Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Polhukam
  3. Pernyataan sikap calon kada diingatkan jangan sekadar formalitas
  • Kamis, 02 November 2017 — 19:21
  • 594x views

Pernyataan sikap calon kada diingatkan jangan sekadar formalitas

"Pernyataan sikap ketika tahapan pilkada, itu harus benar-benar dilaksanakan," kata Emus kepada Jubi, Kamis (2/11/2017).
Ilustrasi pilkada serentak - IST
Arjuna Pademme
harjuna@tabloidjubi.com
Editor : Galuwo

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi - Anggota Komisi I DPR Papua, Emus Gwijangge mengingatkan pasangan bakal calon kepala daerah (kada) tujuh kabupaten di Papua pada pilkada serentak 2018, pernyataan sikap pilkada damai, siap kalah dan menang, yang ditandatangani para pasangan calon kepala daerah jangan hanya sekadar formalitas.

Ia mengatakan, pasangan calon kepala daerah harus benar-benar siap secara mental menerima apa pun hasil pilkada nantinya. Kandidat jangan hanya siap mencalonkan diri untuk menang, tapi tidak siap kalah.

"Pernyataan sikap ketika tahapan pilkada, itu harus benar-benar dilaksanakan," kata Emus kepada Jubi, Kamis (2/11/2017).

Namun katanya, pilkada berjalan sukses tanpa masalah, tidak hanya karena pasangan calon kepala daerah, tapi juga peran tim sukses. "Tim sukses juga harus benar-benar mengerti dan memberikan pemahaman politik kepada pendukung pasangan kandidat yang didukung," ujarnya.

Menurutnya, tim sukses jangan sampai justru menjadi provokator dan menciptakan gesekan antara masyarakat. Tim sukses harus bekerja profesional, karena kandidat yang akan disoroti ketika terjadi hal tak diinginkan.

"Kandidat dan tim sukses yang harus memberikan pendidikan politik yang baik kepada pendukungnya. Jangan lagi ada manufer sana-sini dan masyarakat korban. Selain itu, penyelenggara juga harus netral. Bekerja sesuai tupoksinya," katanya.

Direktur Center for Election and Political Party (CEPP) Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura, Dr. Edward Kocu mengatakan, ada dua hal yang dapat menyebabkan pilkada di Papua, 2018 mendatang berpotensi berakhir konflik.

Ia mengatakan, hal pertama adalah rendahnya kesadaran atau pendidikan politik para elite politik, yang hanya siap mencalonkan diri untuk menang, tidak siap kalah.

"Elite politik ini tidak hanya calon, tapi orang partai politik. Itu juga kan bagian dari bagaimana memicu konflik. Yang dapat menyebabkan konflik itu sebenarnya elite-elite yang tidak siap kalah," kata Edward Kocu kepada Jubi belum lama ini.

Hal kedua menurutnya, adalah penyelenggara atau KPU, jika tidak melaksanakan tugas sesuai mekanisme dan aturan.

"Jadi dua hal ini yang berperan apakah pilkada berpotensi konflik atau tidak. Selain KPU sebagai penyelenggara, juga ada parpol, karena mereka akan terlibat dalam momen itu," ujarnya.

Katanya, konflik akan terjadi kalau elite politik tidak dewasa, tidak cerdas, tidak santun, tidak berintegritas dalam berpolitik.

"Masyarakat inikan hanya korban dari kepentingan elite di atas," katanya. (*)

loading...

Sebelumnya

Rekrutmen praja IPDN 2018 diharap tak berkesan buruk

Selanjutnya

Kampung Nafri di Jayapura dijadikan Kampung Bersih Narkotika

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe