Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Seni & Budaya
  3. Dua perupa Papua gelar pameran di Bentara Budaya, Yogyakarta
  • Kamis, 24 Oktober 2016 — 15:48
  • 1836x views

Dua perupa Papua gelar pameran di Bentara Budaya, Yogyakarta

“Sa pikir masalah di Papua sekarang ini karena sudah tidak ada lagi spirit atau jiwa Mambesak di dalam hati orang Papua sendiri,” kata Bertho Vanma kepada Jubi Sabtu (22/10/2016) menyambung pembicaraan dengan Dicky sebelumnya.
Ana ye Ana (tengah), sebuah karya rupa diantara tujuh belas karya rupa lainnya di Remahili, oleh Dicky Takndare dan Albertho Wanma, di Bentara Budaya Yogyakarta, 15-23 Oktober 2016 – Jubi/facebook Ignatius Dicky Takndare
Zely Ariane
Editor :

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

Jayapura, Jubi – Dua pemuda asal Biak dan Sentani, Papua, menggelar pameran seni rupa bertajuk Remahili, di Yogyakarta. Keduanya memfokuskan karya rupa pada hal-hal yang mereka sebut telah “merusak” manusia Papua, seperti pelanggaran HAM, perusakan bumi dan tanah ulayat, serta pergeseran budaya.

Ignasius Dicky Takndare (28) dan Albertho Wanma (30) menggelar ‘Ratapan’ di Bentara Budaya Yogyakarta, sejak 15 sampai 23 Oktober 2016. Dua anak muda seniman rupa asal Papua ini seakan menghantar para pengunjung ke “rumah duka” Papua melalui karya-karyanya.

Berto, pematung muda asal Biak memamerkan lima patung besar hasil karyanya. Sementara Dicky, yang lahir besar di Sentani, tampil lewat delapan lukisan dan empat instalasi. Ada satu karya yang merupakan kolaborasi keduanya.

“Kami pikir semua orang yang mengaku cinta Papua wajib melakukan sesuatu untuk Papua,” ujar Dicky Takndare kepada Jubi, melalui surat elektronik, Kamis (20/10/2016) yang menceritakan latar belakang  dan tujuan digelarnya Remahili di Yogyakarta itu.

Pameran ini dibuka Sabtu (15/10) lalu oleh ANTI TANK, seorang aktivis sosial dan seniman yang cukup terkenal di Yogyakarta karena karya-karya perlawanannya. Sementara delapan belas karya tersebut dikurasi oleh Andre Tanama, seniman dan dosen seni rupa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Hadir juga Romo Sindhunata, mewakili Bentara Budaya, seorang Pastor Katholik dan budayawan terkemuka di Jawa, yang juga turut berbicara dalam pembukaan.

Menurut Dicky, sejak pembukaan penonton cukup banyak dan antusias. “Masyarakat seni rupa, awam, juga banyak aktivis-aktivis sosial. Penonton sangat antusias, bahkan Romo Sindhu bilang pada sambutannya, di Jogja baru kali ini secara profesional anak Papua buat pameran seperti ini,” kata Dicky yang sejak kecil sudah gemar melukis itu.

Dicky menceritakan hal yang membuatnya sangat tersentuh di pembukaan acara pameran tersebut. “Banyak pengakuan dari yang hadir mereka merasakan aura yang cukup kuat dalam ruangan pameran, seperti ikut bersedih. Misalnya ada satu Mas-mas yang menangis lihat karya kami, juga ada satu Mbak-mbak yang sama sekali tidak paham tentang masalah Papua, tapi menangis sampai isak-isak di depan karya,” ujar Dicky.

Menurut dia, itulah Remahili, “kita datang ke tempat kedukaan dan ikut merasakan duka yang rekan kita rasakan.”

“Kami prihatin dengan segala permasalahan yang terjadi di Papua, kalau mau dibahas tra habis-habisnya. Jadi untuk menuangkan segala kegelisahan dan perasaan, kami pakai media seni rupa. Semua karya yang kami dua buat dalam pameran ini membahas macam-macam masalah yang terjadi di Tanah Papua,” kata dia sambil menjelaskan proses Remahili dengan sukacita.

Menurut Dicky, kata Remahili itu berasal dari bahasa Sentani yang artinya Ratapan. “Itu adalah budaya masyarakat Sentani, kalau salah seorang anggota keluarga meninggal, dong akan meratap dengan berbagai cara, seperti bersenandung atau menyanyi, dan ada juga yang menari-menari sambil meratap,” ujarnya.

Tetapi dalam pameran tersebut, Dicky dan Berto sebetulnya tidak membahas tentang Remahili itu sendiri, melainkan spirit atau jiwa Remahili yang diambil sebagai sebuah metafora, “pameran ini adalah sebuah ‘Remahili’ tersendiri untuk meratapi masalah-masalah yang terjadi di Papua,” kata Dicky.

‘Fafisu Mambesak’ dan ‘Look Inside You’

“Sa pikir masalah di Papua sekarang ini karena sudah tidak ada lagi spirit atau jiwa Mambesak di dalam hati orang Papua sendiri,” kata Bertho Vanma kepada Jubi Sabtu (22/10/2016) menyambung pembicaraan dengan Dicky sebelumnya.

Bertho merasa semakin hari semakin tidak ada rasa saling menghargai, menghormati sesama manusia, kelompok, suku dan daerah di Papua sendiri. “Masing-masing jalan sendiri, utamakan de pu keluarga, suku, dll, akhirnya kitong jadi kacau sendiri, gampang dipengaruhi, dan banyak potensi konflik bisa timbul karena situasi seperti ini,” kata Bertho.

Atas refleksi itulah lahir ‘Fafisu Mambesak’ karya yang paling berkesan bagi Bertho.

Gitar hitam besar dengan rongga mulut manusia ditengah baginya adalah pesan suara agar generasi muda Papua mulai menyadari situasi tersebut dan belajar menumbuhkan jiwa Mambesak dalam diri masing masing. “Supaya kitong jadi lebih baik. Sa berharap sekali agar suara ini bisa memotivasi orang-orang di sana (di Papua),” katanya.

Juga bercermin dari fenomena generasi tersebut Dicky memilih membuat karya instalasi yang berjudul “Look Inside You”. Baginya karya itu bertujuan untuk mengajak anak-anak Papua berefleksi dan melihat kembali ke dalam diri mereka sendiri.

“Siapa kita, siapa leluhur kita, apa yang kita sudah lakukan, bagaimana kita merespon segala hal yang datang dari luar, dalam bentuk ideologi, budaya, produk atau apapun itu,” kata Dicky menjelaskan karyanya yang menurut dia paling berkesan itu.

‘Look Inside You’ adalah peti mati berhiaskan bunga, peluru, berisi totem dengan tongsis untuk gagang memotret. “Ini punya makna dan narasinya masing-masing. Semacam lihat ke dalam ko pu diri, seberapa Papua ko itu,” ungkap Dicky sambil mengritik banyak orang suka "selfie" memandang bayangan dirinya sendiri, tetapi hanya sedikit yang "berefleksi".

“Ko harus jadi anak Papua yang kerap berefleksi, kira-kira itu pesannya,” ujarnya.

Suara ketidakadilan

Biasanya karya-karya seni bertema Papua yang dipertunjukkan di Pulau Jawa mengambil tema  keindahan alam dan eksotisme kebudayaan Papua. Tapi kedua seniman didikan Insitut Seni Indonesia (ISI) Yogayakarta ini memilih menampilkan potret dan cerita manusia Papua beserta derita-deritanya.

“Sa kalau ketemu orang non Papua di luar Papua sering sa tanya, apa yang kamu suka dari Papua? Mereka akan bilang alamnya, kekayaan alamnya, dll yang indah-indah. Lalu sa tanya, baru manusianya? Hampir tidak ada yang bilang suka orangnya yang hitam keriting,” ujar Bertho dengan nada agak kesal.

Bagi Bertho, ucapan-ucapan itu hanya merefleksikan makna Papua yang tertanam dalam benak hampir setiap orang-orang yang ia temui di luar Papua. “Mereka pikir Papua itu indah, aman, nyaman, kaya, tapi tidak semua tahu kalau Papua sendiri sebenarnya menderita. Ini jadi salah satu alasan kita dua pilih tema (Remahili) ini,” ungkap Berto terkait latar belakang pilihan-pilihan tema karya mereka.

Sementara bagi Dicky, seni itu bahasa, dan bahasa seni itu universal, semua orang dari latar belakang apapun bisa menangkap bahasa itu. Sehingga baginya seni punya kekuatan dan daya yang lebih besar dari sekadar nilai fungsional.

“Masalah kenapa kitong angkat isu ketidakadilan di Papua, itu bagi saya lebih ke arah tanggung jawab moral secara pribadi. Ko manusia dan terjadi tragedi kemanusiaan (di Papua) terus ko diam, itu bagi saya memalukan,” tegasnya.

Dicky mengaku tidak ambil pusing kalau orang-orang akan nilai gerakan mereka tersebut dengan berbagai macam praduga dan sudut pandang. “Kami mau bilang bahwa masalah Papua itu masalah kemanusiaan. Kami melihat semua ini dengan kacamata itu,” kata Dicky.

Mereka memilih memfokuskan karya-karya mereka pada hal-hal yang mereka sebut “merusak” manusia Papua, seperti pelanggaran HAM, perusakan bumi dan tanah ulayat, dan pergeseran budaya.

Ketika disinggung apakah pilihan waktu pameran itu terkait situasi Yogyakarta yang belakangan ‘panas’ oleh rasisme terhadap orang-orang Papua, Bertho tegaskan tidak ada hubungannya. Persiapan pameran sudah mereka lakukan satu tahun sebelum peristiwa ‘pengepungan Asrama Kamasan’ terjadi Juli lalu.

“Tapi positifnya pameran ini bisa menjadi jawaban positif atas stigma negatif tentang suku kita di Jogja sendiri,” kata Bertho santai.

Menurut Bertho, Jogja adalah salah satu daerah yang sangat menghormati seni, dan dengan bahasa seni (khususnys seni rupa) mereka berharap lebih dapat berkomunikasi secara jujur dan dapat diterima oleh khalayak di Yogyakarta.

“Diskrimisani ras disini sa pikir tidak sejahat yang teman-teman dengar di sana (di Papua—ed). Sa di sini tinggal dan hidup di kampung dan tidak banyak persoalan ras disini. Itu masyarakat asli orang kampung. Yang bikin diskriminasi itu justru orang kota, akademisi, ormas, orpol dll, yang pasti punya kepentingan di balik itu,” kata Bertho lagi.

Selain itu, Dicky menambahkan karena Yogyakarta adalah ibu kota seni rupa, kota itu memberi tempat istimewa bagi profesi seniman.

“Orang Jogja sadar melestarikan seni budaya berarti harus memberi tempat lebih buat pegiat seni dan budaya. Apresiasi orang di sini terhadap seni sangat tinggi, yang sa tra lihat di kota-kota lainnya,” ujar Dicky sambil mengapresiasi Bentara Budaya Yogyakarta yang telah memberikan mereka tempat buat berpameran, serta bantuan finansial dari Dinas Kebudayaan Provinsi DIY.

“Kami ini su tra bisa hitung berapa proposal permohonan dana yang kami kirim ke Pemda-pemda di Papua tapi sama sekali tra diperhatikan, bantuan finansial paling vital yang memungkinkan pameran ini terjadi adalah dari Dinas Kebudayaan Provinsi DIY,” kata dia.

“Dengan seni ko bisa hidup”

Dicky maupun Bertho sama-sama mengagumi Arnold Ap (Mambesak) dan Black Brothers. “Kalau seniman non Papua, belum ada, masih lihat-lihat,” kata Bertho sambil tertawa.

Keduanya seperti dilahirkan untuk jadi seniman. Dicky sejak kecil sudah melukis dan ingin sekali jadi seniman. Sementara disekitarnya waktu itu banyak orang yang apatis pada bidang seni. Tapi dia tidak peduli.

Dicky pernah belajar di Sanggar Khembili Art di Sentani dari kelas 6 SD sampai SMA kelas 1. Sanggar itu yang membuatnya aktif di macam-macam kegiatan seni rupa. “Lulus SMA sa tra lihat ada bidang lain yang sa bisa ambil selain seni rupa, jadi atas saran guru sa di sanggar, sa berangkat ke Jogja,” kenangnya.

Masuk ISI tahun 2006, lalu Dicky membentuk Phuyakha Art Studio di tahun 2008, kegiatannya waktu itu hanya memberi kursus gratis buat anak-anak kampung sekitar dan pengungsi Merapi waktu itu.

“Tahun 2012 saya bentuk Ikatan Keluarga Mahasiswa Timur (IKMT) ISI Yogyakarta, itu kumpulan mahasiswa ISI asal daerah-daerah Indonesia Timur seperti Papua, Maluku, dan NTT, beberapa teman dari Sulawesi juga terlibat,” ujar Dicky.

Sementara Bertho yang lahir besar di Biak hingga SMA itu ternyata sempat menjadi pemain bola bersama tim PSBS Biak di tahun 2005 sampai 2009, “setelah istirahat dari bola baru sa lanjut kuliah di STSP Jayapura (sekarang ISBI Tanah Papua),” ungkapnya.

Simson Wanma adalah orang pertama yang memperkenalkan Bertho pada seni, tradisi, dan budaya suku Byak, “Sa pu Bapa Simson Wanma, (almarhum) beliau seorang perawat tapi juga seorang seniman lokal,” kenang Bertho yang pertama kali berkarya ketika membuat relief patung Korwar untuk tugas pelajaran seni budaya saat dia kelas 3 SD.

Menginjak SMP, Bertho mulai ikut berbagai lomba dan festival. “SMP sa ikut lomba gambar Ki Hajar Dewantoro saat HUT Pendidikan, lomba lukis HUT BRI, dan beberapa kali Festival Budaya di Biak.”

Beberapa hasil karyanya antara lain relief motif dan gambar Yesus di Gereja Eben Haizer di Biak, Patung Yesus di Tugu masuknya Injil di Nafri Jayapura, dan beberapa kali menjadi illustrator untuk penerbitan buku.

“Beberapa sa lupa judulnya, tapi ada buku tentang ekonomi kecil rakyat Papua karangan Ibu/istri Pendeta Reiner di Jayapura, lalu buku cerita rakyat proyeknya Dinas Pendidikan untuk buta aksara yang sa lupa nama lembaganya, tapi ingat bahwa projek selesai sa tidak dapat apa-apa, uang hilang,” ceritanya sambil tertawa.

Itu proyek terakhirnya hingga berangkat ke Yogyakarta dengan biaya sendiri untuk tes masuk ISI yang menurutnya tidak gampang. “Tapi syukur sa lolos dan kuliah sampai sekarang,” ujar Bertho yang juga sempat ikut program pertukaran pelajar satu semester di Eger, Hungaria dan bercita-cita hendak membangun monumen Mambesak di Papua.

Kolaborasi kerja rupa mereka berdua untuk pertama kalinya dalam Remahili ini mengandung satu pesan ke luar yang bagi mereka sangat penting. "Selain ingin bicara tentang Papua kepada banyak orang, kami mau orang tahu kalo anak-anak Papua juga bisa bersaing di dunia seni rupa professional,” kata Dicky dengan tegas.

Selain itu mereka sangat berharap anak-anak muda di Papua yang punya potensi di bidang seni bisa termotivasi untuk tidak takut mengambil seni sebagai pilihan profesional.

“Kami sementara ini berdua saja, karena memang anak Papua di seni rupa ISI cuma kami dua. Kami sementara cari-cari anak-anak Papua yang di Jogja sini yang punya potensi seni rupa untuk kami gerak sama-sama,” ujar Bertho.

Keduanya ingin anak-anak muda Papua, khususnya, melestarikan dan bangga akan seni budaya mereka sendiri, serta bekerja keras untuk mengembangkannya.

“Sa cuma mau bilang lestarikan, kembangkan kalian punya kekayaan yang satu ini. Kalau kam tra bertindak, jangan marah kalau kalian punya kesenian, kebudayaan diolah, dikembangkan, di pertunjukkan oleh orang lain,” ujar Bertho.

Dan atas dasar itu, Dicky juga berpesan jangan ragu untuk menjadi seniman sebagai pilihan profesional.

“Dengan seni ko bisa hidup. Jang pernah ragu untuk pilih seni sebagai ko pu pilihan profesional. Kalau kam pernah dengar seorang tukang kayu dari Timur Tengah bilang: ‘tuaian memang banyak tapi pekerja sedikit" itu sudah keadaan seni dan budaya Papua,” ujarnya.(*)

 

loading...

Sebelumnya

Parlemen akan ajukan mosi tidak percaya pada PM Tonga

Selanjutnya

Petugas damkar Fiji dipaksa masuk serikat buatan pemerintah

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe