Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Dunia
  3. Ketika seni jadi senjata untuk melawan..
  • Minggu, 05 November 2017 — 17:42
  • 588x views

Ketika seni jadi senjata untuk melawan..

Seni sebagai alat perlawanan, sudah terbilang akrab digunakan oleh para seniman di Indonesia.
Sebuah karya Banksy di Betlehem. Independent.co.uk/Jubi
Editor : Syam Terrajana

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Genoa,Italia, Jubi - Instalasi seni itu bersandar pada tembok. Ada empat tingkat yang masing-masing di atasnya terletak kain lusuh berwarna abu-abu dan biru muda yang menempel erat. Sepintas, komposisi ini terlihat layaknya karya instalasi yang sering dijumpai. Namun jika diperhatikan lebih seksama, terdapat perbedaan yang bisa tertangkap mata.

Demikian ilustrasi karya salah satu seniman Arte Povera, Jannis Kounellis yang dirilis pada 1968 silam . Arte Povera atau “seni yang miskin” merupakan gerakan seni garda depan (avant-garde) di Eropa pada 1960an. Kata “miskin” mengacu pada penggunaan bahan baku di luar cat minyak, perunggu, maupun marmer berukir.

Sebagai gantinya, para seniman Arte Povera menggunakan bahan yang bisa didapat dari lingkungan keseharian seperti tanah, kain, sampai ranting kayu.

Presentasi karya Arte Povera serupa dengan gerakan seni eksperimental lainnya pada era 1960an. Misinya: menghubungkan kembali kehidupan dan seni.

Konsep Arte Povera sendiri diperkenalkan oleh kurator dan kritikus seni Italia, Germane Celant pada 1967. Celant menekankan bahwa dengan memakai bahan baku yang sifatnya tradisional, sebuah karya seni bisa diciptakan.

Dua bulan selepas acara di Genoa, Celant menulis Arte Povera: Notes for A Guerilla War; sebuah manifesto seni yang di dalamnya berisikan seniman-seniman Arte Povera seperti Giovanni Anselmo, Piero Gilardi, Mario Merz, Gianni Piacentino, Michelangelo Pistoletto, hingga Gilberto Zorio.

Pegiat Arte Povera memanfaatkan teknik yang sama untuk mengkritik lukisan abstrak ekspresionis yang mendominasi dunia seni pada periode tersebut.

Lukisan abstrak ekspresionis dianggap terlalu membatasi emosi dan ekspresi individu. Sebagai penggantinya, mereka menawarkan karya seni yang menyentuh sisi kehidupan sehari-hari alih-alih sekedar abstraksi melalui warna.

Di samping merespons dominasi lukisan abstrak ekspresionis, Arte Povera juga menentang kecenderungan Minimalisme Amerika, yang menurut mereka bertumpu pada spirit modernisme, penguasaan teknologi, komersialisasi nilai lewat sistem galeri saat itu, dan yang lebih penting dari itu semua: impersonal dan berjarak dari kehidupan sehari-hari.

10 September 2016 silam, Yoko Ono mengumumkan sebuah pernyataan yang mengajak seluruh perempuan di dunia untuk berpartisipasi dalam proyek seninya yang bertajuk “Arising". Yoko meminta para perempuan mengirimkan bukti kejahatan dan kekerasan yang pernah mereka alami. 

Pesan itu berbunyi:

"Kepada perempuan dari semua usia, dari semua negara: Anda diundang untuk mengirim surat wasiat penderitaan yang Anda alami sebagai seorang perempuan. 

Tulis wasiat itu dalam bahasa Anda sendiri, dengan kata-kata Anda sendiri, dan seterbuka yang Anda inginkan. Cantumkan nama depan Anda, namun tidak perlu memberikan nama lengkap Anda. 

Kirim juga foto mata Anda. Surat wasiat penderitaan dan foto mata Anda akan dipamerkan dalam karya instalasi saya, 7 Oktober 2016-5 Februari, di Reykjavik ART MUSEUM.

Dalam karya itu, janda mendiang John Lennon ini akan mengkompilasikan kesaksian tertulis beserta foto mata setiap wanita, lalu menjadikannya sepotong gambar. Melalui gambar dan kata-kata, Yoko ingin mengajak sesama perempuan agar saling mendengar dan melihat penderitaan yang mereka alami.

Rektor Institut Kesenian Jakarta (IKJ) Seno Gumira Ajidarma mengatakan bahwa, sebagai produk budaya, kesenian tidak hanya membicarakan soal keindahan.

“Kesenian itu tidak hanya distereotipkan dengan indah, jika demikian bagaimana kita bisa punya Rendra dan Wiji Thukul yang membongkar kebobrokan penguasa,” katanya, dalam seminar “Refleksi, Evaluasi dan Rekomendasi Bidang Kebudayaan Tiga Tahun Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla” di Jogja Plaza Hotel, Yogyakarta, Sabtu (21/10/2017) lalu.

Mereka yang tersingkir dari keadilan struktur sosial itu, kata Seno, tidak pernah akan dijadikan objek lukisan Basuki Abdullah karena tidak indah. Namun kata Seno, seharusnya orang-orang seperti itulah yang patut dibela oleh seniman.

Di sisi lain, Sosiolog Ignas Kleden juga mengatakan sejak Orde Baru, pendidikan di Indonesia telah menjadi sarana mental untuk mendidik ketaatan kepada kekuasaan dan bukan kemandirian berdasarkan akal sehat dan tanggung jawab.

Seni sebagai alat perlawanan, sudah terbilang akrab digunakan oleh para seniman di Indonesia. Pada masa perjuangan kemerdekaan misalnya, pelukis Affandi menggambar poster membangkitkan perlawanan melawan penjajah. Kata-kata dalam poster itu disumbangkan oleh penyair Chairil Anwar.

Bahkan kini, seni juga dipakai oleh kalangan seniman di Bali untuk menolak reklamasi. Ilustrator Alit Ambara menggunakan poster untuk mengabarkan dan mengkritik pelbagai tindak pelanggaran HAM di Indonesia. Kelompok musisi seperti Naviculla, Superman Is Dead, Marjinal hingga Efek Rumah Kaca juga dikenal cukup lantang menjadikan lagu-lagunya sebagai alat kritik atau perlawanan.(*)

Sumber: Tirto.id/Tempo.co

 

loading...

#

Sebelumnya

Dampak bocornya data 46 juta pengguna ponsel Malaysia

Selanjutnya

Menangkapi para pangeran kaya nan korupsi

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe