Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Pasifik
  3. Pasifik terancam penyakit tanaman yang menyerang pisang
  • Sabtu, 04 November 2017 — 13:10
  • 532x views

Pasifik terancam penyakit tanaman yang menyerang pisang

Penyakit tanaman tropis ini, Panama Tropis IV, yang mengancam tanaman pisang di Pasifik terdeteksi untuk pertama kalinya di Queensland pada tahun 2015, menyebabkan kekhawatiran besar industri pisang.
Industri pisang Pasifik terancam kena penyakit jamur Panama Tropis IV yang mulai menyapu tanaman pisang siap panen di sebagian besar wilayah Asia Tenggara dan Australia – PINA
PINA
redaksi@tabloidjubi.com
Editor : Zely Ariane

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Port Vila, Jubi - Setelah menerima peringatan mengenai ancaman yang ditimbulkan oleh hama kumbang badak terhadap industri kelapa di Pasifik, kawasan ini kembali mendapat peringatan tentang kemungkinan ancaman hama baru terhadap industri pisang dari penyakit jamur yang telah mulai menyapu tanaman pisang siap panen di sebagian besar wilayah Asia Tenggara dan Australia.

Laporan media internasional mengatakan para ilmuwan di negara-negara berkembang sedang berlomba-lomba menemukan penawar untuk membasmi jamur tersebut yang terancam dapat menghapus perdagangan pisang global dan berpotensi menyebabkan jutaan petani terperosok ke dalam kemiskinan akibat gagal panen.

Kekhawatiran itu muncul baru-baru ini dalam sebuah pertemuan Heads of Agriculture and Forestry Services (Kepala-kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan; HOAFS) Kepulauan Pasifik di Port Vila bulan lalu.

Kerajaan Tonga mulai khawatir apabila penyakit tersebut telah menghancurkan industri pisang di Australia, kemungkinan besar ia dapat dibawa dan menyebar ke Pasifik dan menghapus hasil panen, mempengaruhi pasar ekspor.

Penyakit tanaman tropis ini, Panama Tropis IV, yang mengancam tanaman pisang di Pasifik terdeteksi untuk pertama kalinya di Queensland pada tahun 2015, menyebabkan kekhawatiran besar industri pisang.

Negara-negara Pasifik meminta Komunitas Pasifik (SPC) membantu upaya melindungi industri pisang dari wabah penyakit global ini.

Salah satu kurator Centre for Pacific Crops and Trees (Pusat Tanaman dan Pepohonan Pasifik; CePaCT), Logotonu Meleisea Waqainabete mengatakan kepada PACNEWS di Port Vila, yang mungkin dapat diambil untuk mengatasi wabah penyakit pisang di Pasifik ini adalah melalui kerjasama pembagian sumber daya genetik dengan bank gen serupa di Asia yang telah mengembangkan varietas pisang berketahanan tinggi.

“Lembaga Penelitian Pisang Taiwan telah melakukan program pemuliaan pisang selama 20 tahun untuk mengembangkan varietas yang tahan terhadap penyakit ini.

“Metode penelitian yang mereka gunakan berbeda dengan apa yang kita lakukan di CePaCT sini. Mereka menggunakan bahan kimia yang kita gunakan dalam kultur jaringan untuk mengubah DNA tanaman. Dari jutaan tanaman yang berhasil mereka uji, hanya dua atau tiga varietas tanaman yang dapat melawan penyakit jamur ini sementara yang lainnya mati. Jadi dua atau tiga varietas tanaman yang bertahan akan menjadi fokus budidaya, kata Waqainabete.

“Setelah lebih dari 20 tahun, mereka berhasil mengembangan beberapa varietas dengan daya tahan tinggi yang sekarang telah digunakan di Afrika. Taiwan telah membagikan bibit tanaman pisang berdaya tahan ini kepada negara-negara yang terkena dampak mengenaskan dari penyakir jamur itu.

Waqainabete mengatakan Pasifik dapat memiliki akses ke tanaman pisang resisten ini dari Taiwan berkat kemitraan dengan bank gen lainnya di seluruh dunia melalui Perjanjian Internasional untuk Sumber Daya Genetik Tanaman Pangan dan Pertanian, oleh Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO).

Sembilan negara Pasifik - Kepulauan Cook, Fiji, Kiribati, Palau, Papua Nugini, Republik Kepulauan Marshall, Samoa, Tonga dan Tuvalu adalah negara-negara yang menandatagani Perjanjian itu dan oleh karenanya berkewajiban mengizinkan akses gratis terhadap bahan-bahan tanaman yang ditempatkan pada bank gen.

“Itulah keindahan traktat ini. Traktat ini tidak terbatas hanya untuk negara anggota yang terikat kontrak.

Waqainabete mengatakan pusat sumber daya genetik yang berbasis di Suva juga memegang koleksi ubi talas terbesar di dunia, dan diakui sebagai Pusat Keunggulan. Dengan menggunakan koleksi ini, varietas talas dinamis yang baru dan toleran terhadap penyakit daun hawar bakter (HDB) yang diproduksi di Samoa dan Papua Nugini telah menduduki peringkat terbaik di dunia.

“Inilah pencapaian unik yang mendulang datangnya dukungan global. Sekarang kita adalah tujuan utama untuk pusat berbagai jenis talas di dunia. Kita memiliki lebih dari 1.100 varietas talas dan koleksinya pun masih terus berkembang. Kami masih mengharapkan keragaman hayati baru dari tempat-tempat di Eropa seperti Portugal.

“Kami memiliki peran penting mendukung ketahanan pangan dan gizi. Beberapa penelitian yang dilakukan di masa lalu telah mengidentifikasi bahwa salah satu kelemahan sumber daya genetik di wilayah ini adalah bahwa ia (sumber daya genetik) memiliki kolam gen yang sangat sempit. Itu membuat mereka sangat rentan terhadap ancaman tertentu seperti kerentanan terhadap penyakit  tanaman, dan kurangnya varietas di sana.

Waqainabete mengatakan bahwa pusat tersebut telah memajukan cakupan pekerjaannya ke bidang penyidikjarian genetik di bank gen tersebut dan pemuliaan varietas untuk kelapa dan sukun.

“Pusat ini dibangun untuk menggunakan bioteknologi terbaru guns mendukung perannya dalam konservasi dan penggunaan sumber daya genetik dari Pasifik. Kami sekarang melebarkan sayap untuk mengembangkan laboratorium penyidikjarian DNA dengan dana dari FAO. Idenya adalah untuk melakukan penyidikjarian DNA atas semua bahan dalam koleksi kami.

Pusat Pasifik untuk Tanaman dan Pohon didirikan pada tahun 1998 dengan tujuan untuk membantu Negara-negara dan Wilayah Persemakmuran di Pasifik melestarikan sumber daya genetik kawasan ini dan memberikan akses terhadap keragaman hayati yang mereka perlukan, ketika mereka membutuhkannya. Konservasi adalah bagian penting dari pusat itu, dengan prioritas diberikan pada tanaman pangan pokok yaitu: talas, yam, ubi jalar, pisang, singkong dan sukun.(Elisabeth C.Giay)

loading...

Sebelumnya

Potensi ceruk pasar sektor pariwisata PNG

Selanjutnya

Hasil lokakarya ungkap darurat kekerasan berbasis gender di Pasifik

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe