Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Jawa
  3. Trada kota layak anak di Indonesia!
  • Minggu, 05 November 2017 — 17:47
  • 706x views

Trada kota layak anak di Indonesia!

Tak hanya bullying, kekerasan dan eksploitasi seksual terhadap anak perempuan di Indonesia juga cukup memprihatinkan.
Ilustrasi. Tempo/Jubi
Editor : Syam Terrajana

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jakarta, Jubi - JS, delapan tahun, tak mau lagi masuk sekolah. Persoalannya, siswa di sebuah SD negeri di Pasar Rebo, Jakarta Timur itu kerap diejek oleh rekan-rekannya. Katanya, wajahnya mirip Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. JS bahkan mengalami tindakan kekerasan dari temannya.

“Dia tidak mau masuk sekolah karena di-bully teman-temannya. Dia dijuluki Ahok karena wajahnya, padahal dia dari Nias," Kepala Subdirektorat Kejahatan dan Kekerasan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Hendy F Kurniawan, akhir Oktober lalu.

Kejadian tersebut hangat diperbicangkan di media sosial setelah akun Facebook bernama Bearo Zalukhu menuliskannya. Bearo mengaku sebagai paman dari JS.

Dalam tulisan yang diunggah pada 30 Oktober lalu itu, Bearo mengisahkan kejadian yang menimpa JS. Dia meminta kepada Presiden RI Joko Widodo, Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan KPAI untuk memperhatikan kejadian tersebut.

Handy mengatakan, kepolisian saat ini telah memediasi kasus tersebut. Apalagi, selain bully, JS disebut juga sempat ditusuk menggunakan pulpen di tangannya.

“Sempat ditusuk pulpen tangannya tapi sudah sembuh ," ujarnya.

Saat ini, polisi sedang melakukan pendekatan terhadap JS dan keluarganya supaya mau kembali ke sekolah. JS diketahui berasal dari keluarga tidak mampu.

Menurut Hendy, keluarga JS ingin memindahkannya ke sekolah swasta karena merasa trauma dengan insiden tersebut.

Karena pelaku perundungan masih berusia anak-anak, Hendy menjelaskan, pihaknya hanya akan memberikan pemahaman dan meminta pihak sekolah untuk memperketat pengawasan.

Selain itu, Hendy mengaku, pihaknya sedang melakukan pendekatan psikologis untuk memberikan pemahaman soal tindakan yang salah terhadap anak-anak tersebut.

Tak hanya bullying, kekerasan dan eksploitasi seksual terhadap anak perempuan di Indonesia juga cukup memprihatinkan.

Kelompok End Child Prostitution, Child Pornography and Trafficking of Children for Sexual Purposes (ECPAT) Indonesia melakukan riset mengenai eksploitasi seksual komersial anak (ESKA).

Jaringan global organisasi non-pemerintah ini melakukan pendataan sejak September 2016 hingga September 2017. Mereka menemukan, 508 anak telah menjadi korban ESKA. Mirisnya, 67 persen di antaranya adalah anak perempuan.

Deden Ramadani, Koordinator Riset ECPAT Indonesia mengungkapkan, sebanyak 339 anak perempuan menjadi korban ESKA dengan mayoritas kasus pornografi anak, yakni sebesar 50 persen. Sebanyak 28 persen kasus prostitusi anak dan 21 persen kasus perdagangan anak untuk tujuan seksual.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Susana Yambise, bahkan mengklaim belum ada kota dan kabupaten di Indonesia yang sudah bisa dikatakan layak anak.

"Sudah menjadi tugas bupati dan wali kota di seluruh Indonesia untuk bisa mengimplementasikan 24 indikator [Kota Layak Anak/KLA], itu cukup berat untuk dilakukan. Belum ada kabupaten kota di Indonesia yang dikatakan betul-betul layak anak, masih dalam proses," kata Yohana usai meresmikan Pusat Studi Wanita di Perguruan Tinggi di Yogyakarta, Jumat (13/10/2017) lalu.

Dia menyebutkan beberapa jenis kekerasan terhadap anak, yaitu kekerasan fisik, psikis, seksual dan termasuk penelantaran. Kekerasan yang paling banyak terjadi adalah pencabulan seksual yang dilakukan oleh keluarga dekat dan di lingkungan tempat tinggal anak.

"Kekerasan anak termasuk juga bullying [perundungan] yang diakibatkan kekerasan dalam rumah tangga [KDRT] yang masih cukup tinggi di Indonesia. Perilaku orang tua itu ditiru anak sehingga tradisi kekerasan terhadap anak maupun yang dilakukan anak masih terjadi sampai sekarang," lanjut Yohana.

Menurutnya, dari 516 kabupaten dan kota di Indonesia, baru 323 kabupaten yang sudah berkomitmen menuju Kota Layak Anak. Masih ada sekitar separuh dari jumlah keseluruhan kabupaten kota di Indonesia yang belum menyadari pentingnya mewujudkan Kota Layak Anak.

"Kami akan mendekati pemerintah daerah yang belum launching [KLA] agar bisa mengimplementasikan 24 indikator untuk menurunkan kekerasan terhadap anak, perdagangan manusia, perempuan, termasuk mencegah narkoba dan zat adiktif lainnya," kata Yohana.

Dengan adanya 24 indikator ini, menurut Yohana, hak-hak sipil anak seperti mendapat akta kelahiran sudah harus terpenuhi sehingga anak bisa punya akses kemana pun dan bisa mengembangkan kreativitas dan bakat mereka.

“Sudah ada UU terbaru, yakni UU No 17 Tahun 2016 yang melindungi perempuan dan anak. Sanksinya berat, salah satunya barang siapa melakukan kejahatan seksual terhadap anak-anak maka bisa dikenakan pidana seumur hidup,” kata dia. (*)
 

loading...

#

Sebelumnya

Taman kota, kunci bahagia warga Indonesia

Selanjutnya

Program seribu hari kehidupan anak di Tolikara berlanjut

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe