Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Kalimantan
  3. Menanggulangi kekerasan di lingkungan sekolah
  • Rabu, 08 November 2017 — 16:15
  • 891x views

Menanggulangi kekerasan di lingkungan sekolah

Jika ada terjadi kasus kekerasan di sekolah, klarifikasi pertama adalah ke kepala sekolah terkait, kemudian dinas pendidikan, hingga bupati/walikota untuk pendidikan dasar, dan Gubernur untuk pendidikan menengah. Kami dapat diberitahu, dan kami akan lakukan koordinasi di masing-masing peran dan jenjang tersebut
Ilustrasi. RMOL/ Jubi
Editor : Syam Terrajana

Papua No. 1 News Portal | Jubi
 

Pontianak, Jubi - Akhirnya terjawab sudah video pemukulan yang diduga dilakukan guru terhadap murid yang sempat menjadi viral di media sosial, yang diduga lokasi itu berada di Pangkal Pinang, Bangka Belitung. Ternyata lokasi pemukulan tersebut berada di Pontianak, Kalimantan Barat.

Kapolda Kalimantan Barat, Irjen Pol Erwin Triwanto membenarkan, jika video pemukulan itu terjadi di wilayah hukumnya. Pemukulan itu terjadi bukan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) melainkan ada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Pontianak.

"Video viral itu betul di Pontianak, di SMK Bina Utama dan bukan di SMP," kata Erwin saat dihubungi, Selasa (7/11/2017).

Lebih lanjut, Erwin menyebut bahwa pelaku pemukulan itu bukan dilakukan oleh seorang guru, melainkan juga sama-sama merupakan siswa yang duduk di bangku kelas X di SMK Bina Utama. Pelaku melakukan pemukulan lantaran kesal terhadap korban yang sudah menghapus papan tulis.

"Pelakunya siswa (SMK) juga, jadi sama-sama siswa, kira-kira umur 15 tahun atau 16 tahun. Jadi motifnya itu si pelaku memang dikenal tempramen, kemudian si korban ini menghapus papan tulis. Padahal isi materi di papan tulis sedang dicatat oleh pelaku. Belum selesai, kemudian dihapus marah lah dia," ujarnya.

"Kemudian dipukul, kemudian ada yang melerai kena pukul juga. Tapi permasalahan ini sudah diselesaikan di internal sekolah. Sudah dilaporkan juga ke Dinas Pendidikan. Dan sebetulnya masalahnya sudah selesai," sambungnya.

Erwin pun menjelaskan kenapa seragam dari pelaku itu berbeda dengan korban dan juga berbeda dengan teman yang melerainya. Karena memang tidak diharuskan untuk berseragam di sekolah tersebut. "Jadi memang ada yang pake putih, pake batik. Tidak harus berseragam putih," ucapnya.

Kejadian itu sendiri terjadi, lanjut Erwin, pada saat tak ada kegiatan belajar mengajar di kelas tersebut. Sehingga terlihat tak ada seorang guru pada saat terjadinya pemukulan. "Jadi menjelang pergantian jam pelajaran mau masuk ke jam pelajaran berikutnya," tandasnya.

Sebelumnya, beredar video pemukulan terhadap siswa yang diduga dilakukan oleh oknum guru di media sosial Whatsapp. Dalam video yang berdurasi 37 detik itu terlihat seorang guru secara brutal memukul siswa yang duduk di barisan bangku paling depan sebelah kiri.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) juga angkat bicara terkait dengan beredarnya video tersebut.

“Itu kejadiannya di SMK Bina Utama, Kota Pontianak, Kalimantan Barat, dan itu bukan kekerasan guru kepada siswa, dan juga bukan kekerasan orangtua kepada siswa, melainkan kekerasan antar siswa di kelas. Karena badan siswa tersebut besar, sehingga terlihat seperti orangtua,” kata Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Hamid Muhammad, di kantor Kemendikbud, Jakarta, Selasa (07/11/2017).

Kasus yang terjadi pada Kamis pekan lalu itu merupakan pertengkaran antar siswa kelas 10. “Pertengkaran ini terjadi di kelas 10, salah seorang siswa memukul teman sekelasnya karena diejek oleh teman-temannya, akhirnya dia ngamuk, dan memukul apa saja, kemudian temannya merekam videonya lalu jadi viral,” kata Dirjen Hamid.

Investigasi kasus tersebut dilakukan Kemendikbud bersama Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Tim investigasi melakukan klarifikasi kepada Dinas Pendidikan Provinsi, KPAI Daerah, Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP), Polres, Kepala SMK terkait, dan semua siswa yang terlibat dalam peristiwa tersebut.

“Para siswa yang terlibat langsung di mediasi oleh kepala sekolah, dan mereka didamaikan semua,” ujar Hamid.

Untuk menghindari kasus kekerasan di dalam dunia pendidikan, Kemendikbud telah mengeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 82 tahun 2015, tentang Pencegahan dan Penanggulangan Tindak Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan.

Dalam Permendikbud tersebut, pada Bab II, Pasal 2, diamanatkan bahwa pencegahan dan penanggulangan tindak kekerasan di lingkungan satuan pendidikan dimaksudkan untuk menciptakan kondisi proses pembelajaran yang aman, nyaman, dan menyenangkan. Selanjutnya terhindarnya semua warga sekolah dari unsur-unsur atau tindakan kekerasan.

Pemerintah juga mengajak sekolah untuk menghidupkan pergaulan yang harmonis dan kebersamaan antar peserta didik atau antara peserta didik dengan pendidik, tenaga kependidikan, dan orangtua, serta masyarakat, baik dalam satuan pendidikan maupun antar satuan pendidikan.

Kemendikbud mengajak kepada seluruh pelaku pendidikan untuk mengambil peran pengawasan dalam penanggulangan tindak kekerasan di satuan pendidikan. Sekolah dapat mengambil peran melakukan pengawasan langsung di sekolah.

“Jika ada terjadi kasus kekerasan di sekolah, klarifikasi pertama adalah ke kepala sekolah terkait, kemudian dinas pendidikan, hingga bupati/walikota untuk pendidikan dasar, dan Gubernur untuk pendidikan menengah. Kami dapat diberitahu, dan kami akan lakukan koordinasi di masing-masing peran dan jenjang tersebut,” jelas Dirjen Hamid. (*)

Sumber: Merdeka.com/Tirto.id

 

loading...

#

Sebelumnya

Awas! Anak anak jadi sasaran peredaran narkotika

Selanjutnya

Internet, hoax dan penopang ekonomi negara

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe