Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Jawa
  3. Setya Novanto dan manfaat tertawa
  • Kamis, 09 November 2017 — 16:12
  • 764x views

Setya Novanto dan manfaat tertawa

Tawa tidak hanya dilakukan manusia, namun juga pada golongan kera dan primata. Hal ini juga yang dipercaya bisa membantu mereka bertahan dan beradaptasi dengan lingkungan.
Ilustrasi. Getty Images/iStockphoto/Jubi
Editor : Syam Terrajana

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jakarta, Jubi - Tertawa itu sehat. Tapi ada yang sakit hati melihat orang tertawa. Salah satunya Setya Novanto. Dia melaporkan puluhan akun media sosial yang dituding membuat dan menyebarkan meme miliknya.

"Kalau yang lain ada bukti, kami telusuri, kami tindaklanjuti," kata Kepala Subdit II Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Kombes Pol Asep Safrudin, baru -baru ini.

Menurut dia, dari 32 akun yang dilaporkan ke polisi, ada 9 akun yang diduga telah melakukan penghinaan.

Salah satunya yang dilaporkan adalah Dyann Kemala Arrizqi. Dia mengaku hanya iseng mengedit gambar pasien laki-laki yang terbaring di Rumah Sakit itu.

Ia mengganti alat bantu pernapasan yang dikenakan si pasien dengan topeng hitam menyeramkannya Darth Vader. Sementara itu, di kanan kirinya berdiri Luke Skywalker dan Yodha. Dua tokoh di film Star Wars tersebut berpose layaknya penjaga setia si pasien bertopeng.

Meme editan tersebut beredar viral di kalangan netizen. Satu alasan utama yang membuat meme ini begitu laku di masyarakat dunia maya adalah karena mereka mendapat bahan konyol untuk ditertawakan bersama-sama.

Setya Novanto, si pasien bertopeng itu tidak terima dengan banyaknya meme tentang dirinya. Perkara tertawa-menertawakan bisa menjadi sangat serius.

Tertawa adalah komponen vital untuk menjalankan fungsi sosial dan emosional dalam beradaptasi.

Tawa tidak hanya dilakukan manusia, namun juga pada golongan kera dan primata. Hal ini juga yang dipercaya bisa membantu mereka bertahan dan beradaptasi dengan lingkungan. Karena tertawa adalah kegiatan komunal yang menghadirkan ikatan dan menekan potensi munculnya konflik dalam sebuah komunitas, bagi manusia hingga primata.

Pascal Vrticka dalam Nature Reviews Neuroscience menjelaskan bahwa tertawa dapat meningkatkan fungsi kardiovaskular, memperkuat sistem kekebalan tubuh dan endokrin. Selain itu, William R. Klemm juga menyampaikan bahwa "tertawa adalah obat yang baik".

Ia menjelaskan tertawa membantu mengurangi tekanan darah dan menurunkan tingkat glukosa darah dalam tubuh. Tertawa juga diyakini mampu meringankan stres, menekan rasa cemas, dan meningkatkan rasa nyaman.

Peningkatan imunitas atau kekebalan tubuh terjadi karena adanya transmisi hormon kortisol di otak ketika tertawa. Hormon kortisol ini yang berperan dalam imunitas/kekebalan tubuh dari penyakit.

Ada beberapa bagian otak yang mempunyai tanggungjawab khusus ketika seseorang tertawa. Saat tertawa, diproduksi juga hormon endorphin dan serotonin -- jenis-jenis hormon yang menciptakan rasa senang.

Mereka yang takut ditertawakan

Secara klinis, perkara tertawa tidak berhenti pada hal-hal euforia semata. Terdapat sejumlah kondisi yang membuat otak menjadi tidak nyaman dengan proses tertawa ini. Dalam hal ini, pembahasan tertawa akan melibatkan dua kelompok subjek: mereka yang tertawa dan mereka yang ditertawakan.

Ketidaknyamanan ini dikenal dalam dua istilah, gelatophilia dan gelatophobia. Gelatophilia sendiri merupakan kesenangan menjadi orang yang ditertawakan, sedangkan gelatophobiia adalah perasaan sangat takut ditertawakan.

Kemarahan, atau pengaduan, karena orang lain menertawakan kita boleh jadi merupakan bentuk kecemasan ekstrem akibat gelatophobia. Proyer RT dalam International Journal of Psychology menerangkan gelatophobia hadir karena ketidakmampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan hingga depresi berat, sehingga ia sangat berhati-hati dengan potensi ejekan untuknya.

“Ketakutan yang tidak normal karena diejek timbul dari pengalaman hidup di masa lalu yang pernah diejek atau ditertawakan,” kata Proyer.

Bagi mereka, tawa bisa menjadi hal yang sangat mengganggu, mencemaskan, bahkan menggentarkan. Tawa, lebih tepatnya lagi ditertawakan, bagi mereka sungguh-sungguh situasi yang bukan hanya tak dikehendaki melainkan bahkan bisa memicu fobia.

Proyer menjelaskan gelotophobia juga dikaitkan dengan konektivitas yang buruk antara area otak temporal frontal dan medial. Dua buah organ itulah yang bertanggung jawab untuk memantau dan memproses rangsangan emosional.(*)

Sumber: Tirto.id/Merdeka.com

 

loading...

#

Sebelumnya

TNI-Polri diminta persuasif tangani sandera Tembagapura

Selanjutnya

Tanaman dan hewan khas hutan Papua jadi daya tarik PON XX

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe