Saya cemas tentang hari esok. Kecemasan dan stres adalah perasaan paling membahayakan yang dapat dialami seseorang di sini. Saya cemas tentang hari esok. Kami cemas tentang hari esok.

Sabtu 28 Oktober

Sekali lagi, saya terbangun dengan mimpi buruk.

Tak jauh dari tempat tidur saya adalah seorang pengungsi dari Irak, tinggal bersama kami di dalam tenda, yang sangat tertekan dan menderita. Dia adalah seorang insinyur.

Tempat tidur di sisi lain tenda ini ditempati oleh seorang pengungsi Sudan. Dengan antusiasme yang tinggi, dia memanggil saya - seperti biasanya - untuk menunjukkan foto anak perempuannya. Dia sukacita untuk beberapa saat - dia tertawa, menyebutkan nama mereka, menceritakan bahwa anak perempuan tertua berusia delapan tahun dan yang termuda berusia enam tahun - kemudian hanyut kembali dalam kesedihan. Tiga tahun yang lalu istrinya telah terbunuh.

Setelah makan siang saya memanggil beberapa orang di luar penjara untuk membatalkan janji pertemuan dengan mereka.

Situasi di toilet sangat menjijikkan. Penjara itu penuh dengan sampah dan kotoran.

Saat matahari terbenam, para pengungsi mencoba membersihkan perkemahan sebaik mungkin.

Minggu 29 Oktober

Saya bangun jam 1 siang hari ini. Saya mondar-mandir di sepanjang pagar sepanjang malam; seperti apa yang dilakukan oleh sebagian besar pengungsi lainnya. Pasukan polisi dan angkatan laut PNG berjaga-jaga di luar kamp - tampaknya jumlah mereka terus meningkat. Banyak penjaga asal Australia yang telah meninggalkan Manus. Kehadiran militer PNG menimbulkan ketakutan bagi kita.

Kami tidak dapat tidur nyenyak belakangan ini. Kami siaga apabila ada serangan mendadak. Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada menyaksikan penderitaan orang lain, dan yang lebih parah lagi, tidak memiliki pilihan lain selain menulis tentang mereka.

Saya lelah menulis.

Saya lelah menulis tentang mereka yang telah meninggal dunia disini.

Saya ngeri membayangkan menulis lebih banyak tentang ini.(The Guardian/Elisabeth C.Giay)

loading...

Sebelumnya

Apakah minimnya penegakan HAM karena fokus pembangunan infrastruktur?

Selanjutnya

Warga Banti : Kami tidak disandera

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe